Max Euwe Melawan 3 Pecatur Karo (1930)

by
Max Euwe Melawan 3 Pecatur Karo

Toemboek Sinoelinngga (dari Bintang Meriah) direncanakan akan tur ke Jawa untuk bermain catur dengan pemain-pemain catur dari klub-klub catur di Jawa. Ini adalah harapan dari kolumnis catur dari Koran “Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië” yang dituliskannya di media cetaknya dan dikutip oleh Koran De Sumatra Post pada tanggal  03-12-1925.  Namun admin Karosiadi.com belum mendapatkan informasi akan rencana itu.

Sambungan dari bahagian : Toemboek Sinoelingga akan Bertanding ke Jawa

 

Barulah pada tanggal 20-08-1930 koran De Sumatra Post menuliskan kabar akan kedatangan Grandmaster Dr. Max Euwe dari Belanda ke Medan. Max Euwe di Medan akan berhadapan dengan 3 pecatur dari Medansche Schaakclub dan 3 pecatur dari Tanah Karo.

Pada tanggal 19-08-1930  sekitar pukul setengah delapan malam, Ketua Klub Medansche Schaak, Dr. Grijns, menyambut semua yang hadir dan terutama Mr. Euwe dan istrinya. Kunjungan Mr. Euwe adalah sebuah kehormatan. Seorang master catur yang terkenal bisa hadir untuk bermain catur di klub ini adalah sebuah kebanggaan.

Dalam pidatonya, Dr. Grijins menyampaikan kebahagiaan atas kehadiran Euwe yang direncanakan berada di klub ini selama 2 hari. Dan kedatangannya bertepatan dengan perayaan 1 tahun berdirinya Medansche Schaakclub, dan Federasi Catur Hindia Belanda tahun ini berusia 15 tahun. Dr. Grijns kemudian bercerita, awalnya anggota Medansche Chess Club hanya 4 hingga 5 anggota.

Selanjutnya, Dr. Grijns berharap semoga kedatangan ke Pantai Timur Sumatera ini menyenangkan, hal ini terutama ditujukan pada istri Euwe, yang setia menghadiri tur selama kunjungan ke Hindia Belanda mendampingi suaminya. Semoga ada kenangan yang dapat dibanggakan dari pantai timur.

Dr. Max Euwe, yang saat itu diberi kesempatan berpidato, mengatakan ia mengucapkan terima kasih atas penerimaan yang luar biasa. Dan terimakasih atas sambutan dari wali kota Medan. Ia memuji walikota dengan kota Medan yang indah ini, selanjutya Euwe bercerita panjang lebar tentang catur dan mengatur posisinya.

Walikota Medan juga diberi kesempatan berpidato. Dengan jenaka, walikota menyatakan Dr. Euwe dan Mrs. Euwe sudah berada dalam “posisi” yang tepat. Ia mengutip ucapan “posisi” dan “rencana” yang diucap Euwe dalam pidatonya,

Walikota berpendapat, bagaimanapun setiap orang yang  datang ke sini pasti demi membutuhkan pengembangan pikiran, sungguh-sungguh dalam posisi itu.  Medansche Chess Club menjemput Euwe, merencanakan dan mengambil keuntungan darinya sebanyak yang mereka bisa.

Dan kami akan memberi Mr. Euwe dan istri segala hal yang bisa diberikan. Dan selanjutnya kenangan di Pantai Timur selanjutnya di Jawa dapat sampai kepada anak-anak yang tinggal di Belanda, tambah walikota.

Selanjutnya pertandingan catur dimulai. Di aula kecil terdapat enam papan catur, dimana Mr. Euwe akan berhadapan dengan pecatur  J.F. Lartzius, Basoeki dan dr. A.  Meurs. Dan juga pecatur-pecatur dari dataran tinggi Karo yakni : Si Toemboek, Si Ngoekoem dan Si Prang.

Dari kanan ke kiri : Basoeki, dr. A. Meurs. Si Toemboek, Si Ngoekoem dan Si Prang. J.F. Lartzius tidak tampak utuh. Max Euwe berdiri menghadap mereka. Koran De Sumatra Post tanggal 22-08-1930.

Controleur di Kaban Djahe adalah yang mengusahakan agar pertandingan persahabatan dapat dihadiri oleh Toemboek Sinoelingga (dari Bintang Meriah) , Ngoekoem Sembiring (dari Sarinembah) dan Prang (dari Lau Baleng).

Pecatur Prang yang juga berarti Perang (oorlog) memberi Dr Euwe kesulitan terbesar. Euwe dengan bidak hitam dan memperoleh perlawanan yang dirasanya akan menjadi salah satu yang langka dalam karir caturnya yang panjang. Euwe menghabiskan banyak waktu melawannya dan kadang terkecoh dengan pengorbanan bidak Prang.

Ngoekoem bermain dengan bidak hitam. Euwe mendapatkan pembukaan yang belum pernah ditemukannya. Namun Euwe memiliki memiliki pertahanan yang kuat, yang membuat Ngoekoem kewalahan. Partai yang harusnya berakhir lama adalah pertama yang selesai.

Toemboek dengan penuh semangat mengambil alih penaklukan pion. Tuan Belanda itu membiarkannya diam-diam dan memainkan penaklukan kualitas, yang tidak dihindarinya.

Pertandingan disaksikan oleh banyak orang. Minat dewan catur Medan pada permainan Prang sangat besar. Euwe mengagumi permainan pecatur Karo yang mengandalkan intuisinya dan mereka adalah kekuatan kelas utama bagi pecatur Belanda.

Dr. Euwe berharap bisa bermain kembali dengan para pecatur Karo ini. Dewan Medansche Schaakclub  berjanji akan memenuhi keinginannya itu.

Dari 6 lawannya, Euwe berhasil memenangkan 5 pertandingan dan 1 imbang melawan Toemboek Sinoelingga dari desa Bintang Meriah (Karo).

Berikut hasilnya :

Max Euwe imbang melawan Toemboek Sinoelingga. Koran De Sumatra Post, 20-08-1930

 

Bersambung