Masri Singarimbun : Menjadi Perempuan

by
Perempuan Karo
Perempuan Karo

……kalau diturunkan lagi ke dunia dan lalu saya disuruh memilih apakah mau jadi laki-laki atau perempuan, maka tidak mudah bagi saya mengambil keputusan.

 

Menjadi Perempuan

oleh Masri Singarimbun

(Majalah Tempo, 08 April 1978}
 

Setelah berpulang ke alam baka, apabila Tuhan Yang Mahakuasa memberikan kesempatan, apakah anda masih ingin dilahirkan sebagai manusia? Bagi saya sendiri, hidup yang sekali ini sudah cukup rasanya. Tidak usah ditambah lagi. Tetapi kalau diturunkan lagi ke dunia dan lalu saya disuruh memilih apakah mau jadi laki-laki atau perempuan, maka tidak mudah bagi saya mengambil keputusan.

Namun satu hal sudah jelas: saya tidak ingin dilahirkan sebagai wadam. Mereka diperlakukan secara tidak adil di kolong langit ini. Manusia tapal batas. Serba salah, serba timpang, serba dianggap aneh. Seolah tidak ada norma yang sepadan untuk mereka. Dan manusia seperti Ali Sadikin sedikit sekali di dunia ini, yang mau mencoba memberi tempat kepada para wadam.

Kiranya kalau mau berkarier dalam hidup lebih baik memilih jadi laki-laki saja. Bukankah para pemimpin dan elite hampir semuanya laki-laki? Kedudukan sebagai anggota MPR, DPR, pamong pada setiap tingkat administrasi, jenderal, dosen di universitas, anggota senat dan anggota penyantun, boleh dibilang diborong oleh laki-laki.

Laki-laki yang mengambil pelbagai keputusan penting bagi masyarakat, baik keputusan yang jitu maupun yang meleset. Namun, pada hakekatnya, apakah laki-laki lebih utuh daripada perempuan? Apakah pula kekuasaan identik dengan keutuhan? Apakah malah tidak sebaliknya, laki-laki justru merupakan makhluk yang rapuh?

Kerapuhan mereka menuntut kompensasi, bernama kejantanan dan kepemimpinan. Telah saya lihat di desa saya dan desa lain, perempuan lebih awet. Umur laki-laki lebih pendek. Kalau usia sudah melewati 60 tahun, lebih banyak perempuan yang tersisa. Malaikatulmaut, setahu apa, lebih gemar merenggut nyawa laki-laki, yang katanya lebih jantan itu. Ilmu demografi menguatkan pengamatan ini.

Di Indonesia harapan hidup untuk laki-laki sekitar 45 tahun dan perempuan 50 tahun. Di Perancis 68 tahun bagi laki-laki dan 75 tahun bagi perempuan. Konon kabarnya, kerapuhan laki-laki juga berlaku pada taraf awal kehidupan, pada taraf benih. Sperma dengan kromosom Y, calon laki-laki, lebih banyak tingkahnya tapi lebih pendek umurnya, dibanding dengan kromosom X, calon perempuan.

Perempuan, menurut para ahli, lebih tahan menghadapi pelbagai goncangan di dalam kehidupan. Jika dipakai “teori ambang pintu,” pada taraf kegoncangan dan tekanan tertentu jiwa laki-laki sudah mulai gawat sedangkan jiwa perempuan masih terkendalikan. Kalau dipakai istilah yang populer sekarang, ketahanan mental perempuan lebih tinggi.

Keutuhan perempuan mengandung beberapa implikasi. Satu di antaranya, kesempatan yang lebih besar bagi mereka menikmati hari tua. Begitu banyak ibu dan nenek yang sempat mengecap kenikmatan hidup melihat anak dan cucu sudah “jadi” dan mapan. Pengalaman tersebut tidak sempat dikenyam suami mereka yang duluan pulang ke rahmatullah.

Maka tidak mengherankan kalau sarjana seperti Robert Briffault menulis buku The Mothers sampai tiga jilid (1927). Melalui bukti-bukti historis Briffault berargumentasi bahwa hasil kerja dan penemuan-penemuan perempuan pada awal peradaban membuat kehidupan laki-laki menjadi terjamin, dalam suatu tata masyarakat di mana perempuan memegang kekuasaan. Kemudian dengan segala akalnya laki-laki mengambil alih kekuasaan itu. Ada proses komersialisasi di situ, lalu perempuan tunduk pada laki-laki sampai sekarang.

Tiga puluh lima tahun kemudian muncul buku Ainslie Montagu berjudul The natural superiority of women (1962). Di dalamnya dipaparkan perihal keunggulan wanita secara alamiah, dibandingkan dengan laki-laki. Simone de Beauvoir berpendapat lain dengan Briffault. Katanya, masyarakat senantiasa dalam cengkeraman laki-laki. Tidak pernah digenggam perempuan.

Apa boleh buat, perempuan terpaksa tunduk pada takdir biologisnya. Mereka terikat pada menstruasi, pada kehamilan dan pada kewajiban merawat anak. Status perempuan, menurut dia, senantiasa tercantol pada laki-laki. Perempuan, makhluk nomor dua ini, terjaring dalam posisi yang rendah, kehilangan identitas.

Lalu tokoh-tokoh Simone de Beauvoir, Germaine Greer, Xavier Hollander dan lain-lain menghimbaukan seruan emansipasi wanita sejagad. Bebas dari obyek kegiatan seks, dari berbagai peraturan, adat, tradisi yang membelenggu. Duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Tubuh perempuan adalah milik perempuan. Kandungan perempuan beserta isinya adalah milik perempuan. Titik.

Setelah menimbang dan mengkaji, kalau saya kembali saya memilih yang unggul: lahir sebagai anak perempuan. Terus terang saja, jauh di dalam lubuk hati saya, terkadang menyelinap rasa iri terhadap isteri. Iri karena, dari segi rasa dan hati, dia lebih dekat dengan anak-anak kami. Sebagian karena saya kaku terhadap anak-anak. Dan juga, saya terlalu terpukau oleh revolusi industri dan sering terlupa hakekat kehidupan yang singkat ini.

Sering pada waktu sarapan pagi, ketika pikiran dan udara begitu segar, saya berkata dalam hati: inilah anak-anak kami, manusia-manusia baru, dibesarkan dalam rahim ibunya, sebelum melihat dunia. Mereka telah mendapat seribu satu macam layanan dan kehangatan dari ibunya. Mereka begitu dekat. Ibunya pun telah mendapat seribu satu imbalan berupa getaran-getaran jiwa, yang tidak saya dapat. Pengalaman mengandung calon bayi dalam rahim melahirkan manusia-manusia ke dunia, merawat mereka dan lain-lain.

Kalau saya dilahirkan sebagai perempuan, bagaimanakah tanggapan saya tentang Panca Dharma Wanita dari PKK yang berisi: 1. Wanita sebagai penerus keturunan bangsa, 2. wanita sebagai isteri, 3. wanita sebagai ibu dan pendidik anak, 4. wanita sebagai pengurus rumah tangga, 5. wanita sebagai warga negara? Kiranya terlalu awal untuk diperbincangkan sekarang.

Tenang-tenang saja dulu. Tetapi mudah dibayangkan bagaimana tanggapan Simone de Beauvoir, teman intim Sartre itu, terhadap Panca Dharma Wanita. Setelah membuka-buka kamus, dia akan berucap: “Huh, ini dia, filsafat swarga nunut neraka katut, tercantol dalam suka, terseret dalam duka.”