Mary Agnes, Kerajinan Yogya dan ke Karo (1939)

by
Perempuan Karo dari sebuah desa dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Perempuan Karo dari sebuah desa dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.

Mary Agnes van Gesseler Verschuir-Pownall yang berjasa memajukan kerajinan perak di Kotagede (Yogyakarta), pada tahun 1939 melakukan perjalanan sampai ke dataran tinggi Karo.

Oleh : Edi Santana Sembiring.

Mary Agnes van Gesseler Verschuir-Pownall pada tahun 1939 pernah mengunjungi dataran tinggi Karo. Mary Agnes adalah istri dari Pieter Rudolph Wolter van Gesseler Verschuir. PRW van Gesseler Verschuir pernah menjadi Gubernur Yogyakarta pada tahun 1929-1933.

PRW van Gesseler Verschuir lahir di Groningen tanggal 10 Mei 1883 dan meninggal di Den Haag tanggal 27 Mei 1962 pada usia 79 tahun. PRW van Gesseler Verschuir adalah putera dari Johannes van Gesseler Verschuir dan Joke Muller. Ia belajar di Universitas Leiden setelah lulus sekolah menengah dan memulai kariernya di Algemene Secretaris di Batavia pada tahun 1905.

Setelah itu, PRW van Gesseler Verschuir menjadi kontrolir muda di Majelis Dalam Negeri yang bertugas di Jawa dan Madura. Pada tahun 1906, ia diangkat sebagai kontrolir. Pada tanggal 24 Juli 1908, ia menikah dengan Mary Agnes Pownall. Hingga tahun 1913, ia telah bekerja di Banyuwangi, Panarukan, Bondowoso, dan Sumenep.

Sempat cuti sebelum akhirnya kembali lagi ke Hindia Belanda pada tahun 1915, lalu ia diangkat sebagai kontrolir di Kuningan. Pada tahun 1924, ia diangkat sebagai asisten residen di Kudus. Dari tahun 1929-1933, ia menjadi Gubernur Yogyakarta.

Dari laman berbahasa Belanda yakni Djokja.nl, diketahui bahwa Mary Agnes adalah putri dari Clifford Pownal dan Sarah Carapiet. Sekitar tahun 1875, Clifford Pownall datang ke Hindia Belanda dan menjadi kepala Telegraaf Maatschappij. Ia juga mendirikan pabrik es krim pertama di Hindia Belanda, yakni di Banyuwangi.

Clifford Pownal bertemu dengan Sarah Carapiet tak lama setelah kedatangannya. Sarah Carapiet adalah seorang janda dengan empat anak dari pernikahan pertamanya. Usia Sarah lebih tua tujuh tahun dari Clifford. Dari pernikahan Clifford dan Sarah, mereka memiliki tiga anak lagi. Salah satunya adalah Mary Agnes yang lahir pada 1882 di Banyuwangi.

Setelah pernikahan sebelumnya yang gagal, Mary Agnes menikah lagi dengan politisi Pieter Rudolph Wolter van Gesseler yang kemudian akhirnya menjadi Gubernur Yogyakarta. Mereka berteman dengan Sultan Yogyakarta. Pada saat itu, mereka sering menerima hadiah dari Kraton seperti mangkuk emas yang masih dimiliki oleh putri Mary Agnes yang tinggal di London. Hadiah lain seperti kotak perak, yang masih dimiliki oleh cucu perempuan Sonja Schulz – Verploegh Chassé, yang tinggal di Amerika Serikat.

Minat Mary Agnes pada industri perak Kotagede juga muncul. Dia mendorong para perajin perak untuk meningkatkan kualitas, menghasilkan lebih banyak model yang dicari dan menambahkan lebih banyak variasi pada motif. Selain motif standar seperti lotus, merak ganda dan garuda, ia memiliki foto dan gambar yang terbuat dari dekorasi kuil untuk menghadirkan motif baru.

Mary Agnes meminta Sultan sebidang tanah untuk membangun ruang pamer (showroom) kerajinan perak. Sultan menyediakan lahan di tepi jalan umum dan akhirnya sebuah toko yang indah dibangun dengan kaca di bahagian depan.

Informasi tentang minat Mary Agnes akan kerajinan perak dapat juga dibaca dari artikel “Mengukir Sejarah Perak Kotagede” yang ditulis oleh Priyo Salim yang dimuat di Buletin Mayangkara edisi 3 tahun 2016. Seperti kebanyakan warga Eropa, Mary Agnes rutin mengadakan acara minum teh di kediamannya. Peralatan perak yang digunakannya polos tanpa ukiran, yang ia bawa langsung dari Belanda.

Hingga pada suatu hari Mary Agnes tertarik dengan seni tatah ukir perak yang banyak dikerjakan orang Kotagede pada masa itu. Mary Agnes memesan alat makan dan minum perak dari pengrajin perak Kotagede. Ia ingin agar ornamen budaya Jawa ada pada pesanannya itu. Mary Agnes meminta bantuan seniman untuk menggambarkan relief yang ada di Candi Prambanan. Lalu gambar tersebut diserahkan kepada pengrajin perak di Kotagede yang kemudian dilukiskan pada bokor atau piring yang dipesannya.

Puas dengan hasil pesanan pertama pada tahun 1929 itu, pesanan pun terus bertambah, baik untuk memenuhi kebutuhan pribadi ataupun sebagai souvenir bagi para relasi. Ornamen yang digunakan pun bertambah, mengambil contoh ukiran dari Candi Boko, Candi Borobudur, ukiran Masjid Mantingan Jepara, ukiran yang terdapat pada Pura Pakualaman bahkan juga motif khas Sumatera Barat dan Palembang.

Koleksi Mary Agnes van Gesseler Verschuir-Pownall, 1930. Sumber : michaelbackmanltd.com

Akhirnya, pada tahun 1932 Mary Agnes membuka showroom di Kepatihan yang menampung hasil kerajinan perak Kotagede serta menetapkan standar kadar perak kerajinan harus 800. Showroom tersebut sangat berguna karena pada saat itu di Kotagede sendiri belum berdiri satupun toko perak.

Aneka produk perak yang dipamerkan merupakan hasil asimilasi budaya, serta diterapkan pada berbagai produk baik yang asli digunakan bangsawan Jawa ataupun perlengkapan ala Eropa. Beberapa diantaranya berupa perabotan makan minum, tempat buah, tempat anggur, tempat rokok, tempat permen, tempat lilin, tempat serbet, bokor, piala, asbak, serta perhiasan gaya Eropa.

Semua produk itu dihias dengan teknik ukir perak khas Kotagede yang terinspirasi motif ukiran kayu dan motif relief candi dan lain sebagainya. Produk-produk tersebut mengundang perhatian kaum ekspatriat lain maupun wisatawan Belanda yang berkunjung ke Kotagede. Permintaan pun meningkat tajam, baik dari mereka yang berkunjung sendiri ke Kotagede maupun lewat relasi yang berkunjung ke Yogyakarta.

Pada tahun 1932 itu juga atas bantuan Sultan HB VIII, pemerintah Kolonial Belanda membentuk Stichting Beverdering van het Yogyakarta Kenst Ambacht (disebut juga Pakaryan Ngayogyakarta). yang berfungsi untuk mengembangkan dan mengecek kualitas dan desain produk perak dan kerajinan lainnya di Yogyakarta. Sebagian dari koleksi Mary Agnes ini termasuk diantara ratusan kerajinan perak Kotagede yang dipamerkan di Museum Tropen Belanda pada tahun 2005.

Dari laman berbahasa Belanda yakni Djokja.nl, diketahui bahwa harga tinggi perak merupakan hambatan. Namun di tahun 1928 harga perak turun hingga jumlah kerajinan perak meningkat dan muncul pada Pameran Tahunan pertama Yogyakarta pada tahun 1928. Dan pada tahun 1930 harga perak turun sangat tajam. Terjadi resesi ekonomi atau krisis Malaise yang melanda banyak negara saat itu

Hingga akhirnya pada waktu itu, banyak orang Belanda di Hindia Belanda dapat membeli benda-benda perak dengan sedikit uang selama masa ekonomi yang buruk itu. Dilihat dari besarnya jumlah benda kerajinan perak Yogya yang ada di Belanda, dapat disimpulkan dengan sedikit berlebihan bahwa hampir setiap orang Belanda yang datang ke Yogya membeli benda-benda perak. Jumlah perajin perak meningkat tajam karena meningkatnya permintaan, dan membuat para pengerajin bersaing untuk menarik minat pembeli dengan hasil pekerjaan yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Pada tahun 1939, Mary Agnes van Gesseler Verschuir-Pownall mengunjungi Padang, Bukit Tinggi, Sibolga, Medan, dataran tinggi Karo hingga ke Sabang (Aceh). Mary Agnes sempat memasuki perkampungan-perkampungan Karo. Tak banyak keterangan yang didapat tentang perjalanan ini, namun dari foto-foto yang hadir terlihat Mary Agnes tak sungkan memasuki dan menyapa para penduduk kampung. Begitu juga menyapa para pekerja perkebunan tembakau Deli.

Mary Agnes dan mesin Braile. Sumber : Djokja.nl.

Setelah kembali ke Belanda, Mary Agnes melanjutkan kegiatan sosialnya bagi lembaga tunanetra (brailletypen). Dia mengabdi selama empat puluh tahun, sampai dia meninggal pada usia 78.

Mary Agnes van Gesseler Verschuir-Pownall di sebuah perkampungan Karo, dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Bangunan di sebuah perkampungan dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Bangunan di sebuah perkampungan dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Penduduk di sebuah perkampungan di sekitar Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Sebuah perkampungan Karo sekitar Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Penduduk kampung di sekitar Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Mary Agnes van Gesseler Verschuir-Pownall (sebelah kiri) di pesanggrahan, di perkampungan Karo dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Perempuan menumbuk padi di sebuah desa dekat Kabandjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Anak-anak dari desa dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Anak-anak dari desa dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Anak-anak dan perempuan di sebuah desa dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Perempuan Karo dari sebuah desa dekat Kabanjahe. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Berastagi. Tampak Gunung Sibayak. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Vila milik orang Eropa di Berastagi. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Villa milik orang Eropa yang terinspirasi dari arsitektur Karo. Lokasi di Berastagi. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Villa di Berastagi. Tahun 1939. Sumber : KITLV.
Mary Agenes van Gesseler Verschuir-Pownall di perkebunan tembakau Deli, dekat Medan. Tahun 1939. Sumber : KITL.
Mary Agnes van Gesseler Verschuir-Pownall (kiri) di Pantai Cermin di timur laut Lubukpakam. Tahun 1939. Sumber : KITLV.

Sumber bacaan :

Djokja.nl

“Mengukir Sejarah Perak Kotagede” oleh Priyo Salim, dimuat di Buletin Mayangkara edisi 3 tahun 2016.

Wikipedia : Pieter Rudolph Wolter van Gesseler Verschuir.