Majalah Tjermin Karo (1924)

by
Tjermin Karo

Tjermin Karo, Semangat Nasionalisme di Kalangan Orang Karo.

 

Tjermin Karo mulai beredar pada tanggal 13 Nopember 1924. Didirikan oleh Mboelgah Sitepoe. Semangat dari terbitan Tjermin Karo adalah semangat nasionalisme di kalangan orang Karo. Koran ini terbit dua kali dalam sebulan. Terbitan kedua beredar tanggal 28 Nopember 1924. Sumatra Printhouse yang berada di Medan dipilih sebagai tempat percetakannya.

Pada terbitan ketiga, pada tanggal 23 Desember 1924, Koran Tjermin Karo mengumumkan bahwa terbitan berikutnya tidak lagi dicetak di Medan, akan tetapi di Binjai. Pada penerbitan keempat yaitu tanggal 28 Desember 1924, diterbitkan dalam format majalah.Kantor majalah ini berada di Binjai. Dan sebagai asisten administrasi adalah A.H. Sitepoe.

Pada terbitan format baru ini,editor meminta kepada rekan-rekan kontributor dan para pembaca untuk mendukung majalah ini dengan cara tetap berlangganan dan mengirimkan berbagai berita dan tulisan.Beberapa kontributor seperti “Boenga Rih,” “Boenga Ntjole,” “Anak Perana dan lain-lain pada edisi keempat ini mengungkapkan kegembiraan mereka dengan penampilan format majalah ini.

Dan rekan-rekan para kontributor berharap, agar dapat belajar dari hilangnya majalah “Sora Karo” dan agar tidak terjadi lagi. Majalah Sora Karo yang dipimpin oleh Nerih Ginting, hidup hanya beberapa bulan saja dikarenakan beberapa pelanggan tidak memenuhi kewajiban keuangan mereka. Kontributor lainnya berharap, demi kehormatan Karo, “Tjermin Karo” harus tetap hidup.

Saat itu majalah lain yang juga masih hidup adalah Majalah “Merga Si Lima” yang didirikan oleh misionaris J. H. Neumann. Nolong Ginting Soeka mengirimkan sambutannya dari Weltevreden (Batavia, di sekitar Sawah Besar, Jakarta Pusat saat ini). Ia telah mengikuti tulisan-tulisan dari “Tjermin Karo” dan berharap tetap bertahan seperti Majalah “Merga Si Lima” yang masih bertahan dibanding terbitan lain sebelumnya.

Terbitan kali ini juga berisi tentang Cinta (untuk negara dan orang-orang) dan artikel sejenis yang mengobarkan nasionalisme.Begitu juga berisi berita-berita dari daerah, kursus singkat bahasa Belanda, kursus agama Islam, diskusi tentang pendidikan di Langkat-Hoeloe (yang dilakukan misionaris J. H. Neumann) yang diharapkan kian menjadi lebih baik. Juga artikel berbahasa Karo berisi pantun atau pepatah, dan juga tulisan cerita-cerita.

Tjermin Karo, Juni 1925

Pada terbitan kelima, pada tanggal 13 Januari 1925, halaman utama dimulai dengan puisi untuk menyambut tahun yang baru. Guratan permainan garis-garis membentuk kata-kata: “seriboe sembilan ratoes doea poeloeh empat seriboe sembilan ratoes doea poeloeh lima” (1924-1925).

Dan dalam terbitan ini diangkat kembali kisah legenda “Poetri Idjo” yang telah ditulis di koranSumatra Post.” Tulisan itu dalam rangka pementasan drama Poetri Idjo di Medan dalam menyambut kedatangan Van der Hoop. Editor Tjermin Karo menyatakan akan menyelidiki kebenaran dalam kisah lama itu.

Pada penerbitan Tjermin Karo no. 13, pada Juni 1925, dituliskan perlunya Dewan Lanskap untuk Tanah Karo untuk mewakili masyarakat Karo dalam menyuarakan kepentingannya. Di satu sisi penulis bersimpati dengan apa yang telah dilakukan oleh pihak Otoritas (pemerintah) untuk kemakmuran negeri, akan tetapi aspirasi dari penduduk perlu didengarkan.

Sumber bacaan : Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers