Krisis Malaise dan Gandum dari Karo.

by
Ilustrasi Tanaman Gandum
Ilustrasi Tanaman Gandum

Tanaman gandum pada awalnya masuk ke nusantara pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Selain Belanda, bangsa Portugis juga memperkenalkan tanaman gandum untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Portugis  yang tinggal di Pulau Timor. Di Indonesia, tanaman gandum dibudidayakan di daerah dengan ketinggian di atas 900 m dpl dengan suhu udara optimum rata-rata 22-24 C.

Gandum merupakan tanaman “purba” yang lebih dulu dibudidayakan oleh manusia daripada padi dan jagung dan kini menjadi makanan pokok bagi penduduk di lebih dari 40 negara. Sejak 7000 tahun sebelum Masehi, atau 9000 tahun yang lalu, gandum sudah menjadi bahan pangan pokok penduduk di Mesir, Yunani, Persia, China. Sejak zaman Yunani kuno, gandum telah menjadi bagian penting dari program pemerintah kerajaan, seperti tercermin dari ucapan Sacrotes: “Seseorang tidak akan menjadi negarawan  yang  baik  apabila ia acuh terhadap permasalahan gandum”.

Tanaman Gandum

Di bagian utara dunia seperti Eropa dan Rusia, gandum merupakan tanaman pionir budaya pertanian. Di dunia baru, termasuk Kanada, Amerika  Serikat, Amerika  Selatan dan Australia, tanaman  gandum dibudidayakan mulai pertengahan atau akhir abad ke 17. Kini tanaman gandum ditanam di 40 negara, dengan total produksi lebih dari 820 juta ton per tahun, dan menjadi pangan pokok bagi lebih dari 35% penduduk dunia.

Gandum (Triticum tcc.) merupakan tanaman serealia penting ketiga di dunia setelah padi dan jagung. Potensi lahan untuk pengembangan gandum di Indonesia cukup besar, khususnya pada lahan dataran tinggi. Gandum dapat dibudidayakan secara monokultur atau pergiliran dengan tanaman hortikultura untuk memutus siklus hama penyakit. Berdasarkan peluang dan kejadian hujan, gandum dapat dibudidayakan dengan pola rotasi sebagai berikut :

Dataran tinggi :

Kentang – gandum – tomat

Kentang – wortel – gandum

Kentang – gandum – bera (tak ditanami selama musim kemarau).

Gandum di Indonesia

Sejak jaman kolonial Belanda hingga tahun 1980an, sebagian masyarakat Indonesia sudah mengenal tanaman gandum. Pada masa kolonial Belanda, penanaman gandum dimulai pada awal abad ke-20 secara terbatas di Jawa, yaitu di Pengalengan (Jawa Barat), Dieng (Jawa Tengah), Tengger (Jawa  Timur), dan dataran tinggi Karo (Sumatera Utara). Dan hasilnya sangat baik terutama di daerah Karo.

Lalu pengembangan gandum di Indonesia kembali  dilakukan sejak Kementerian Pertanian dipimpin oleh Prof. Dr. Thoyib Hadiwijaya dengan membentuk Tim Inti Uji Adaptasi Gandum pada tahun 1978. Lokasi uji coba terletak di Kabanjahe, Sumatera Utara.

Prof. Dr. Thoyib Hadiwijaya

Prof. Dr. Thoyib Hadiwijaya adalah Menteri Pertanian dalam Kabinet Pembangunan I dan Kabinet Pembangunan II dengan masa bakti mulai tahun 1968 hingga tahun 1978. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Perkebunan pada tahun 1967 hingga tahun 1968 dan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Indonesia pada tahun 1962 hingga 1964, selain itu ia juga pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk Luksemburg pada tahun 1965 hingga tahun 1966.

Benih yang digunakan berasal dari CIMMYT, Meksiko, dengan produktivitas 4 ton/ha (Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan 2001 dalam Puspita 2009). Pengembangan uji adaptasi tersebut tidak berlanjut karena tidak mendapat dukungan yang komprehensif dari pemerintah. Masa jabatan Thoyib Hadiwijaya sebagai Menteri Pertanian berakhir setelah 1978. Oleh karena itu luas areal pertanaman gandum di Indonesia tidak pernah berkembang, dan tidak pernah melampaui 2.000 hektar per tahun.

Sementara kebutuhan gandum sebagai bahan baku produk makanan olahan di Indonesia semakin meningkat. Masyarakat Indonesia mengonsumsi terigu dalam berbagai produk olahan, tetapi belum memproduksi gandum, sehingga harus mengimpornya dalam jumlah besar dari negara pengekspor seperti Australia, Amerika Serikat, dan Rusia. Padahal menurut hasil penelitian, gandum yang dibudidayakan di dataran tinggi di Indonesia mampu memberikan hasil lebih dari 3,0 ton/ha, dan menurun bila ditanam di dataran rendah.

Gandum di Dataran Tinggi Karo

Berikut ini pemberitaan hasil budidaya tanaman gandum di masa kolonial Belanda yang ditanam di daerah dataran tinggi Karo, Sumatera Utara :

Gandum dari Dataran Tinggi,
Koran De Sumatra Post tanggal 09-08-1923

Gandum dari Dataran Tinggi.

(Koran De Sumatra Post tanggal  09-08-1923)

Tuan Bange, petugas informasi hortikultura, menunjukkan kepada kami hari ini roti yang lezat dan harum, dipanggang dan berbahan tepung gandum, dimana hasil dari tanaman di Koeta Gadoeng, 2 kilometer dari Berastagi.

Sebelumnya kami telah menginformasikan beberapa hal tentang percobaan pertanian gandum di dataran tinggi. Tuan Bange menemukan kebun gandum di sana, yang ditanam oleh seorang fotografer Cina, dimana benih tanaman dikirimkan kepadanya dari Cina. Gandum yang dipakai sebagai bahan roti panggang ini, berasal dari tanaman gandum yang ditanam oleh Bange pada tanggal 21 Maret. Baru digiling menjadi tepung kemarin, dan hari ini Tuan De Vries (wisma Spernoga) memanggang dua roti lezat berbahan tepung gandum itu.

Dengan penuh kegembiraan, Tuan Bange telah mengirim salah satu “roti gandum pertama dari dataran tinggi” ini ke Gubernur, dan roti gandum yang lain ke Tuan Ezerman, asisten residen untuk Karolanden.

Pada kegiatan “Pasar Malam” berikutnya, semua informasi tentang tanaman gandum akan diberikan untuk membuka gambaran akan dataran tinggi.

Kentang dan Sayuran dari Dataran Tinggi Karo,
Koran De Sumatra Post tanggal 23-07-1925

Kentang dan sayuran.

(Koran De Sumatra Post tanggal 23-07-1925)

Budidaya tanaman kentang dan sayuran yang dipraktikkan di dataran tinggi Karo secara bertahap menjadi lebih baik menurut laporan tahunan Asosiasi Perdagangan. Setelah budidaya kentang, budidaya sayuran muncul. Dan pada tahun 1914 percobaan dilakukan dengan penanaman gandum, yang tampaknya memiliki hasil yang menguntungkan.

Namun, ekspor kentang menunjukkan penurunan tajam pada tahun 1924. Angka ekspor kawasan ini adalah untuk:

Tahun 1920 1.818.154 Kg.
Tahun 1921 2.277.865 Kg.
Tahun 1922 1.646.270 Kg.
Tahun 1923 2.786.950 Kg.
Tahun 1924 1.360.793 Kg.

Penyebab utama penurunan ini mungkin adalah harga yang buruk yang didapat saat panen pada tahun sebelumnya. Seperti halnya semua produk pribumi, harga yang dicapai memberikan pengaruh besar pada produksi. Sementara produksi dan ekspor milik orang Eropa memiliki program reguler, ekspor pribumi pedalaman jauh lebih fluktuatif. Dengan harga yang buruk, minat berkurang. Sementara dengan harga yang bagus penanaman dilanjutkan. Dengan demikian, produksi yang lebih besar diharapkan lagi sebelum 1925.

Namun, penyebab lainnya mungkin terletak pada kemajuan pesat budidaya sayuran di dataran tinggi Karo. Jika ekspor sayuran pada tahun 1923 memiliki nilai f 50.265, untuk tahun 1924 angka ini adalah f 95.216, perinciannya sebagai berikut:
Kool : f 72.083
Lobak : f 12.141
Bit : f 220
Wortel : f 5.407
Laboe : f 510
Bawang : f 3.300
Booming : f 207
Terong : f 1.340

ilustrasi : tanaman Bit

Angka-angka ekspor ini tentu saja hanya mewakili sebagian dari hasil produksi sebenarnya, karena kawasan Pantai Timur Sumatera sendiri juga membeli dalam jumlah besar.

Gandum dari Dataran Tinggi Karo,
koran De Indische Courant tanggal 19-11-1926

Gandum dari Dataran Tinggi Karo.

(Koran De Indische Courant tanggal 19-11-1926)

Dibanding hasil produksi bulan Januari 1923, di tahun 1926 ada 8000 Kg tepung terigu telah dikirim dari dataran tinggi tepatnya dari Kabanjahe dalam 6 bulan terakhir.

Dengan demikian produksi meningkat 800.000 kali dalam 3 tahun dan banyak ladang telah ditanami gandum. Akan ada lonjakan penuh pada bulan Januari berikut ini.

Mereka yang berada di kapal penjelajah Hamburg memiliki 500 Kg roti gandum yang disiapkan dari tepung gandum dari dataran tinggi.

Menurut perhitungan kantor polisi di Tongkeh, 7.000.000 Kg produk pertanian dan hortikultura diekspor dari dataran tinggi ke Medan dalam 10 bulan terakhir. Hasil panen padi setiap tahun sebesar 26.000.000 Kg.

Nilai perdagangan yang diperoleh masyarakat Karo diperkirakan lebih dari f 4.000.000. Ini dari penghasilan produk pertanian, hortikultura dan peternakan. Pendapatan dari perdagangan dan sumber tidak kena pajak belum termasuk.

Penghasilan ini masih dapat meningkat secara signifikan jika semua pekerja laki-laki Karo produktif.

(Dikutip oleh De Indische Courant dari Deli Courant).

Menurunnya harga gandum (laporan J. Tideman tahun 1932 dalam De Bataklanden, 1917-1931).

Panen Besar, Harga Jatuh

Dalam beberapa tahun terakhir, budidaya gandum telah berkembang di dataran tinggi Karo, sehingga pada tahun 1930, gandum dapat dihasilkan 50 ton. Namun, karena penurunan besar harga gandum dan tepung terigu, seperti laporan tahunan Layanan Informasi Pertanian di Pantai Timur Sumatera untuk tahun 1930, harga tepung terigu di dataran tinggi jatuh sedemikian rupa sehingga budidaya gandum tidak lagi memberikan harapan. Laporan yang berhubungan dengan gandum ini berakhir dengan pernyataan keluh kesah orang Karo untuk kembali menanam padi ladang yang jauh lebih baik dari berladang gandum.

Kerjasama yang baik dari Dinas Informasi Pertanian dan para petani untuk menerima informasi dan dukungan yang diberikan kepadanya sangat membantu sejak tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan mengenalkan komoditas kentang, gandum dan lain-lainnya menjadi daya tarik para petani Karo. Namun bila hasil panen tidak memenuhi harga, para petani lebih memilih kembali melakukan penanaman tanaman pangan segera setelah penanaman tanaman perdagangan seperti gandum tidak menghasilkan keuntungan yang cukup.

Penyebab turunnya harga gandum dan tepung terigu adalah karena telah terjadi “Krisis Malaise” atau great depression di dunia saat itu. Ini adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis di seluruh dunia yang mulai terjadi pada tahun 1929. Volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan.

Di berbagai belahan dunia, kota-kota besar terpukul, terutama kota yang pendapatannya bergantung pada industri berat. Kegiatan pembangunan gedung-gedung terhenti. Namun Krisis malaise juga menghantam wilayah pedesaan yang hidup dari hasil pertanian karena harga produk pertanian turun 40 hingga 60 persen.

Padahal sebelumnya telah diperkenalkannya penggunaan pupuk hijau secara luas ke dalam masyarakat petani yang menyebabkan hasil panen yang melimpah pada tahun 1928 dan 1929. Namun keadaan ekonomi di dunia juga mempengaruhi harga, sehingga keuntungan tak lagi diperoleh para petani.

Dan dalam laporan J. Tideman tahun 1932 (De Bataklanden, 1917-1931), keadaan ekonomi saat itu juga membuat gelombang migrasi dari Samosir ke Simeloengoen. Bahkan terjadi migrasi dari Padang-Lawas ke Perak (Malaysia). Ini membuktikan bahwa banyak orang di daerah mereka sendiri tidak dapat memperoleh mata pencaharian yang cukup.

Hancurnya perekonomian negara-negara Eropa yang merupakan daerah tujuan ekspor hasil komoditi perkebunan kolonial mempunyai pengaruh langsung terhadap perekonomian Hindia Belanda yang perekonomiannya tergantung dengan sistem perkebunan kolonial Belanda. Dampak utama depresi terhadap Hindia Belanda adalah sebagai berikut :

1. Hancurnya harga dan permintaan komoditas internasional;

2. Munculnya masalah dalam perusahaan perkebunan utama seperti karet, gula, dan kopi;

3. Krisis keuangan yang disebabkan berkurangnya penerimaan dan pendapatan pemerintah kolonial;

4. Menurunnya kesempatan kerja, pendapatan, dan daya beli masyarakat

Turunnya harga hasil pertanian bukan saja terjadi pada gandum dan tepung terigu, tapi juga berbagai produk ekspor hasil pertanian seperti kopi, karet, kopra dan lain-lain. Dan bukan hanya para petani dan pedagang Karo yang bersemangat menunggu perubahan harga untuk memperbaiki situasi ekonomi saat itu, tapi juga banyak petani dan pekebun di nusantara.

Catatan tambahan :
Menurut koran De Sumatra Post tanggal  20-01-1922, bahwa pengelola Wisma Spernoga telah berganti. Kini Wisma Spernoga dikelola oleh Tuan De Vries dan istri (Rochet  De Vries). Sebelumnya ia adalah koki terkenal dari Hotel De Boer, Medan. Wisma Spernoga berada di Medan. Letaknya di jalan Residentsweg atau di seberang rumah Gubernur Pantai Timur Sumatera.

Mengenai Krisis Malaise dapat dibaca lebih lanjut di artikel : Krisis Malaise dan Dampaknya terhadap Hindia Belanda.