Karo dari Penuturan Sibayak Lau Cih Tahun 1898 (Bagian 1)

by

Dari dan Tentang Karo (Karauw)

 

Catatan pendahuluan dari Antropolog Juara R. Ginting :

Sibajak Sungei Sipoet  yang dimaksud di tulisan itu adalah Sibayak Lau Cih (Sungai Siput) yang berkedudukan di Lau Cih. Lau Cih berada sekitar 12 Km dari pusat Kota Medan (Kantor Pos) ke arah Berastagi. Belum sampai Pancurbatu. Di masa kolonial, banyak rumah adat Karo di Lau Cih yang dibakar oleh laskar pada masa Agresi Militer Belanda II (1949). Di tahun 1980an, saya masih menemukan sebuah geriten dari kayu dan ijuk di sini. Saya sampaikan hal ini untuk lebih meyakinkan kita bahwa Medan itu memang wilayah ulayat Karo (bukan sekedar fanatis-fanatisan).

 

Uraian berikut adalah tentang beberapa keterangan mengenai Karauw (Karo) yang  diterbitkan oleh Perhimpunan Seni dan Sains Batavia, yang dituliskan oleh Datuq Seri Indra Lela Sitja Radja, Wazir Sapoeloeh Doewa Kotta (Hadji Mohamad Noer dari Hamparan Perak).

Risalah rapat umum / Dewan Perhimpunan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia, Edisi 36, 1 Januari 1898.

Informasi diberikan oleh Sibajak dari Sungei Sipoet (Bekalla) yang juga Semaloen Semina dari Taboeran.

 

Tjapah.

Tjapah (dalam bahasa Karauw dan Melayu) adalah sebuah benda berbahan kayu bulat untuk tempat hidangan makanan, yang dibuat oleh orang-orang dari banir kajoe (bongkol pada akar beberapa pohon) dari berbagai  kayu. Bentuk bulat tersebut diperoleh dengan cara meletakkan paku di tengah potongan kayu lalu dengan dipasang tali untuk menggambar lingkaran. Pengerjaan lebih lanjut dilakukan dengan memakai sekin (Melayu : parang), sebuah raoet (Mal : pisauw raoet) dan pahat (Mal : pahat = pahat). Waktu pembuatan : dua hari.

Catatan yang didapat :

Para Karauw makan dua kali sehari, sekitar jam 7 di pagi hari dan sekitar jam 7 di malam hari. Mereka bekerja di hutan, dari jam 10:00 hingga jam 07:00 malam. Saat makan malam tiba, berkumpul keluarga di sekitar “tjapah,” dimana nasi hangat terhidang menunggu diraup dan terhidang juga seperti makanan yang berbahan babi, kerbau atau daging rusa, dan lain-lain dan juga sajoer : Goelai-goelai (dalam bahasa Karauw).

Karawu makan dengan menggunakan tangan. Yang juga dimakan antara lain : Kerang : Tjih (Kar.) = Sipoet (Mal), kura-kura sungai : Lebauw (Kar.) = Labi-labi (Mal), anjing: Bijang (Kar.), Kucing : Koetjing (Kar. dan Mal.), semua jenis ikan sungai dan ikan laut.

Juga memakan ikan : Binoeroeng (Kar.); monyet : Kera (berekor panjang), Bengkala (berekor pendek), iembauw (Kar. dan Mal .) lotoang (Kar. dan Mal.) Koelikap (Kar.) = Kiah-Kiah (Mal).

Dinyatakan Karauw tidak pernah makan daging manusia. Ular dimakan oleh orang Timur dan Teba (Toba) Batak, tetapi tidak oleh Karauw oleh karena alasan berikut :

sekali waktu timbul sukacita dan takjub, bahwa kuantitas buah padi (gabah) dalam : Keben (Kar.) = koelit (Mal) tidak berkurang. Penyebab terjadinya fenomena ini dicari, ditemukan adanya ular. Sejak temuan itu, pembunuhan terhadap spesies ular adalah : Pantang (Mal) = kemali (Kar.). Kemudian, dengan perluasan (untuk menghindari kesalahan) memasukkan semua spesies ular dalam hal berpantang membunuhnya.

Jika seorang gadis Karauw menikah, dia mendapatkan dari orangtuanya : mangkuk putih: peboerihan (Kar.) = Basoeh Tangan (Mal) seperti mangkuk, sebuah koedin atau koelin : prioek (Mal) tembaga atau besi, tikar: Amak (Kar.) dan selanjutnya gabah (buah padi) selama setahun.

 

Lesung di Karo
Lesung di Karo

Lesoeng

Lesoeng (dalam bahasa Melayu dan Karo) adalah tempat menumbuk padi. Bahan Lesoeng  sebagian besar berasal dari Teras Kajoe atau batang nangka, dibuat oleh seorang Pandei (Kar.) = Toekang (Mal.) bersama warga kampong : koeta (Kar.).

Jumlah lobangnya adalah 11 – 9 – 7 – 5 – 3 – 1 (jumlah ganjil) lubang. Letaknya dalam kampong-kampong besar biasanya berada tengah koeta,  bila di kampung kecil berada di sepanjang salah satu dari deretan rumah-rumah, dan ditempatkan pada tingkat yang relatif lebih tinggi dari tanah.

Dibuatlah perancah kayu, untuk mencegah beras kotor oleh gangguan dari babi, anjing, sapi atau kuda. Pada permulaan pemakaian Lesoeng yang telah selesai dibuat, seorang pria sebagai kepala pandei melakukan penghormatan pada penunggu kayu tersebut.

Diberikan kurban untuk penunggu atau roh itu. Kurban ini terdiri atas dari darah, kuku, jantung, lambung, hati dan usus ayam merah : Manoek (ayam) saboegan (jantan) megara (merah) bersama dengan tjabe: latjina (Kar.) dan garam: sira (Kar.).

Ramuan ini sedikit demi sedikit dilumuri sepanjang mulut Lesoeng oleh pandei, atau guru, yang kemudian berkata : “saya menawarkan Anda makan ini untuk memohon berdasarkan permintaan penduduk kampong agar tidak datang penyakit atau kecelakaan dari pembuatan beras di sini.”

Jika mantra ini berakhir, Lesoeng siap untuk digunakan, beberapa hasil dari penumbukan beras dicampur dengan gula: goela toewalah (Kar.), menghasilkan kelezatan: tjempa gabo-gabo panas serta dikonsumsi oleh penduduk koeta – tjempa (Kar.) = tepoeng (Mal).

Malam harinya di tempat menumbuk beras ini , selama proses penumbukan beras, biasanya antara anak perempuan dan laki-laki muda dari koeta tersebut mengambil kesempatan berpacaran.

 

Sengkir

Sëngkir atau sangkirbelioeng (dalam bahasa Karo) adalah kapak bergagang. Dibuat oleh laki-laki. Belioeng tersebut dibuat dari besi yang dibeli di Medan dan ditempa oleh orang Karo.

Batangnya biasanya dipotong dari kayu angin balik, banit atau kayu sira dan batangnya biasanya diukir. Ikatan kapak dengan rotan disebut: koerabat (Kar.). Alat ini digunakan untuk menebang pohon dan memotong menjadi papan.

 

Membuat Koedin

Koedin

Koelin atau koedin (dalam bahasa Karo) adalah panci untuk memasak nasi atau sajoer. Dibuat dengan tangan oleh perempuan, berbahan tanah daah (tanah liat) serta kersik (pasir). Pembentukan berlangsung dengan membentuk tanah liat seperti bola berongga dengan bantuan potongan dari kayu datar dan menggosok dengan kain lama (bekas).

Setelah permukaan halus pot ini terbentuk, maka dijemur dua atau tiga hari, dan kemudian dibakar dengan menggunakan bantuan ilalang kering – pembakaran : toetoeng (Kar.) Pot tanah liat dijual di Goenoeng seharga  8 sampai 10 sen perbuahnya.

Pot ini dibuat oleh orang Karauw di koeta Djoehar, Merdiendieng serta Boelan Djahe.

 

Leteb

Letêb atau sumpit, dibuat oleh pria. Terdiri dari dua bagian : bagian depan dari boeloeh leteb, dan potongan lain dari  boeloeh  krapat, disambungkan satu sama lain, dan ukuran yang sama. Dipakai balauw (getah Kajoe) untuk menyambungnya.

Anak panah : nangkat (bahasa Karo) terbuat dari bambu atau kayu. Memiliki duri kecil. Nantinya diletakkan pada ujung dalam bambu.

Dengan Leteb, panah mampu mengenai burung =  manoek-manoek (Kar.) dan monyet pada jarak 50 depa. Harga sebuah Leteb $ 2.

 

Guru Sibaso di depan Rumah Sibayak Pa Mbelgah

Tongkat Tonggal Penalon

Tongkat Tonggal Penalon adalah milik dari seorang Goeroe, yang dibuat oleh seorang Goeroe  sendiri dari Kajoe Tënggolan.

Jenis ini kayu ini dipilih karena ada kisahnya. Pada zaman dahulu tersebutlah Goeroe Pakpak (Pitu Pertandang). Karena lelah berburu rusa bersama anjingnya. ia tertidur bersandar pada pohon  Tënggolan bersama senjata berburunya dan kemudian melekat dan berubah menjadi kayu . Nama Goeroe itu  Si Raja Koetei Koetan.

Terdapat ukiran berbentuk hewan-hewan pada  tongkat itu seperti  Gadjah, ular, iguana (lobar), anjing dan babi hutan. Ada juga bulu-bulu (Boeloe-manoek) biasanya dari bulu ekor ayam jantan berwarna merah atau hitam, yang memiliki keberanian pertanda baik.

Kain penutup kepala atau serban milik Goeroe dibuat dari “Benang Bentar.” Di bawah serban, tersembunyi “poepoek.”  “Poepoek” adalah ramuan, dengan kekuatan supernatural  yang memiliki campuran sisa abu jenazah dan lain-lain. Dimana abu dibuat oleh seorang Goeroe dari mayat yang dibakar dari seorang anak yang meninggal saat baru lahir.

Oleh karena “poepoek” itu (tentu saja dengan roh anak) yang berada di kepala bersama tongkat membuat Goeroe  mampu mendengar suara yang tak dapat didengar orang lain dan memberi nasihat yang bijaksana.

Poepoek

Apabila ada yang sakit,  seorang Goeroe berdiri di lapangan rumah dengan tongkat yang tegak. Selama prosesi berlangsung, tongkat terus di tangan seorang Goeroe.

Terdapat  di ujung tongkat rambut hitam yang panjang, yang berasal dari orang yang terbunuh dalam pertempuran (rambut : pembawa jiwa terbunuh).

 

Ampik-ampik Harimau

Ampik-ampik harimau adalahselembar kulit harimau, di mana di atasnya Sibayak biasanya  duduk. Bisa juga orang-orang lain mempunyainya, akan tetapi  tidak akan duduk di atasnya di hadapan Sibayak.

Kulit harimau tidak mengalami proses lain selain pengeringan di bawah sinar matahari, dan direntangkan pada rangka atau bingkai bambu. Harimau  diperoleh dengan ditembak atau terjebak dalam perangkap.

Penjual Air Nira di pintu masuk sebuah Hotel milik pemerintah Belanda di Berastagi (di kisaran tahun 1918-1919)

Kitang

Kitang adalah tabung untuk air nira, yang dibuat pria dari bambu pëtoong : boeloeh-Belin (bahasa Karo). Sisi atas dan kiri ujung  terbuat  dari tanduk kerbau. Tutupnya  kitang adalah dari bahan kayu ingoo yang diukir.

Mulut kitang : Babah kitang (bahasa Karo);  pegangan tutup : Ekor kitang (bahasa Karo).

Di mulut kitang ada celah kecil dibuat untuk memungkinkan air nira mengalir keluar. Ketika hendak minum, mulut didekatkan ke mulut kitang untuk menangkap tetesan air nira yang jatuh.

Air nira = paula (bahasa Karo) = moergat (bahasa Merlayu Deli).

 

Gendang

Tiga gendang = gendang. Tabung  ini dari bahan kayu nangka, diukir dan dilubangi dengan pahat. Lapisan atas adalah dari kulit pëlandoek : koelit napoeh ( bahasa Karo ).

Pembuat dan yang memainkan gendang dilakukan oleh laki-laki. Yang memainkannya dipanggil “Pënggowal.” Lapisan kulit pëlandoek tersebut dipasang di tabung dengan menggunakan dua cincin bambu dan dieratkan oleh  tali dari kulit sapi.

Tongkat gendangPaloe-paloe Gendang (bahasa Karo). Gëndang  kecil dinamakan  gendang anak. Untuk memainkan ketiga gëndang  pada peristiwa kematian atau peristiwa perayaan, dibutuhkan dua penggowal: satu untuk dua yang kecil dan satu untuk yang besar.

 

Oekat

Oekat adalah salah satu alat bantu untuk memasak beras dan sajoer. Dibuat oleh pria dari bahan bambu dan diberi ukiran.

 

Bersambung ke Bahagian Kedua.

 

Sumber bacaan :

Notulen van de algemeene en directie-vergaderingen. Publication date 1898. Publisher G. Kolff (etc.)

Koninklijk Instituut voor de Tropen

Koran : Sumatra Courant tanggal 13-01-1899

 

Catatan dari Karosiadi.com :

  1. Tulisan asli tak dilengkapi dengan foto-foto. Foto-foto disematkan sebagai ilustasi untuk menambah informasi. Foto-foto bersumber dari Tropenmuseum, Amsterdam.
  2. Singkatan Kar. = Karo, Mal. = Melayu dan Bat = Batak.