Kala Flu Spanyol Singgah di Hindia Belanda (1918) – Bahagian 1

by
Sebuah rumah sakit darurat didirikan di Brookline, Massachusetts, untuk merawat kasus influenza, difoto pada bulan Oktober 1918. (Archives National US)
Emergency hospital, Brookline, Massachusetts, to care for influenza cases, photographed in October of 1918. (National Artchives)

Sekitar 102 tahun yang lalu, wabah pandemi Flu Spanyol begitu menggemparkan dunia. Hampir semua negara-negara tak dapat mengelak darinya. Jutaan orang meninggal. Flu Spanyol merupakan penyakit menular yang paling mematikan dalam sejarah umat manusia dan jauh lebih berbahaya dari penyakit pes, kolera dan cacar.

Dari artikel berjudul “Seabad Flu Spanyol” dari laman Historia, didapatkan data jumlah korban tewas akibat penyebaran Flu Spanyol diperkirakan mencapai 21 juta jiwa (John Barry) hingga 50-100 juta jiwa (Nial Johnson dan Juergen Mueller), di mana kematian terbesar terjadi pada balita, orang berumur 20-40 tahun, dan orang berumur 70-74 tahun. Dalam kurun waktu Maret 1918 – September 1919, Flu Spanyol merenggut sekitar dua persen populasi dunia yang saat itu berkisar 1,7 miliar orang.

Berapa jumlahnya di Hindia Belanda? Pewarta Soerabaia menyebutkan, hingga 23 November 1918, jumlah korban meninggal akibat berbagai wabah penyakit di Indonesia mencapai 1,5 juta jiwa dan mayoritas adalah korban Flu Spanyol. Sementara menurut Colin Brown dalam “The Influenza Pandemic of 1918 in Indonesia”, korban Flu Spanyol di Indonesia sebanyak 1,5 juta jiwa.

Sementara dari mana asalnya, masih menjadi perdebatan. Dan penyebaran penyakit ini berbarengan pula dengan Perang Dunia I. Ada yang menyatakan pandemi 1918 ini bermula di Camp Funston dan Haskell County (Kansas) Amerika Serikat. Sementara menurut North China Daily News, seperti dikutip harian Pewarta Soerabaia, pandemi bermula di Swedia atau Rusia lalu menyebar ke Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara

Seperti yang dituliskan oleh harian De Sumatera Post, awalnya menyebut penyakit ini sebagai Russische Influenza atau Flu Rusia. Lalu terkadang menyebutnya sebagai Flu Amerika dan akhirnya menyebutnya dengan Flu Spanyol (Spaanse griep). Dan bahkan dari semua nama-nama itu nama “Penyakit Misterius” sangat popuer.

Koran De Sumatera Post tanggal 6 Juli 1918.

Masuknya Flu Spanyol ke Hindia Belanda (Indonesia kini)

Kapan masuknya Flu Spanyol ini bisa ditelusuri dari harian De Sumatra Post karena Sumatra Timur (sekarang dinamakan Sumatera Utara) menjadi gerbang utama masuknya kapal-kapal asing. Koran De Sumatra Post pertama kali memberitakan tentang Flu Spanyol pada terbitan tanggal 6 Juli 1918. Namun saat itu penyakit ini masih dikenal sebagai Flu Rusia. Dituliskan oleh koran De Sumatra Post :

Pada 4 Juli, dilaporkan dari Singapura bahwa wabah influenza Rusia terjadi di sana. Setengah dari populasi terpengaruh. Bisnis mengalami gangguan. Kematian disertai dengan demam. Krisis berlangsung 3 hari.

Lalu koran De Sumatra Post pada tanggal 15 Juli 1918 menuliskan :

58 pria, 6 penyelidik, 3 petugas polisi, 1 pengawas dan 1 mantri telah menderita penyakit dengan keluhan sakit sendi, sakit pinggang dan sakit kepala yang tidak tertahakan, yang menurut Dr. Sjaaf mungkin berasal dari Singapura dan disebut “influenza Rusia” di sana.

Kami juga mendengar dari para pelayan, sakit karena penyakit seperti itu dan dari tukang cuci atau dobi Cina, ada sekitar 10 orang telah meninggal.

Koran De Sumatra Post terbitan tanggal 16 Juli 1918 memuat kembali penjelasan Dr. Sjaaf yang menyatakan influenza Rusia telah menyebar dari Singapura. Dia tidak mengetahui sepuluh kematian yang dilaporkan De Sumatera Post sehari sebelumnya. Ketika itu ia sedang merawat Dr. Jans dan Dr Ijsselsteijn, keduanya juga sakit.

Dr. Sjaaf mengetahui kematian bisa disebabkan oleh Flu Rusia ini. Menurutnya penyakit ini tidak bersifat berbahaya dan sebenarnya dapat dibandingkan dengan influenza biasa: sakit kepala parah, sendi menyakitkan, sakit di pinggang, dan demam. Menurutnya aspirin dan diet digunakan untuk penyembuhan. Dan dia menyarankan untuk tidak terlalu khawatir.

Sampai di bulan Juli 1918, penyakit ini masih dikenal sebaga “Russische Influenza” atau “Flu Rusia” walau pandemi Flu Rusia sebenarnya sudah berakhir pada tahun 1890. Koran De Sumatra Post tanggal 18 Juli 1918 mengutip pemberitaan dari kantor berita Aneta dan Nipa, selain adanya kabar dari Surabaya tentang adanya pemogokan masal yang telah meletus di percetakan Excelsior dimana mereka meminta kenaikan gaji 15 persen, penyebaran flu juga telah sampai di Surabaya. Koran De Sumatra Post menuliskan :

Saat ini influenza terjadi di Surabaya. Penyakit ini memiliki karakter epidemi. Dalam dua hari terakhir, dari 1.500 terpidana di penjara terkena 200. Banyak kasus juga terjadi di kampung-kampung dan di antara personel angkatan laut. Layanan medis sedang mempertimbangkan tindakan pencegahan khusus.

Influenza yang misterius telah muncul di Batavia.Semua dokter mengakui bahwa dalam beberapa hari terakhir telah terjadi sejumlah besar kasus demam lima hari. Seorang dokter dengan kuat dan tegas menyatakan pendapatnya bahwa gejala dari banyak pasiennya, demam tinggi, menunjukkan jenis influenza khusus.

Banyak prajurit sakit di Meester-Cornelis. Penyakit ini pecah pada Jumat lalu di batalion 16. Mayor Smits, Letnan Schmid dan Willemsen juga terkena dampaknya. Rata-rata ada 100 orang dilaporkan sakit per hari. Penyakit ini sekarang juga pecah di batalyon ke-11.

Influenza juga telah memengaruhi prajurit garnisun di Weltatisfied, tetapi tidak separah di Meester-Cornelis. Kemarin, dari orang-orang dari batalyon 10 dan 20 dan pengendara sepeda ordonance, 27 orang dilaporkan sakit, pagi ini 30.

Penyakit misterius ini telah sampai ke Surabaya dan Batavia. Ini tentu mengejutkan tidak saja bagi para tenaga medis tapi juga masyarakat. Karena demam tinggi yang menyebar cepat pada banyak orang, tentu ini bukan penyakit biasa. Dalam koran De Sumatra post tanggal  19 Juli 1918 digambarkan kekalutan itu dan juga lelucon bagi mereka yang ingin bolos atau menghindar dari perkerjaannya.

Semakin banyak penduduk, baik orang Eropa dan pribumi, adalah korban sementara dari influenza yang aneh ini. Setengah kota mendesah dan mengeluh sakit di pinggang dan persendian. Sisanya percaya, mereka sepertinya telah memperhatikan gejala ini mulai ada dalam diri mereka sendiri.

Waktu yang indah untuk pembolos profesional!

– Apakah Jansen tidak ada di kantor?

– Tidak, tuan. Dia memiliki penyakit misterius.

Koran De Sumatra Post, 19 Juli 1918.

Bukan Epidemi, Tapi Pandemi.

Efek dari hadirnya “penyakit misterius” ini tak hanya hadir di perkotaan-perkotaan besar tapi juga jauh di perkebunan-perkebunan. Koran De Sumatra Post tanggal 20 Juli 1918 menuliskan efek dari penyakit misterius ini pada perkebunan-perkebunan :

Rumah sakit-rumah sakit perkebunan bekerja keras mendata para kuli kontrak yang melawan “sakit demam”, sementara kapal terakhir yang membawa tenaga kuli dari Jawa juga membawa orang-orang yang sangat sakit bersama mereka, sebagian besar kena influenza Rusia.

Sekarang beberapa perkebunan tidak memasukkan orang-orang bekerja, pekerjaan jadi tidak terlalu lancar, namun stagnasi tidak terjadi.

Seorang dokter dari rumah sakit perkebunan mengatakan memiliki seratus lebih pasien baru yang diperiksa satu hari ini. Kesibukan yang belum pernah terjadi sebelumnya!

Karena itu, ia memberi tahu kami bahwa penyakit itu bukan epidemi, tetapi pandemi. Semua tampaknya terpengaruh olehnya. Anda akan terkena juga, katanya kepada kami, dan kami harap tidak.

Dan sepertinya tidak banyak yang bisa dilakukan. Kecuali pencegahan dilakukan, sampai penyakit itu berlalu, dan sembuh dengan sendirinya.

Kantor berita Aneta memberi tahu kami dari Sukabumi:

Beberapa siswa dari Cultuurschool terkena dampak penyakit misterius, yang dibawa oleh beberapa siswa, yang kembali setelah liburan besar di pantai timur Sumatra. Penyakit ini bersifat jinak. Beberapa orang yang terkena dampak sudah pulih.

Keheranan telah muncul di beberapa kalangan di Medan karena keterlambatan korespondensi dengan Singapura. Akhirnya kami mengetahui alasan kemandekan ini, ternyata semua staf Eropa di kantor pos Singapura menderita penyakit misterius. Hanya dua petugas yang tersisa di pos mereka. Sisanya ada di tempat tidur di rumah.

Seorang penduduk Pantai Timur Sumatra, yang baru saja kembali dari Singapura, dengan susah payah memperoleh surat-surat yang dikirim kepadanya dari Medan.

Secara bertahap penyakit ini mulai menyerang seluruh Asia Timur di bawah apa yang disebut influenza Rusia.

Operator telepon mengenakan kain kasa pelindung pada tahun 1918. (Foto : Bettmann / Bettmann Archive)

Koran De Sumatra Post tanggal 29 Juli 1918 mengutip kabar dari koran Manila Times yang terbit 23 Juni, di bawah judul “Epidemi Baru Kami” :

…. kesulitan terbesar akibat epidemi influenza saat ini (grippe – American influenza), yang telah menyebar ke seluruh kota dengan sangat cepat, masih dapat dihentikan dengan langkah-langkah khusus.

Tampaknya merupakan peradangan yang sangat kuat pada selaput lendir, menyebabkan batuk, bersin dan demam.

Obat-obatan biasa tampaknya tidak mempengaruhi penyakit, perlu sangat hati-hati untuk mencegahnya menyebar.

Jika Anda merasa demam datang disertai dengan pilek, itu adalah tugas Anda, demi rekan Anda, untuk meninggalkan kantor Anda, untuk pulang dan untuk menghindari kerabat Anda juga.

Jika Anda harus batuk atau bersin, jangan lakukan di tempat terbuka.

Berpalinglah dari orang lain, jika Anda merasa harus batuk atau bersin, dan terutama:

Tidak ada alasan untuk khawatir tentang penyakit ini; sebagian besar itu hanya sangat menjengkelkan, seperti influenza di negara daratan.

Dalam tubuh tidak berbahaya kecuali jika komplikasi dengan penyakit lain muncul.

Isolasi mandiri akan menghentikan penyebaran penyakit, dan sejauh mana penyakit itu tidak menyebar lagi akan akan menentukan berapa lama penyakit itu berakhir.

Pengawasan wilayah dari masuknya orang asing juga dilakukan. Para pengunjung asing wajib dikaratina sekian lama. Ini menyebabkan kapal-kapal penumpang enggan membawa penumpang lagi dan lebih memilih membawa barang, seperti yang dituliskan oleh koran De Sumatera Post tanggal 30 Juli 1918 dengan judul “Tidak ada transportasi penumpang“ :

Koran Andalas melaporkan kemarin bahwa perusahaan pelayaran K.P.M telah memutuskan untuk tidak mengoperasikan kapal penumpang Melchior Treub dan Rumphius untuk sementara waktu karena tingginya jumlah penyakit di Deli.

Namun, kami mendengar penjelasan yang sebenarnya dari K.P. M tentang alasan yang menyebabkan keluarnya ketentuan itu. Alasannya adalah:

Sehubungan dengan kondisi Deli akibat influenza Rusia, maka pemerintah Straits membuat aturan terutama penumpang Cina yang akan ke Negeri Straits, dalam hal ini ke Singapura, harus terlebih dahulu diangkut ke pulau St. Jans, di mana mereka harus tetap berada di sana untuk dikarantina selama beberapa waktu.

Ini akan menyebabkan terlalu banyak keterlambatan untuk kapal layanan cepat Treub dan Rumphius, dan karena alasan itu untuk sementara pengangkutan dibuat oleh melayani pengiriman paket.

Negeri Straits atau Straits Settlements atau Negeri Selat yang dimaksud adalah koloni Britania Raya. Negeri-negeri Selat ini terdiri dari negeri Penang, Melaka dan Singapura.

Penyebaran Flu Spanyol juga sampai ke Sumatera Barat. Koran De Sumatera Post tanggal 2 Agustus 1918 melaporkan adanya sekitar 600 pekerja (kuli) di Sawahlunto sakit keras. Penyakit ini pertama kali muncul di rumah sakit di Fort de Kock (Bukittinggi). Kamar-kamar sudah penuh, sementara staf rumah sakit nya juga menderita influenza.

Pasukan Van den yang telah melakukan patroli selama beberapa hari ke Sawahlunto dan daerah sekitarnya, ternyata ada terkena penyakit tersebut. Pasukan ini terdiri dari 20 hingga 30 orang dan bolak-balik ke Fort de Kock.

Tidak diketahui bagaimana penyakit ini ditularkan dari satu orang ke orang lain, tetapi diketahui penyakit ini sangat menular.

Memang benar bahwa para prajurit  yang melakukan banyak latihan tiap harinya itu menerima nutrisi yang tidak memadai, dan itu bisa menjadi alasan mengapa mereka lebih rentan terhadap penyakit. Tapi di sisi lain, perawat di rumah sakit yang menerima nutrisi yang cukup, lebih dulu terkena dampaknya. Tidak dapat diperbandingan. Ini menyangkut soal daya tahan tubuh, daya tahan perawat di rumah sakit itu juga bisa dianggap lemah karena kurang mampu melawan.

Dan Koran De Sumatra Post berharap : apa pun masalahnya, akan lebih bijaksana untuk memanggil pulang pasukan itu beberapa hari sebelum ada korban lagi.

Bersambung ke bahagian kedua.