Kala Flu Spanyol Singgah di Hindia Belanda (1918) – Bahagian 3

by
Pasien influenza di rumah sakit darurat dekat Camp Funston (sekarang Fort Riley) di Kansas pada tahun 1918. Foto: AP Photo/National Museum of Health.
Pasien influenza di rumah sakit darurat dekat Camp Funston (sekarang Fort Riley) di Kansas pada tahun 1918. Foto: AP Photo/National Museum of Health.

Flu Spanyol singgah di Hindia Belanda (Indonesia). Satu persatu korban jatuh tiap hari. Media-media koran gencar memberikan saran dan tekanan pada pemerintah Hindia Belanda.

Oleh : Edi Santana Sembiring.

Hampir semua negara-negara tak dapat mengelak dari pandemi Flu Spanyol, termasuk Hindia Belanda (Indonesia). Satu persatu korban jatuh tiap hari namun pemerintah Kolonial Belanda juga tidak cepat tanggap. Media-media koran gencar memberikan saran dan tekanan pada pemerintah kolonial dan Dewan Kota. Dapat dibaca pada bahagian berikut ini.

Sambungan dari bahagia kedua.

Koran De Sumatra Post pada tanggal 09-11-1918 melaporkan keadaan kota Tebing Tinggi, bahwasannya ada 4 anggota dewan kota yang menjadi korban flu Spanyol dan pertemuan dewan kota sehari sebelumnya, ditunda hingga hari Rabu tanggal 13 November. Flu Spanyol menjadi teror di sini. Banyak penduduk pribumi yang sakit, dan cukup banyak kematian telah terjadi. Penyakit ini juga menyerang kalangan orang Eropa, tetapi belum ada dikabarkan jatuh korban di kalangan mereka.

Dan koran ini juga melaporkan hasil resep yang dituliskan di pemberitaan sebelumnya, tampaknya sangat baik. Seorang wanita telah menyiapkan sejumlah besar obat racikan dan mengirimkan dalam botol ke beberapa orang Eropa dan mempersiapkannya dalam jumlah besar dan memberi gratis ke setiap orang, terutama penduduk pribumi. Koran De Sumatra Post bertanya, apakah Dewan Kota, setelah melakukan penelitan, dapat melakukan hal yang sama?

Desakan-desakan Anggota Dewan.

Koran De Sumatra Post tanggal 11-11-1918 menuliskan, ada seorang wanita Eropa juga meninggal akibat Flu Spanyol. Terutama di Kampung Petissah, penyakit ini berjalan dengan mengerikan. Anak-anak yang pertama menjadi korbannya.

Koran ini menuliskan harapan, bahwa sudah waktunya bagi Anggota Dewan untuk membuat proposal dimana untuk segera mulai mengeluarkan obat-obatan gratis dari pemerintah kota. Keputusan seperti itu akan segera menunjukkan bahwa Dewan sepenuhnya memahami tugasnya kepada masyarakat.

Koran De Sumatra Post tanggal 12-11-1918.

Esoknya, koran De Sumatera Post (tanggal 12-11-1918) menuliskan rapat Dewan Kota yang dihadiri oleh Mackay, Walikota Medan. Di tengah rapat, Tuan Mohamed Noech membahas tindakan pemerintah terhadap influenza. Seluruh keluarga sakit. Tidak diketahui dari mana mendapatkan obat-obatan. Anggota dewan meminta tindakan dari pemerintah kota. Berbagai langkah dapat diambil baik represif maupun preventif.

Lalu Ketua Dewan Kota menjawab dengan mengatakan akan mendiskusikannya dengan komite kesehatan apa yang harus dilakukan. Dan, Tuan Noech mendesak segera dilakukan.

Ketua Dewan Kota mengatakan bahwa dia baru-baru ini mengunjungi kampung-kampung di sekitar kota. Kurangnya kebersihan di mana-mana telah memungkinkan banyak penyakit timbul.

Tuan Mohamed Noech berpendapat bahwa banyak orang tidak mampu membayar dokter. Apa tidak bisa membantu penduduk ini?

Dr. Vervoort mengatakan bahwa setiap penduduk pribumi, dapat memperoleh obatnya di kota. Bila kebetulan seluruh keluarga sakit, tetangga tetap dapat memberikan bantuan. Sangat sedikit yang bisa dilakukan mengatasi epidemi influenza ini. Langkah-langkah sulit perlu diambil untuk melawannya. Orang yang tinggal paling dekat akan terpengaruh terlebih dahulu. Dan sekarang faktanya terjadi adalah ketika ada penduduk pribumi sakit, seluruh keluarga datang berkunjung. Sementara lain hal dengan orang Eropa, yang segera mengasingkan diri.

Apa lagi yang harus dilakukan? Sangat kecil. Kebersihan dan ventilasi udara adalah faktor yang sangat penting. Orang-orang di kampung sekarang suka bangunan tertutup. Itu tidak bisa dilarang, dan peringatan tidak membantu. Sebuah statistik menunjukkan, bahwa tingkat kematian selama beberapa bulan ini adalah sebagai berikut: 73 orang di bulan Mei, 74 orang di Juni, 89 orang di Juli, 62 orang di Agustus, 73 orang di bulan September atau 495 orang selama 7 bulan dan bisa sekitar 800 orang dalam satu tahun.

Di bulan Juni dan Juli, kematian besar terjadi di antara orang Cina. Influenza menghilang di Soengei Rengas. Sekarang giliran Kampong Petissah. Yang lemah, orang tua dan anak-anak, adalah korban pertama.

Tuan Lodder berpikir bahwa kita tidak bisa menunggu dengan sabar untuk ini, seperti yang tampaknya diinginkan oleh Dr. Vervoort. Kelompok petugas yang memerangi wabah dapat mengantarkan obat-obat ke kampung-kampung.

Ketua Dewan Kota mengatakan, “secara teori itu sangat mudah”.

Dan Tuan Lodder langsung menanggapi, “tentu saja, bila tetap di meja, Orang dapat mengantarkan aspirin dan kina”.

Istri Sultan Langkat Meninggal.

Koran De Sumatra Post tanggal 12-11-1918.

Koran De Sumatra Post tanggal 12-11-1918 menuliskan kabar bahwa Putri dari Sultan Serdang, istri Sultan Langkat, meninggal karena influenza yang menyebabkan pneumonia.

Koran De Sumatra Post tanggal 13-11-1918.

Akhirnya obat-obatan telah mulai dibagi ke daerah-daerah. Koran De Sumatra Post tanggal 13 November 1918 menuliskan :

Dewan Kota telah mengambil langkah-langkah, juga atas dorongan kami, untuk memerangi epidemi influenza sejauh mungkin. Sejumlah tablet aspirin telah dipasok ke semua kepala distrik berikut instruksi penggunaan dan petunjuk untuk mengambil tindakan, dituliskan dalam bahasa Melayu. Lalu obat-obatan didistribusikan lebih lanjut di antara para kepala kampung. Obatan-obatan ini kemudian semakin menyebar di antara penduduk..

Obatan-obatan bernilai f.400 telah diberikan saat ini. Dan jika epidemi masih berlanjut maka dalam waktu sekitar sepuluh hari, bantuan lain dengan jumlah yang serupa akan memasuki kampung-kampung lagi.

Selanjutnya, pimpinan distrik melaporkan setiap minggu tentang jumlah orang sakit dan meninggal kepada kepala pemerintah daerah, sehingga gambaran umum kondisi penyakit menjadi jelas dengan cara ini.

Pekan lalu, 82 orang meninggal di luar perkebunan di Deli Hilir, yaitu di antara penduduk kampung dan penduduk Cina. Sementara perkiraan ada 1800 orang sakit.

Tingkat ketidak hadiran di sekolah sangat tinggi. Misalnya, sekolah pribumi di Bandar Saha ada tidak hadir 70 dari 107 siswa. Namun di sekolah lain, jumlah orang sakit tidak terlalu tinggi.

Upacara “Ratib Toelak Balah”.

Besok malam parade besar akan diadakan oleh penduduk untuk mengusir penyakit ke laut. Prosesi berlangsung dari Deli Toewa dan berjalan ke Laboean, dimulai dengan penduduk masing-masing kampung berjalan mengitari dari ujung kampung ke ujung yang lain. Lalu bergabung melanjutkan prosesi.

Kami berharap keinginan penduduk pribumi dapat terpenuhi dan influenza akan tenggelam di Laboean!

Setelah pertemuan Dewan Kota kemarin, Walikota bertemu dengan dr. Vervoort, yang bagaimanapun dr. Vervoort sekali lagi menyatakan pendapatnya bahwa tidak ada langkah yang dapat diambil untuk melawan epidemi ini.

Penduduk pribumi telah memperoleh izin dari pihak berwenang setempat untuk melakukan arakan prosesi tersebut besok malam, dimulai pukul 19:30 malam hingga pukul 9:00 pagi tiba di Medan. Acaranya dinamakan “Ratib Toelak Balah”.

Prosesi semacam itu selalu agak mengesankan dan disertai dengan tangisan ratapan. Orang-orang telah telah diperingatkan dan tidak perlu takut bahwa perubahan akan dimulai dari sini juga !!

Berikutnya, koran De Sumatra Post tanggal 16-11-1918 menuliskan kabar dari kota Siantar tentang pertemuan Dewan Kota Siantar pada malam sebelumnya. Pertama-tama Ketua Dewan berbicara untuk mengenang petugas kota yang telah meninggal karena penyakit Flu Spanyol. Selanjutnya, segera diputuskan untuk membahas masalah influenza yang ada, yang sudah mempengaruhi banyak orang. Dewan memutuskan untuk mengundang berbagai dokter untuk membantu kotamadya, untuk menyebarkan obat-obatan di mana-mana dan untuk menyelidiki apa yang dapat dilakukan untuk memerangi penyebaran penyakiti ini.

Wafatnya Dr. Knebel.

Koran De Sumatra Post tanggal 20-11-1918 menuliskan kabar duka cita. Dr. Knebel telah wafat. Dr. Knebel, direktur Rumah Sakit Pusat di Padang Boelan (Amsterdam Deli Cie) sejak Maret 1907, meninggal karena pneumonia, yang disebabkan oleh influenza Spanyol.

Pemakaman akan berlangsung esoknya, sekitar pukul setengah sembilan pagi. Dituliskan juga :

Pantai Timur Sumatra kehilangan salah satu tenaga medisnya yang paling terampil, rajin, dan paling manusiawi. Dr. Knebel melakukan tugasnya dengan sangat penuh, menambah kecakapannya yang bermanfaat jauh melampaui tugasnya di perusahaan, terutama untuk kepentingan penduduk pribumi, yang mendapatkan kesempatan pelayanan di Poliklinik.

Ribuan penduduk pribumi dibantu oleh Dr. Knebel dengan obat-obatan paling modern, terutama para pengidap penyakit lupus dan sifilis, yang ia berikan Salvarsan dengan tanpa biaya atau dengan biaya semurah mungkin. Dan para ibu tahu bahwa dia adalah seorang dokter anak yang sangat baik.

Hidupya sangat berguna, tetapi kehidupan manusia menjadi terlalu singkat sekarang, tiba-tiba berakhir karena penyakit. Demikianlah Dr. Knebel wafat di tengah pekerjaan sucinya…..

Salah Berita Duka Cita.

Di tengah situasi pandemi Flu Spanyol, terkadang terjadi kabar simpang siur. Hingga esoknya perlu dilakukan pengumuman ralat.

Koran De Sumatra Post tanggal 21-11-1918 menuliskan :

Tadi malam Kapiten Cina meninggal karena influenza. Penyakit ini juga mulai menyebabkan lebih banyak korban di antara warga negara non-Belanda.

Esoknya, koran De Sumatra Post tanggal 22-11-1918 mengklarifikasi kabar sebelumnya, dengan menyatakan :

Terjadi kesalahan yang paling tidak menyenangkan, kemarin berita muncul di surat kabar bahwa Kapiten Cina telah meninggal. Memang Kapiten telah terkena influenza tetapi sejauh yang bisa kami katakan pagi ini, kondisinya sedang membaik. Kesalahpahaman tampaknya telah muncul, karena hari ini putri seorang Kapiten telah meninggal.

Koran De Sumatra Post tanggal 23-11-1918.

Kabar yang Membuat Lidah Kelu.

Koran De Sumatra Post tanggal tanggal 23-11-1918 menuliskan kabar mengejutkan. Dituliskan, “satu setengah juta orang telah meninggal karena influenza dan penyakit lainnya di Hindia Belanda dalam beberapa bulan terakhir.” Kabar ini didapat dari pernyataan Burgerlijke Geneeskundige Dienst (B.G.D, Dinas Kesehatan Sipil). Kabar ini diumumkan dari Surabaya.

Disampaikan bahwa penyebab epidemi Flu Spanyol ini memakan banyak korban di kalangan penduduk adalah dari kekurangan yang mencolok dari segalanya, seperti kurangnya tenaga dokter, obat-obatan, perumahan yang layak dan sedikitnya sekolah yang memadai. Hanya orang-orang yang sadar akan bahaya yang mengancam kehidupan sehari-hari yang siap menghadapi goncangan epidemi. Orang yang buta huruf, yang tidak pernah mempersenjatai diri untuk melawannya, menjadi korban.

Dan angka mengerikan ini adalah satu lagi teriakan, bahwa Hindia Belanda telah mengingatkan apa yang menjadi haknya sepenuhnya. Dan perlu insentif luar biasa untuk kembali ke prinsip negara, walau tidak sehat secepat mungkin, namun tujuan utamanya adalah untuk membuat orang-orang di semua bagiannya berbagi buah dari tanah nasional.

Masih banyak yang harus dilakukan di sini – seperti yang ditunjukkan oleh angka kematian yang mengerikan ini – bahwa setiap keputusan politik, yang keluar untuk mengeksploitasi Hindia Belanda untuk kepentingan kelompok tertentu, mereka mungkin asing atau domestik, paling sengit yang harus diperangi.

Koran De Sumatra Post pada tanggal 23-11-1918 melaporkan kondisi Aceh. Dari surat kabar di Aceh, koran De Sumatra Post mendapatkan informasi bahwa Flu Spanyol terus menyerang Aceh dan mengabarkan lebih banyak korban di kalangan orang Eropa dalam beberapa hari terakhir. Gubernur memberi informasi bahwa pegawai di kantor, sekretariat dan banyak komite dan panitera sakit. Sehingga penanganan beberapa pekerjaan kurang lancar dari biasanya.

Koran De Sumatra Post tanggaL 28-11-1918 menuliskan keyakinan masyarakat untuk melindungi diri dari penyakit Flu Spanyol :

Meskipun penduduk pribumi umumnya yakin pada kekuatan penyembuhan dari Aspirin, kita sekarang mendengar lagi dari penduduk pribumi, yang mengikuti saran seorang Tengkoe untuk memasukkan djimat ke dalam bak mandi mereka dan air minum untuk memerangi influenza..

Koran De Sumatera Post tanggal 30-11-1918 menuliskan, akibat pandemi Flu Spanyol, beberapa pekerjaan terbengkalai. Seperti pekerjaan penting di berbagai titik jalan di Alas dengan Kota Tjané hingga akhirnya terhenti karena ada banyak terkena Flu Spanyol di antara orang-orang yang bekerja. Perjalanan memakan waktu lebih lama daripada keadaan normal.

Koran De Sumatra Post tanggal 2 Desember 1918 juga menuliskan usaha-usaha masyarakat dalam menangkal pandemi Flu Spanyol. Masyarakat etnis Cina di kota Medan akan mengadakan upacara dengan parade yang diadakan pada hari Selasa, 3 Desember. Masing-masing pada pukul 8 pagi dan 6 sore. Upacara dilakukan untuk memohon berakhirnya pandemi influenza.

Parade akan bergerak melalui jalan : Smidstraat, Paleisweg, Kesawan, Nienhuisweg, Pachtstraat, Nieuwe Markt, Kerkstraat, Spoorstraat, Nienhuisweg, Huttenbachstraat, Hindoestraat, Oudemarkt, Moskeestraat, Rensstraat, Kesawan, Tepekongstraat, Spoorstraat, Vleeschmarkt, Nieuwemarkt, Kerkstraat, dan Hakkstraat. Dan dari sana masuk dan kembali melalui Kamp Cina.

Koran De Sumatra Post tanggal 3-12-1918 menuliskan parade yang dilakukan etnis Cina kota Medan. Minggu sebelumnya, 45 orang meninggal di antara orang-orang pribumi dan Cina dari Deli Hilir. Dan jumlah yang sakit saat ini diperkirakan mencapai 400 orang.

Untuk menangkal penyakit yang ada, penduduk etnis Cina mengadakan upacara dan parade sejak pagi. Banyak nuansa warna merah dan emas dalam prosesi, suara-suara dan atraksi ritua di antara para pengikut. Dan sejumlah anak di dalam mobil berada pada barisan belakang.

Kematian Oktober – November 1918.

Koran De Sumatra Post tanggal 4-12-1918 mengutip berita dari Reuter :

London, 29 November. Dari Capetown : diperkirakan secara resmi bahwa 50.000 kematian terjadi karena influenza di antara orang Eropa di Afrika Selatan, epidemi begitu berkuasa. Sementara di Kanada yang terserang adalah 213.268 orang, dimana 56.047 orang meninggal dunia.

Koran De Sumatra Post tanggal 03-01-1919.

Korban juga kembali berjatuhan. Koran De Sumatra Post tanggal 3 Januari 1919 menyatakan, berdasarkan informasi dari inspektorat tenaga kerja didapatkan statistik angka kematian untuk bulan Oktober dan November pada populasi kuli atau pekerja perkebunan :

Pada bulan Oktober, perkebunan mempekerjakan 199.031 orang pria dan 66.823 orang wanita, dan 316 orang pria dan 95 orang wanita meninggal bulan itu.

Pada bulan November, 195.728 orang pria dan 66.541 orang wanita dipekerjakan, dan 1.085 orang pria dan 372 orang wanita meninggal bulan itu.

Koran De Sumatra Post tanggal 04-01-1919.

Dari dataran tinggi Karo, koran De Sumatra Post pada tanggal 04-01-1919 menuliskan jumlah yang meninggal akibat pandemi Flu Spanyol :

Selama bulan November, tidak kurang dari 602 orang meninggal karena influenza di dataran tinggi Karo, sementara angka kematian bulanan di waktu normal hanya 100 orang.

Angka yang dapat dipastikan untuk bulan lalu belum diketahui, tetapi seharusnya jauh lebih rendah daripada di bulan November.

Bulan Oktober dan November 1918, pandemi Flu Spanyol telah begitu besar membawa korban. Bagaimana selanjutnya?

Bersambung ke bahagian keempat.