Kala Flu Spanyol Singgah di Hindia Belanda (1918) – Bahagian 2

by
Nurses in Boston hospitals are equipped with masks to fight influenza in the spring of 1919. (Source National Archives AS).
Nurses in Boston hospitals are equipped with masks to fight influenza in the spring of 1919. (Source National Archives AS).

Flu Spanyol merupakan penyakit menular yang paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Dan Flu Spanyol singgah di Hindia Belanda (Indonesia).

Oleh : Edi Santana Sembiring.

Wabah pandemi Flu Spanyol begitu menggemparkan dunia sekitar 102 tahun lalu. Hampir semua negara-negara tak dapat mengelak darinya. Jutaan orang meninggal. Flu Spanyol merupakan penyakit menular yang paling mematikan dalam sejarah umat manusia dan jauh lebih berbahaya dari penyakit pes, kolera dan cacar.

Sambungan dari bahagian 1

Dari koran De Sumatera Post tanggal 9 Agustus 1918, didapatkan keterangan tentang keadaan Emmahaven. Emmahaven adalah nama Pelabuhan Teluk Bayur di jaman Kolonial Belanda, dimana dibangun antara tahun 1888 sampai 1893. Terletak di kota Padang, Sumatera Barat. Koran De Sumatera Post melaporkan :

Di Padang ada banyak orang sakit akhir-akhir ini, dan saya mendengar bahwa rumah sakit itu penuh dengan penderita demam dan disentri. Juga di Emmahaven, di mana tidak ada dokter, kami mendengar banyak kasus demam. Dua barak rumah sakit tua di sini sedang dipersiapkan dengan pertimbangan sejumlah besar orang masih diperkirakan sakit. Influenza ini juga berlaku secara epidemi di Sawahlunto. Di Keresidenan Tapanuli, kolera telah meningkat sangat cepat sehingga sekolah-sekolah di Padang-Sidempuan harus ditutup.

A nurse takes the pulse of a patient in the influenza ward of the Walter Reed hospital in Washington. November 1918. (Harris & Ewing/Library of Congress via AP)

Koran De Sumatra Post tanggal 5 September 1918 memberikan informasi tentang penyebaran Flu Spanyol yang kabarnya dimulai dari Spanyol. Di akhir bulan Mei, datang berita tentang penyakit misterius, yang mengancam kehidupan masyarakat. Raja diserang, juga para menteri, hingga pelayanan publik terganggu. Ini membuat bingung.

Pertama di Madrid, kemudian juga di kota-kota lain. Ribuan dan bertambah lagi ribuan orang sakit. Tangan dokter penuh dengan pekerjaan, mencari, menebak penyebab dari penyakit misterius ini. Dan hingga akhirnya menyebar ke Swedia dan akhirnya ke Jerman.

Kota-kota besar khususnya sangat menderita dari penyakit menular ini. Namun diduga tampaknya ini adalah sebagai penyakit flu yang lama, flu yang sudah sangat dikenal, dan yang tidak menyerang Eropa untuk pertama kalinya, meskipun bersembunyi di balik nama yang berbeda.

Dilaporkan bahwa ada 80.000 anak-anak dan 20.000 orang dewasa sudah terpengaruh di Berlin. Di kota Leipzig, Karlsruhe, Frankfurt dan Cologne juga sangat banyak korban. Armada para dokter terus-menerus bepergian. Untuk sementara jumlah kematian belum terungkap.

Kabar kondisi cuaca di Sumatera Timur sangat baik. Hasil panen tembakau memuaskan walau ada kekhawatiran akan penyakit misterius ini. Koran De Sumatra Post tanggal 10 September 1918 menuliskan :

Cuaca pada bulan Agustus dianggap sangat menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha perkebunan di dataran yang lebih rendah. Cuaca yang bagus untuk pengeringan.

Namun perkebunan di dataran sedikit lebih tinggi menerima banyak hujan di siang hari, yang membuat pengangkutan material jadi sangat sulit dan menyebabkan stagnan di pekerjaan di luar ruangan.

Kualitas tanaman baru, sebagaimana telah disebutkan dalam laporan kami sebelumnya, umumnya dipuji. Bahkan disebut lebih baik dari pada kualitas Harvest 1916, yang sudah sangat dipuji oleh Amerika.

Penyortiran pra-panen dilakukan hampir di mana-mana, sementara pertengahan panen siap untuk disortir.

Partai kecil dikirim ke Amerika, sementara ini hanya oleh beberapa perusahaan.

Tampaknya dari satu pernyataan, bahwa beberapa perusahaan mengambil langkah maju untuk perluasan usaha. Penanaman bambu sedang dilakukan untuk menyediakan bahan bangunan bagi pembangunan rumah-rumah desa bagi koloni pekerja Jawa.

Langkah-langkah untuk mengatasi dari bahaya penyakit Beri-beri juga dilakukan dengan penanaman ubi-china dan kacang hijau secara luas.

Tampaknya di mana-mana pembangunan drainase telah selesai. Beberapa pekerjaan pra-gulir telah selesai, sehingga pekerjaan selanjutnya adalah pada pembangunan rumah kuli dan gudang kering.

Influenza tampaknya masih bertahan secara umum dan sangat kuat dan dalam beberapa kasus telah berubah menjadi pneumonia dengan hasil yang mematikan.

Di Penang, korban dari Flu Spanyol kian banyak. Koran De Sumatra Post tanggal 25 Oktober 1918 menuliskan :

Setidaknya menurut media Pinang Gazette, tidak kurang dari 618 jiwa meninggal di Penang dalam 14 hari, dari 7 hingga 20 Oktober. Daftar kematian untuk minggu terakhir menunjukkan pada hari berturut-turut, dimulai dengan hari Minggu, 50, 40, 47, 52, 54, 62 dan 76 meninggal.

Majalah itu juga melaporkan, antara lain, bahwa epidemi itu menyebar dan bahwa seluruh keluarga terkena dampaknya.

Bercermin dari kejadian di Penang yang dianggap mengerikan, koran De Sumatra Post tanggal 26 Oktober 1918 mengingatkan anggota dewan dari Deli Hilir untuk mendesak inspektur pelaksana layanan medis sipil untuk mengambil untuk mengambil tindakan pencegahan jika memungkinkan.

Lebih lanjut dituliskan :

Tetapi Dr Jans memberi tahu kami bahwa tidak ada tindakan pencegahan yang harus diambil terhadap influenza. Itu hanya dapat diberantas sebagai penyakit dan, sebagaimana dikatakan, sudah terjadi. Di Medan, beberapa penduduk termiskin, yang tinggal di beberapa gubuk yang sangat lembab, beberapa korban telah jatuh.

Meskipun penyakit ini hampir tidak meluas seperti di Penang, sepertinya itu tidak diinginkan bagi kita. Memang perlu dikomunikasikan tindakan pencegahan kepada penduduk melalui publikasi resmi dalam koran berbahasa Melayu, atau dengan menyebarkan poster pemberitahuan dalam bahasa Melayu. Meskipun mungkin tidak ada pencegahan yang benar-benar efektif untuk melawan penyakit ini, langkah-langkah melawan infeksi berlebihan tampaknya mungkin dilakukan.

Lalu koran De Sumatra Post menuliskan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk pencegahan agar penyakit flu ini tidak kian menyebar dengan mengutip daftar langkah-langkah yang direkomendasikan oleh Straitsbladen (Singapura) :

  1. Semua pintu dan jendela terbuka untuk masuknya cahaya matahari dan angin.
  2. Tinggal di udara terbuka sebanyak mungkin.
  3. Hindari semua tempat publik, seperti kuil, teater, bioskop, ruang biliar.
  4. Kasur, pakaian, tikar, dan lain-lain harus dijemur di bawah sinar matahari dan dilakukan setiap hari.
  5. Penyebaran bisa terjadi dari meludah sembarangan, batuk, dan bersin. Jangan sekali-kali meludah di rumah kecuali dalam wadah yang berisi desinfektan.
  6. Gunakan saputangan bila batuk dan bersin. Jika Anda tidak memiliki sapu tangan, taruh tangan Anda di atas mulut.
  7. Pada beberapa kasus, menggunakan 5 gram kina per hari tampaknya mampu menangkal infeksi.
  8. Gargel (berkumur di pangkal tenggorokan) rutin dilakukan.
  9. Sikat lantai dengan disinfektan.
  10. Beberapa tetes Eucalyptus oil pada sapu tangan, pakaian, meja kantor dapat mencegah infeksi.

Koran De Sumatra Post juga melanjutkan pendapatnya dengan menuliskan bahwa jika daftar langkah-langkah itu diterbitkan dalam koran berbahasa Melayu dan bisa menarik perhatian dan selanjutnya tersedia secara cuma-cuma obat-obatan di mana-mana, maka bencana seperti yang terjadi di Penang dimana 50 hingga 75 korban influenza jatuh setiap hari, dapat dicegah. Dan tampaknya tindakan-tindakan pencegahan juga sangat penting dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.

Dan kabar duka kembali datang. Koran De Sumatra Post tanggal 28 Oktober 1918 mengutip informasi dari kantor berita Aneta, didapatkan kabar dari dari Singapura bahwa Sultan Perak meninggal karena influenza.

Koran De Sumatra Post tanggal 28 Oktober 1918.

Koran De Sumatra Post tanggal 29 Oktober 1918 memberitakan laporan dari Pantai Barat Sumatera tentang banyaknya korban akibat Flu Spanyol. Dan para dokter tidak berdaya.

Koran De Sumatra Post tanggal 31 Oktober 1918 memberitakan influenza telah menyebabkan rata-rata satu korban jatuh di beberapa perumahan di Medan. Menurut dokter, satu-satunya cara melawan adalah berdiam diri di rumah!

Menurut dokter, rumah-rumah yang dilengkapi dengan udara dan cahaya yang cukup, orang tidak mati karena influenza ini. Namun cukup berbahaya bagi yang hidup di gubuk gelap yang lembab, dan di sana paru-paru terpengaruh dan orang bisa mati.

Koran De Sumatra Post tanggal 1 November 1918 mengutip pemberitaan koran Soerabaja :

Dari Surabaya. Laporan laporan medis kemarin: 83 penduduk pribumi telah meninggal karena influenza. Ketakutan akan wabah pneumonia sejauh ini tidak berdasar. Pemeriksaan bakteriologis menghasilkan hasil negatif.

Koran De Sumatra Post tanggal 1 November 1918.

Koran De Sumatera Post tanggal 4 November 1918 memberitakan ada salah satu perkebunan di daerah Pantai Timur Sumatera di mana seluruh staf Eropa sakit dan 95 persen kuli juga harus tinggal di pondok. Begitu pula di Pangkalan Brandan, beberapa orang Eropa dan banyak penduduk pribumi juga sakit.

Beberapa kampung di sekitar Medan, situasinya juga menyedihkan. Seluruh keluarga sakit, tidak tahu harus berbuat apa, dan menunggu …. sering mati. Dilaporkan juga seperti di Kampung Jati, bahwa setiap hari setidaknya dua orang meninggal.

Koran De Sumatra Post mempertanyakan apakah memungkinkan mereka memiliki obat-obatan yang didistribusikan oleh pemerintah, terutama mereka di kampung, terutama selama sakit dan yang ke rumah sakit. Kiranya obat-obatan yang diperlukan didapatkan secara gratis.

Menurut informasi yang didapatkan, sejauh ini ada 368 orang sakit (jumlah ini menurut De Sumatra Post sangat rendah!), 28 di antaranya meninggal. Dan 40 orang yang sakit telah pulih.

Obat Tradisional untuk Flu Spanyol.

Koran De Sumatra Post tanggal 5 November 1918 memuat wawancara singkat dengan Dr. Schüffner. Dikatakan beliau bahwa pandemi influenza yang terjadi di sini sudah menjadi topik diskusi di kalangan medis dan di layanan medis sejak awal fenomena pertama. Berkenaan dengan pemberian resep umum atau pemberian obat-obatan, bagaimanapun, seseorang menghadapi kesulitan bahwa sains sebenarnya tidak memiliki obat khusus untuk penyakit ini saat ini.

Anti-pirin dan kina mungkin dapat berfungsi sebagai alat pencegahan sejauh penyakit ini bisa menjadi lebih ringan. Sebagai pencegahan, seseorang dapat mengonsumsi setengah gram kina per hari. Sejauh pencegahan penyebaran penyakit yang bersangkutan, ilmu pengetahuan sama-sama tidak berdaya, karena penularannya sangat besar. Dalam keadaan seperti itu, misalnya, mencegah banyak pertemuan orang dewasa atau anak-anak dengan menutup bioskop dan sekolah.

Mengingat besarnya penyebaran penyakit ini, kemungkinan besar hanya dengan menghentikan penularannya dapat membuat epidemi menjadi berkurang. Aturan-aturan seperti tertulis dalam koran di Malaysia, misalnya menghindari kedekatan dengan orang saat mereka batuk atau bersin, semua orang tahu. Sementara petunjuk semacam itu hanya dapat memiliki hasil yang baik jika mereka benar-benar diikuti.

Koran De Sumatra Post menemukan ada perbedaan besar akan pengaruh penyebaran penyakit ini. Misalnya, di perkebunan Senembah hanya ada 3 sampai 4 kematian terjadi di antara 10.000 kuli sejauh ini. Sementara di perkebunan H. A. P. M. yang memiliki 20.000 kuli, ada 160-170 kematian. Tidak diketahui apa yang menyebabkan penyakit ini di satu daerah sangat ringan, di daerah lainnya merusak. Semua pertanyaan ini dibahas di antara dokter, yang bagaimanapun belum memiliki cukup data. Dan sebelum tindakan apa pun telah dicoba dan dibuktikan, tidak ada alasan rasional untuk mengeluarkan peraturan.

Lingkaran dokter medis rajin mencari penyebabnya, kemungkinan cara memerangi dan lain-lain. Ketekunan, selalu dipraktikkan oleh dokter-dokter itu dalam mendalami kasus-kasus seperti ini.

Koran De Sumatra Post menuliskan bahwa bahwa obat-obatan tradisonal masyarakat pribumi, yang akan ditemukan dalam praktek, sangat membantu. Bahkan obat tersebut digunakan oleh salah satu dokter di sini.

Kami juga menanyakan pendapat Dr. Schüffner tentang penggunaan obat-obatan tradisional tersebut, yang sebagian besar adalah ekstrak herbal. Salah satu keberatannya adalah penggunaan yang terlalu sembrono, bahkan tanpa meminta diagnosa dokter. Sebagian besar ramuan yang dibutuhkan untuk obat-obatan tradisional tersebut dapat dicari di sepanjang jalan oleh juru masak atau babu. Tetapi kepastian apa yang didapat seseorang bila ia tidak mengetahui tanamannya. Ramuan itu baiknya didapat dengan tepat sesuai resepnya.

Mereka meminta kami untuk menyatakan resep berikut disini, hal yang sama bahwa kami mendengar diuji oleh salah satu dokter di Medan :

  • 2 gelas kulit pulè pahit di parut kasar,
  • Segenggam daun sembung,
  • Segenggam daun meniran,
  • segenggam daun gagan.

Rebus bahan-bahan ini dengan 6 hingga 7 gelas air, hingga berkurang menjadi setengahnya. Untuk anak di bawah 6 tahun satu sendok teh setiap 2 jam, untuk anak yang lebih besar satu sendok makan setiap 2 jam. Semakin banyak berkeringat, semakin baik. Cangkir teh penuh setiap 2 jam untuk orang dewasa. Sementara itu, jauhkan pasien dari angin; tetap hangat di bawah selimut; itu harus berkeringat dengan baik, jika perlu memakai botol air panas. Semakin banyak keringat, semakin baik.

Sebagai minuman yang membantu mengencerkan lendir di tenggorokan atau untuk obat batuk:

  • 7 buah daun sirih
  • segenggam gula batu
  • sedikit adas
  • sedikit pulusarie
  • sepotong kayu manis cina.

Rebus dengan 2 hingga 3 gelas, lalu tuangkan melalui saringan dan ambil satu sendok makan setiap jam.

Semua ini tersedia di kedeh dan pasar.

Namun, kami ulangi bahwa seseorang harus meyakinkan diri sendiri bahwa ia telah mendapatkan ramuan yang tepat.

Kami diingatkan bahwa di Esplanade, sebelum Hotel Medan, ada 6 hingga 7 pohon pule dan tidak ada ruginya menanam beberapa pohon ini, kulitnya juga digunakan melawan diabetes.

Koran De Sumatra Post pada tanggal 6 November 1918 membahas tentang obat-obat tradisional. Sehubungan dengan pandemi influenza ini, obat tradisonal disebutkan memadai melawan penyakit ini :

Sehubungan dengan influenzae, kami telah beri resep tradisional di koran kami, yang telah disebutkan secara memadai untuk melawan penyakit ini.

Influenza sekali lagi memunculkan pertanyaan lama tentang nilai obat-obatan asli dari Hindia Belanda. Faktanya adalah bahwa intuisi menggantikan sains dalam masyarakat tradisional. Pada masyarakat tradisional, pengetahuan dari pengalaman pribadi telah menjadi semacam standar panduan sendiri, yang tentu saja sangat berbeda dari apa yang selama bertahun-tahun telah disusun oleh ilmu pengetahuan. Namun, pertanyaan telah berulang kali muncul pada kami mengapa obat tropis sejauh ini belum pernah diteliti secara ilmiah. Ini harus dimungkinkan. Sekitar 10 tahun yang lalu, Ny. Kloppenburg-Versteegh di Semarang menerbitkan lembar kerja dengan gambar grafis lebih dari 300 tanaman obat, dengan uraian terlampir dan menyebutkan nama Jawa dan Latin, serta nama penyakit dan obat herbal yang digunakan penduduk pribumi, dan lain-lain.

Pekerjaan semacam itu memang bisa menjadi dasar untuk penyelidikan obat herbal dibandingkan dengan obat-obatan yang dikenal oleh ilmu pengetahuan Eropa terhadap penyakit yang sama. Sejauh yang dapat kami pastikan, dokter Hindia Belanda hampir tidak menaruh perhatian ilmiah pada pekerjaan itu. Dan dokter Djawa tampaknya begitu tekun menyerap ilmu pengetahuan Barat melalui studi mereka, hingga mereka meninggalkan bidang penelitian ini sepenuhnya kosong. Sementara meletakkan hubungan antara pengalaman Timur dan ilmu pengetahuan Barat di bidang ini harusnya tepat dilakukan mereka.

Tentu saja, dokter Hindia Belanda umumnya tidak memiliki waktu untuk studi pribadi yang memakan waktu seperti ini. Namun, dokter kami dapat memulai penyelidikan yang memadai di Belanda, melalui Kolonial Institute misalnya, untuk penelitian maka herbarium harus dipasok oleh para dokter di sini, mengingat ada buku karya Mrs. Kloppenburg, seharusnya tidak memakan waktu atau bukan pekerjaan yang sulit.

Karena itu, ada pertanyaan yang penting meskipun di Hindia Belanda – terutama di Jawa – obat-obatan tradisional ini digunakan dalam skala besar, juga di antara populasi Eropa, sehingga akhirnya nilai sebenarnya harus ditentukan, kebaikan dan keburukannya dibedakan.

Bersambung ke bahagian Ketiga.

Catatan dari Karosiadi :

Pohon Pule. Pohon Pule atau Pulai dengan nama latin Alstonia scholaris ini merupakan jenis tanaman keras yang dikenal juga dengan banyak nama lokal antara lain : Pule (Melayu dan Jawa), Lame (Sunda), Polay (Madura), Hanjalutung (Kalimantan Selatan), Kayu Skala (Minahasa), Rita (Makasar), Lita-lita (Bugis), Rite (Ambon), Tewer (Banda), Leleko (Halmahera), Hange (Ternate), Allag (Irian Jaya). Dr A Seno Sastroamidjojo, dalam bukunya, Obat Asli Indonesia (1967), menyebutkan nama lokal lain, yakni kayu gabus. Sementara di Wikipedia, juga disebutkan nama lokal lamo dan jelutung. Dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini disebut indian devil tree. (Sumber : SatuHarapan.com).

Pohon ini banyak digunakan untuk penghijauan karena daunnya hijau mengkilat, rimbun dan melebar ke samping sehingga memberikan kesejukan. Kulitnya digunakan untuk bahan baku obat, berkhasiat untuk mengobati penyakit radang tenggorokan, sebagai obat demam, malaria, diare dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Ekstrak kulit batang mengandung zat bermanfaat, seperti flavonoida, saponire, dan polifenol.

Sementara khasiat dari daun dan getahnya dapat dilihat pada laman : Khasiat dan Cara Penggunaan Pohon Pule.

Daun Sembung. Nama ilmiah Sembung adalah Blumea Balsamifera. Sinonimnya: Baccharis Salvia Lour, Conyza Balsamifera Linn, dan Pluchea Balsamifera. Sembung dikenal sebagai Sembung Utan di daerah Sunda, Sembung Langu, Sembung Mingsa, Sembung Gula, Sembung Kuwuk, atau Sembung Lelet di daerah Jawa Tengah, Kamandhin di Madura. Dan Sembung, Capa, Capo di  Sumatera. Apompase, Mandikapu di Ternate. Sembung di Bali. (Sumber Wikipedia).

Tentang manfaat-manfaat dari daun Sembung dapat dibaca di laman : 12 Manfaat Daun Sembung untuk Kesehatan dan di artikel Daun Sembung Sebagai Obat Tradisional.

Daun Meniran. Meniran atau Phyllanthus urinaria umumnya liar tidak dipelihara, karena dianggap tumbuhan biasa. Meniran tumbuh subur di tempat yang lembap pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Senyawa kimia yang terkandung di dalam tubuh meniran adalah zat filantin, kalium, damar dan zat penyamak. (Sumber Wikipedia).

Manfaat-manfaat dari daun Meniran dapat dibaca di laman : 10 Manfaat Daun Meniran untuk Kesehatan dan Tingkatkan Kekebalan. Dan artikel yang memuat : Manfaat Meniran serta efek sampingnya.

Daun Gagan. Gagan atau Pegagan (Centella Asiatica) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Dari sumber Wikipedia, nama-nama lokal dari Pegagan adalah : Peugaga (Aceh), Jalukap (Banjar), daun Kaki Kuda (Melayu), Ampagaga (Batak), Antanan, Dulang Sontak (Sunda), Gagan-gagan, Rendeng, Cowek-cowekan, Pane Gowang (Jawa). Piduh (Bali), Bebele (Lombok), Sandanan (Papua). Semanggen (Indramayu, Cirebon), Pagaga (Makassar), daun Tungke (Bugis), Pigago (Minang), daun Tapak Kudo (Solok), Jelukap/Jalukap (Kutai/Borneo).

Sering digunakan sebagai penutup tanah, adakalanya dimakan sebagai sayuran. Ada yang dikeringkan untuk dijadikan teh. Berkhasiat juga sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit. Dapat dibaca di laman berikut akan manfaatnya : Manfaat Daun Pegagan. Dan artikel : Daun Pegagan, Tanaman Herbal dengan Segudang Manfaat.

Adas. Adas adalah tanaman yang mempunyai nama latin Foeniculum vulgare Miller. Tanaman adas berasal dari famili Apiaceae. Adase atau biji adas merupakan salah satu rempah yang banyak ditemukan di Indonesia.

Adas juga dikenal dengan berbagai nama seperti Adas Pedas, Adeh, Porotomo, Wala Wunga, Papang, atau Denggu-denggu, Jintan Manis (Malaysia), atau Sweet Fennel (Inggris). Herbal ini memiliki rasa manis dan pahit dengan bau aromatik yang khas. Hal ini karena kandungannya yang kaya dengan senyawa aktif. Seperti anetol, pinen, fenkon, limonen, metilchavikol, dipenten, anisaldehid dan felandren.

Tentang manfaat-manfaat dari Adas, dapat dibaca pada artikel berikut : Khasiat Adas untuk Kesehatan. Dan artikel : Manfaat Adas yang Menakjuban Bagi Kesehatan.

Pulusari. Pulusari atau Pulasari/Pulosari atau Palasan (Alyxia stellata) adalah tanaman dalam keluarga Apocynaceae. Ia merupakan tanaman merambat dengan kulit batang putih yang memiliki wangi tertentu dan rasanya pahit. Tanaman ini tumbuh liar di hutan dan di ladang daerah pegunungan. Kulit batangnya mengandung zat-zat: zat samak, kumarin, zat pahit, dan alkaloida. (Sumber Wikipedia).

Tentang manfaat dari Pulosari, dapat dibaca di artikel berikut ini : Batang Pulosari dan Pulosari.