Joustra ke Dataran Tinggi Karo Tahun 1.900 (Bagian 1)

by
Dari buku Joachim Freiherr von Brenner tahun 1894 berjudul "Besuch bei den Kannibalen Sumatras"
ilustrasi : Dari buku Joachim Freiherr von Brenner tahun 1894 berjudul "Besuch bei den Kannibalen Sumatras"

Dari Journal “Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap, jrg 45, ( 01-01-1901),” kita akan mendapatkan gambaran dataran tinggi Taneh Karo tahun 1900 dari laporan yang ditulis oleh Pdt M. Joustra. Joustra adalah Zendeling dari Nederlands Zendelingenootschap (NZG). Beliau dalam perjalanan ini akan mengunjungi Lingga, Guru Singa dan desa-desa lainnya serta bertemu diantaranya dengan Sibayak Pa Mbelgah, Pa Pelita dan lainnya.

Dengan berjalan kaki, keinginan kuat Joustra untuk mendapatkan gambaran tentang orang Karo di dataran tinggi Karo akhirnya didapat. Dan tanpa sengaja beliau mengetahui adanya perang “Bengket Salep.” Sebuah perang yang dianggap oleh mereka yang berperang sebagai putusan dari Tuhan.

Berikut tulisan perjalanan Joustra yang berjudul : Naar het landschap Goenoeng-goenoeng, 15-22 Oktober 1900 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ke Wilayah Goenoeng-goenoeng, 15-22 Oktober 1900.

Sudah lama saya berkeinginan kuat untuk mengunjungi lanskap (wilayah) ini. Saya telah mendengar banyak hal tentangnya melalui cerita-cerita saja, dan apa yang saya dengar membuat keinginan saya semakin kuat. Saya juga punya tujuan khusus, antara lain untuk menyelidiki sejauh mana bahasa Karo yang digunakan di sana mempunyai perbedaan dari bahasa Karo jika kita berbicara di sini (di Karo Doesoen maksudnya). Selain itu, saya mungkin memiliki kesempatan untuk mengklarifikasi informasi-informasi yang diketahui dunia barat tentang batas-batas wilayah Karo dan bukan tidak mungkin saya bisa mendapatkan pengetahuan tentang wilayah Alas.

Selain itu wilyah Goenoeng-goenoeng adalah kisah di mana salah satu cerita Karo paling penting dikenal antara lain kisah tentang Sibajak dari Koeta Boeloch di mana saya telah memperoleh beberapa informasi yang tak lengkap. Mungkin saya dapat lebih sempurna mengetahui tentang hal ini di sana.

Orang Eropa telah mengunjungi daerah ini beberapa kali; saya mengingatnya seperti H.H. Meisner, Freiherr von Brenner (beberapa tahun yang lalu datang) dan kedua ahli geologi Jerman ini ditemani oleh H.H. Stuitzand dan Slotemakerdan. Buku von Brenner yang terkenal itu menampilkan beberapa panorama pemandangan gunung yang diambil dari berbagai titik di lanskap ini. Mereka telah bekerja membuat sketsa yang dibuat oleh tuan Meisner, gambar fotografi dikumpulkan oleh von Brenner sendiri, kita telah benar-benar dimanjakan akan dataran tinggi ini.

Baca : Taneh Karo Tahun 1894 oleh von Brenner

Joachim Freiherr von Brenner tahun 1894 menuliskan salah satunya tentang dataran tinggi taneh Karo dan banyak disertakan sktesa foto tentang perkampungan dan orang-orang Karo, hal yang belum banyak diketahui oleh orang-orang Eropah kala itu

Ketika para pengunjung ini bepergian dalam rombongan besar, dengan membawa para kuli, perbekalan, senjata, dan lain-lain, mereka cukup mandiri dan tidak bergantung kepada penduduk.

Saya yang bepergian sendirian (dengan beberapa pemadu orang Karo) harus mendapatkan keyakinan akan disambut dengan baik, selama Pa ‘Mbëlgah masih berkeliaran di sana sini, ini seperti permainan perburuan, kunjungan lebih kurang berbahaya atau lebih kurang dipertanyakan. Namun, sekarang dari si Badjar, mantan murid saya, saya mengetahui bahwa Pa Palita dan Pa ‘Mbëlgah telah berdamai satu sama lain, dan mereka tidak keberatan akan perjalanan saya ini jika saya pergi bersama si Badjar, yang memiliki keluarga di hampir semua tempat. Dan saya memutuskan untuk pergi.

Senin, 15 Oktober kami memulai perjalanan kami. Ketika sampai di Tjingkam, hujan mulai turun. Kami menunggu di gubuk sampai hujan reda, tetapi itu tidak terjadi. Karena sehari sebelumnya saya telah terkena demam dan badan terasa lemas akibat perngaruh pil Kina pagi tadi, kami memutuskan untuk tidak berbasah-basahan dan pergi ke kampung. Kami menginap di rumah Penghoeloe yang sederhana dan sempit.

Keesokan harinya kami pergi melanjutkan perjalanan, dan memutuskan untuk mengejar ketinggalan dengan konvoi hari ini. Jika awalnya kami berencana bermalam di kampung Djawa, kami sekarang pergi ke kampung Goeroe Singa, ibu kampung dari Tandjoeng Beringen, yang berjarak beberapa jam perjalanan. Kami menemukan sambutan yang murah hati di antara kerabat si Perang. Pada malam hari kami mencoba membujuk seorang “pencerita” terkenal bernama Ngëlis untuk menceritakan toeri-toerin, tetapi ia tidak bisa karena dipanggil sebagai guru untuk mengobati seorang anak yang sakit parah.

Kami sadar bahwa Oktober adalah musim penghujan. Pagi berikutnya ternyata hujan lebih deras. Menunggu reda tidak banyak membantu. Terlebih lagi Badjar telah pergi ke Kaban Djahe dan aku berdoa agar bisa bertemu dia di Lingga pada jam yang ditentukan, karenanya kami tidak bisa menunda sampai reda. Kami pergi pada jam 9. Sekarang saya mulai mengenal dataran tinggi, seperti yang selalu dikatakan Kontrolir Westenberg : sangat mistik dan sendu. Perjalanan melintasi dataran yang tertutup kabut, tersandung di atas ladang yang baru dibajak, yang tanahnya menempel pada sepatu seperti gumpalan, berjalan melawan angin yang menghujani kami, dan hujan terasa dingin di wajah. Ini membangkitkan kenangan saya pada negeri Belanda. Orang Karo dapat menikmati suasana dengan pakaian tipis mereka yang berkibar-kibar, dan saya menikmati seperti berada di cuaca “Belanda” yang nyata. Mereka akhirnya senang ketika panas matahari akhirnya muncul.

Kami bertemu Banjar dekat Lingga. Sungguh menyenangkan melihat sawah yang indah. Tidak, tidak benar apa yang dikatakan Kontrolir Westenberg tentang dataran tinggi ini bahwa dikatakan ini adalah negeri yang sangat miskin sehubungan dengan hasil dari tanah. Memang benar bahwa Kontrolir ini hanya mengunjungi bagian timur. Dari daerah di sisi Laoe Bijang dan segala sesuatu yang ada di sisi Poerba, pernyataan itu sepenuhnya benar. Tetapi tidak tepat untuk mengatakan itu bagi Si VII Koeta, banyak kampung-kampung indah disaksikan di sini.

Ini mengingatkan saya akan pernyataan Pdt. Guillaume yang lebih dekat dengan kebenaran bahwa ini adalah “sebuah negeri yang dipenuhi dengan susu dan madu” dan kepadatan penduduk adalah buktinya : kampung Lingga, Soerbakti, Gadjak, Beras Tepoe, Goeroe Singa, dihuni dengan 30 hingga 60 rumah, yaitu terdiri dari 250 hingga 500 keluarga dan semuanya berdekatan. Jika seseorang kemudian memeriksa bahwa Goeroe Singa, misalnya, hampir tidak memiliki sawah, namun sebagian besar masih memenuhi kebutuhan Béras Tagi.

Fakta bahwa disini terdapat padi dan jagung berumur pendek, yang mungkin juga disebabkan berasal dari varietas yang selalu diterpa angin yang berhembus kuat. Saya mendengar komentar yang sama tentang padi Jepang.

Dan sejauh menyangkut bentang alam Goenoeng-goenoeng, bagian Utara dari Laoe Bijang tidak kalah dengan kesuburan dan kelembutan iklim dari Karo Doesoen, seperti yang selalu saya dengar klaim oleh orang Karo dan saya sendiri sekarang sudah bisa melihatnya. Negeri ini dapat dengan mudah memberi makan penduduknya dua kali lebih besar.

Ketika kami tiba di Lingga, kami menemukan Pa Mbëlgah di tempat pandai besi. Dia sedang sibuk mengerjakan pembuatan senapan. Dia meletakkan peralatannya dan dengan suara keras menyambut saya dalam bahasa Karo dan Melayu. Aku menyapa dengan tenang dalam bahasa Karo dan sekarang ia tampak lebih tenang.

Saat kami berjalan ke rumahnya, aku memperhatikan tuan rumahku: mata yang agak kecil, agak tajam, pandangan gelisah memperlihatkan wajahnya agak liar dan kejam. Oh ya, dia memiliki penutup kepala yang khas, tidak seperti yang dimiliki Toekoe dari Aceh.

Pa Mbelgah. Perkiraan foto berasal dari tahun : 1910-1918. Sumber : Tropenmuseum Amsterdam
Pa Mbelgah. Perkiraan foto berasal dari tahun : 1910-1918.
Sumber : Tropenmuseum Amsterdam

Bentuk tubuhnya tinggi dan besar, sedikit bungkuk, memberi kesan kekuatan fisik yang hebat. Seluruh penampilannya dan geraknya sepenuhnya sesuai dengan apa yang dibayangkan akan seorang penyamun atau bajak laut yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam perang, pengembaraan dan perampokan : kasar, kekuatan yang tak terkendali, cerdas dan penuh curiga, namun sebagai tambahan sikapnya tentu periang, murah hati dan santun. Pertama memang ditakuti, namun juga dicintai oleh pengikutnya.

Dia memiliki saudara tiri, yakni Pa Palita yang ramping, pintar, dan lembut, secara otomatis membangkitkan perbandingan dengan Esau dan Jacob.

Sore harinya Pa Palita dari Singa tiba di Lingga. Hari berikutnya pertempuran dengan Kaban Djahe mungkin akan pecah. (1) Orang-orang tidak akan mendengar apa-apa selain berkelahi, terluka, senjata dan lain-lain. Sayang sekali karena kalau tidak, aku bisa belajar banyak dari seorang lelaki seperti Pa Mbëlgah, yang hampir pergi ke mana-mana dalam pengembaraannya, tentang perbatasan wilayah Karo, bahasa dan kondisi Pakpak dan Alas. Sekarang pikirannya tidak ada di sana. Utusan datang dan pergi sepanjang waktu. Dia terus berdikusi. Dia gelisah karena salah satu perbuatan lamanya, sehingga dia cemberut dan pendek berbicara.

Semua pria tersita perhatiannya, sehingga kami tidak bisa mendapatkan pemandu ke Goenoeng-goenoeng. Tersisa seorang pasien rawat jalan, si Mambo, yang bagaimanapun tidak bisa pergi berjalan jauh. Kami akhirnya harus bergantung pada ingatan baik dari si Badjar.

Pagi berikutnya, Pa Mbelgah membawa kami ke Laoe si Gadoeng, di mana ia memberikan beberapa petunjuk selama perjalanan. Bila kasus dengan Kaban Djahe tidak tertunda, dia akan menjadi pemandu saya. Bertanya sana sini hingga kami sampai di sana. Setelah melewati Laoe si Gadoeng, kami melewati jurang yang sangat dalam di Laoe si Goelang-goelang (disebut hulu Laoe Bahoem) dan kemudian berakhir di desa Surbakti yang besar.

Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap, jrg 45, 1901

Di perjalanan, kami mendengar suara tembakan terus menerus dari jauh. Suaranya datang dari prosesi menuju Soeka Soerbakti di mana pertarungan “Bëngkët Salêp” akan menjadi semacam penghakiman dari Tuhan akan terjadi. Suara pikiranku pasti berharap kita pergi ke sana untuk mencari tahu: “merijah kal, Toewan”……

Bersambung ke Bahagian Kedua.

Catatan Kaki :

(1) Ini belum terjadi. Pa Palita rupanya mampu mendorong pengaruh politiknya. Tanpa perlawanan, terhadap pembayaran sejumlah uang oleh Pa Mbëlgah, ini sekali lagi diterima oleh Kaban Djahe.

Catatan tentang Bengket Salep :

Dari tulisan C.J Westenberg yang berjudul “Hukum Adat of The Karo” menjelaskan proses hukum peradilan dan hukum adat yang berlaku di Karo. Ini dimuat di jurnal “Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1914.

Masyarakat Karo mengenal peradilan adat. Balei peradilan adat adalah tempat para kepala kampung menyelesaikan perselisihan yang ada jika dapat ditangani dan diselesaikan. Namun terlalu sering di masa lalu di dataran tinggi, pemutus perselisihan ini dirasa tidak adil karena hubungan kekerabatan dan bagian dari orang-orang besar. Para hakim seringkali tidak cukup mandiri, dirasa kurang adil karena terpengaruh oleh kepentingan keluarga atau kelompok tertentu.

Sementara itu suap juga terjadi (ngalan sisip = menerima uang suap). Terpisah dari kesalahan-kesalahan ini, para hakim pun sering gagal mencapai vonis jika tidak ada kesepakatan. Hingga atas pertimbangan tertentu, hakim menyerahkannya kembali kepada para pihak yang berselisih dan kepala langsung mereka. Hasilnya adalah hubungan yang sangat erat antara hukum kasus adat dan hukum perang. Bahkan hasil penilaian ilahi dalam bentuk pertempuran antara dua pihak dijadikan penentu.

Masing-masing dari mereka akan datang dengan pejuang, kerabat, teman, dan sekutu sebanyak mungkin, dan berdiri di sisi masing-masing. Banyak dari mereka bersenjatakan senjata api, berdiri saling berhadapan. Siapa pun yang paling banyak membunuh atau melukai, maka akan dianggap menang dan perkara selesai. Namun, karena sebagian besar orang Karo bukanlah penembak yang jitu, jumlah korban biasanya sangat kecil.

Hukum Adat of The Karo , Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1914

Cara ini dikenal sebagai “Bêngket Salep,” diterjemahkan secara harfiah “masuk ke lokasi yang penembakan.” Disebut itu karena batas-batas tempat pertempuran ditarik dengan menggambar (salep), sebagian besar dengan daun palem dan bahan lainnya.

Sementara dalam Jurnal “Maandberi van het Nederlandsch Zendeling-genootschap, jrg 117, 1915” dituliskan soal pengertian “Bengket Salep” yang dituturkan oleh Sibayak Pa Mbelgah :

Maandberi van het Nederlandsch Zendeling-genootschap, jrg 117, 1915

Bengket salep, pak! Itu berarti bahwa tanah dipagari dengan tongkat dan dedaunan; siapa pun yang harus bertarung harus masuk ke dalam (masuk ke dalam adalah bengket; tanda adalah salep; lihat kamus oleh Joustra); siapa pun yang tidak bertarung harus tetap berada di luar, penembakan (ke luar) tidak diizinkan; orang-orang di dalam hanya diizinkan menembak lawannya! “