Insiden Merah Putih di Berastagi (Bahagian 2)

oleh
ilustrasi

Dengan hati yang panas, saya menyampaikan ancaman, “Kalau tuan tidak mau minta maaf, keamanan tuan-tuan di sini tidak akan kami jamin.”

Komandan pasukan Sekutu itu membalasnya, “kami sebagai pasukan Sekutu datang ke mari, tidak perlu dijamin keamanan kami oleh anak-anak”

 

Sambungan dari Bahagian Kesatu

Jawabannya tersebut segera saya potong, “kalau begitu baiklah, tunggu! Pemuda akan bertindak!.” Kemudian kami pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Tidak puas atas jawaban pimpinan tentara Sekutu tersebut, pimpinan Barisan Pemuda Indonesia (BPI) mengutus Netap Bukit dengan didampingi beberapa pemuda menjumpai komandan tentara Sekutu di Hotel Merdeka. Ternyata Netap Bukit juga mendapat perlakukan yang sama. Kekesalan di kalangan pemuda kian membesar. Pemuda dan rakyat bersiap-siap untuk mengadakan perhitungan.

Di Kabanjahe pada tanggal 24 November 1945 mulai pukul 08.00 sejumlah 2.000 pemuda bekas Heiho, Gyugun dan BPI se-Tanah Karo mengadakan apel besar di depan Kantor Komite Nasional Indonesia atau KNI (kompleks Sekolah Masehi sekarang), dibawah pimpinan Djamin Gintings, Nelang Sembiring dan Bom Ginting. Pemuda-pemuda yang bersenjata bambu runcing ini sejak tanggal 23 November 1945 telah berdatangan dari kampung-kampung dengan berjalan kaki.

Pada waktu apel pemuda diterima oleh Pemerintah Wilayah Karo di depan kantor KNI, ketika itu juga 2 buah kendaraan Jeep yang penuh berisi tentara Sekutu datang dari arah Berastagi dan terus menuju Kandibata. Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa kedatangan tentara Sekutu ini bermaksud ke Lau Simomo untuk menangkap atau sekurang-kurangnya membubarkan Rapat Pengurus BPI Cabang Tanah Karo yang sedang berlangsung di sana, yang juga antara lain telah mencantumkan dalam agendanya tentang sikap pemuda terhadap pasukan Sekutu yang menduduki Berastagi. Setiba di Kandibata kedua Jeep pasukan Sekutu itu terpaksa kembali, karena kaki tangannya yang seharusnya menunggu di Kandibata telah dapat diamankan oleh BPI Ranting Kandibata.

Sementara itu BPI Ranting Daulu dalam rangka persiapannya untuk menghadang pasukan Sekutu yang melintasi jalan raya Berastagi-Medan mengadakan latihan cara-cara melemparkan granat. Karena pelatihnya kurang memahami cara mengaktifkan dan melemparkan granat maka pada latihan itu jatuh 2 orang korban yaitu Leman Tarigan dan Kurong Sembiring Pandia.

 

Bersiap untuk Bertindak

Melihat situasi telah kian menegang, Ketua I BPI Berastagi, Netap Bukit melaporkan keadaan tersebut kepada Markas BPI Medan. BPI Medan berjanji akan membawa persoalan peristiwa Hotel Merdeka bersama-sama pemerintah RI kepada pimpinan Sekutu di Medan. Dan hasilnya secepat mungkin akan dilaporkan, demikian jawaban yang diterima.

Selanjutnya pimpinan BPI Berastagi segera berunding untuk mempersiapkan diri serta menyusun kegiatan. Pada waktu itu juga markas-markas BPI di kampung-kampung sekitar Berastagi telah diberi instruksi untuk mempertinggi kewaspadaan dan bersiap-siap menunggu perintah.

Tokoh Purba diberi tugas untuk menyampaikan ini. Lalu ia mengerahkan kurir-kurir yang cekatan menunggang kuda untuk pergi ke markas BPI di kampung-kampung sekitar Berastagi.

Setelah semua siap sedia, akhirnya disusul perintah untuk bergerak menuju kota. Menjelang sore, mulailah pemuda-pemuda dari Markas BPI kampung-kampung sekitar Berastagi dengan bersenjatakan bambu runcing dan parang membanjiri kota. Lewat tengah malam para pemuda telah dikerahkan untuk mengepung Bungalow yang ditempati oleh pasukan Inggris dan telah siap menunggu komando serbu.

Dengan perantara telepon, kembali Ketua I BPI Berastagi, Netap Bukit, menghubungi BPI Medan dan mendesak kepada pimpinan agar dibenarkan untuk bertindak. Pimpinan BPI Medan melalui B. Hutajulu pada malam itu berulang-ulang meminta, “Supaya jangan dahulu bertindak, segera akan ada hasil pembicaraan di Medan.”

Penantian belum putus. Malam berganti siang. Para pemuda yang telah menggigil menahan dingin semalaman merasa kesal. Mereka tinggal menunggu komando serbu. Namun akhirnya diputuskan untuk sementara mereka ditarik dan menunggu di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Rupanya pimpinan Sekutu telah mengetahui kegiatan pemuda-pemuda ini berkat laporan dari kaki tangan dan siasatnya. Melihat kegiatan pemuda bersenjata di pagi buta di berbagai pelosok kota, komandan tentara Inggris ini menjadi sadar, bahwa pasukan pemuda akan bertindak.

Untuk mencegah timbulnya tindakan dari para pemuda ini, pihak Inggris mendahului dengan mengeluarkan pengumuman. Dengan dalih untuk menjaga ketertiban dan keamanan, pimpinan tentara Sekutu di Berastagi menginstruksikan kepada semua penduduk Berastagi dan sekitarnya, baik orang tua mapun muda, supaya menyerahkan semua senjata tajam seperti pisau, pedang, lembing dan sebagainya ke kantor Kepolisian RI di Berastagi. Namun hasilnya, tak ada satupun benda yang diserahkan rakyat ke kantor Kepolisian tersebut.

Berikutnya pihak tentara Sekutu menjumpai Kepala Kepolisian Berastagi, Inspektr Simatupang dan mengajaknya bersama-sama ke Markas Pembantu BPI di Matahari Hotel, setiba ditempat tersebut, dia menanyakan dimana saudara Tama Ginting.

Netap Bukit yang ada di tempat menjawab, “Tidak ada di sini.”

Tap secara tidak diduga-duga, Tama Ginting, Ketua Umum BPI Berastagi muncul dari bahagian belakang Matahari Hotel. Dan tanpa curiga terus mendatangi perwira Sekutu tersebut. Setelah bertemu, perwira Sekutu itu meminta agar Tama Ginting naik ke atas Jeep nya untuk bersama-sama pergi ke kantor Polisi Berastagi.

Melihat pimpinannya dibawa oleh tentara Sekutu tersebut, para pemuda menjadi panik. Mereka berkumpul dan berkelompok di beberapa tempat di dalam kota. Setengah jam kemudian, Tama Ginting keluar dari Kantor Polisi dan mengatakan bahwa “mereka meminta bantuan kita untuk melaksanakan isi pengumummannya yang tidak perlu kita indahkan. Sekarang terletak pada kitalah akan tindakan-tindakan kita selanjutnya.”

Dan mulai saat itu, kepada Martinus Lubis sebagai Komandan Pasukan BPI diminta untuk mempersiapkan anggota-anggotanya supaya bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

 

Tentara Sekutu Mengancam

Pada tanggal 25 November 1945, setelah melihat bekas-bekas pengepungan asrama tentara Sekutu, pimpinan mereka menjadi gelisah dan khawatir. Dari bekas-bekas yang ditinggalkan pemuda yang tadinya telah berada di sekeliling asrama mereka, menimbulkan rasa ngeri bagi pihak tentara Sekutu. Karena adalah sulit untuk menghadapi manusia yang begitu banyak, apalagi kalau serentak menyerbu pada malam hari.

Pimpinan Sekutu akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk siap siaga. Ia perkirakan para pemuda itu akan melakukan serangan, untuk itu pasukan Sekutu harus mendahului bertindak menggagalkan rencana pemuda-pemuda itu.

Lebih kurang pukul 07.00 pasukan Inggris yang ditempatkan di Planterschool mulai bergerak ke arah kota. Gerakan pasukan Sekutu ini dengan cepatnya bergerak ke Markas BPI, Markas TKR dan pos-pos pemuda di dalam kota. Melalui kaki tangannya yaitu seorang pemilik Singapura Store (warga Negara India) di Berastagi, dalam waktu singkat berhasil menduduki Kantor PTT, Kantor Polisi, Markas BPI dan kemudian Markas TKR di Bungalow Gedung Johor jalan Udara Berastagi.

Namun tentara Sekutu tak mendapati apa-apa, karena para pemuda telah mengetahui gerakan tentara Sekutu ini. Dan mereka telah meninggalkan markas dan asramanya lalu mengambil kedudukan di tepi kota guna mengatur serangan balas.

Setelah tentara Sekutu menduduki tempat-tempat tersebut, Komandan Pasukan Inggris di Berastagi mengeluarkan ultimatum supaya semua pemuda di dalam kota agar segera menyerahkan senjatanya kepada tentara Sekutu dan barang siapa tindak mengindahkan akan diberi tindakan setimpal. Bersamaan dengan ultimatum dikeluarkan, pasukan Inggris segera mengadakan penggeledahan pada tempat-tempat yang dicurigai.

Penggeledahan hasilnya kosong dan tidak sepucuk senjatapun berhasil disita. Melihat kenyataan ini, pimpinan pasukan Sekutu menyadari bahwa Barisan Pemuda akan melakukan perlawanan. Tidak berapa lama kemudian, seluruh kekuatan tentara Sekutu yang ada di Berastagi diperintahkan berkumpul di pusat kota dan menduduki jalan besar di depan Matahari Hotel sampai Kantor Telepon.

 

Pertempuran Berkobar

Sesaat setelah tentara Sekutu menduduki Kantor PTT, Kantor Polisi, Markas BPI dan Markas TKR Berastagi, pimpinan BPI Berastagi telah mengambil keputusan untuk menggempur pasukan Sekutu. Bagaimana persiapan serangan dilancarkan, Malpal Barus bercerita sebagai berikut :

“Setelah pasukan Sekutu menduduki tempat-tempat penting di pusat kota, saya segera diperintahkan oleh Tama Ginting untuk menyampaikan perintah kepada pasukan BPI di sekitar kampung Listrik untuk bersiap-siap dan mengatur kedudukan pasukan mulai dari Tarum Ijuk sampai ke Kampung Peceren, dengan tugas menggempur musuh bila bergerak ke arah Medan.

Selain itu kepada Barisan Pemuda Kampung Merdeka diinstruksikan pula agar mengatur posisinya di jalan menuju ke Gundaling. Dan bersiap menyerang musuh bila melintas di tempat tersebut.

Dari tempat ini kami segera menuju ke arah Lapangan Terbang di jalan Udara untuk menghubungi pasukan TKR yang telah bersiap di tepi kota. Selain itu juga telah ditelpon ke Markas BPI Daulu mengenai situasi di Berastagi dan disuruh bersiap-siap untuk melancarkan serangan bila pasukan Sekutu lewat di daerahnya.

Sesuai dengan instruksi yang kami terima dari Ketua Umum BPI Berastagi, kepada pimpinan TKR , Krilangna Martinus dan Bahari Effendi Siregar, kami sampaikan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dan kini adalah menjadi tugas TKR untuk melancarkan serangan pendahuluan. Bila Pasukan Inggris mundur, maka pasukan BPI telah siap untuk menghadapinya.

Pasukan TKR dibawah pimpinan Krilangna Martinus dan Bahari Effendi Siregar segera menggerakkan anak buahnya ke arah kota dan dalam waktu singkat berhasil merebut kembali Markas TKR yang tadinya diduduki oleh tentara Sekutu. Walaupun senjata TKR pada waktu itu kebanyakan granat tangan dan mortar tanpa alat pelempar, namun semangat mereka meluap-luap dan tanpa mengenal rasa takut terus bergerak maju.

Karena perlawanan yang dilakukan TKR demikian dekatnya dengan kendaraan yang dinaiki tentara Sekutu, maka beberapa buah granat yang dilemparkan ke kendaraan sebelum meledak dilemparkan mereka kembali ke arah kedudukan pasukan kita yang sedang bertiarap di tempat-tempat tinggi sekitar tepi jalan.

Melihat serbuan yang sangat berani ini, semangat tentara Sekutu menjadi kecut dan tembakan-tembakannya tidak mengenal sasaran. Di tengah-tengah pertempuran, Krilangna Martinus Lubis dan Bahari Effendi Siregar terpaksa keluar dari gelanggang pertempuran karena keduanya mendapati luka-luka terkena pecahan granat.

Namun demikian, pasukan Sekutu berhasil dihalau dari Jalan Udara dan kini dipaksa mundur teratur ke arah pusat Kota untuk bergabung dengan teman-temannya di depan Matahari Hotel. Karena lapangan di depan Matahari Hotel agak datar, maka sukarlah bagi para pemuda untuk mendekatinya. Karena adanya gerakan pasukan Sekutu yang mundur dari jalan Udara menuju Matahari Hotel, maka pemuda yang berada  sekitar Matahari Hotel meningkatkan kewaspadaan dengan mengatur kedudukan guna melancarkan serangan dari arah belakang toko-toko.

Sementara itu pasukan pemuda dari Kampung Merdeka tetap bertahan di tempat semula. Dan pasukan yang mengatur kedudukannya di tempat ketinggian di sepanjang jalan raya mulai dari Loods Atap Ijuk sampai Peceren diingatkan kembali supaya bersiap-siap menampung gerakan mundur pasukan Sekutu.

Lebih kurang jam 12.00 pasukan TKR dan Pemuda mulai lagi melancarkan serangan dari arah jalan Kabanjahe dan melalui belakang toko-toko. Melihat gerakan pemuda yang sungguh sangat fanatik ini, pasukan Sekutu menjadi gugup dan kembali melepaskan tembakan dengan membabi buta. Tembakan-tembakan tidak menentu dan tidak mengenai sasaran ini, semakin menambah keberanian para pemuda dan bergerak terus mendekati kedudukan lawan untuk mencapai jarak lemparan granat tangan.

Pukul 13.00, di bawah lindungan tembakan-tembakan yang membabi buta, semua pasukan Inggris naik ke atas kendaraannya. Pimpinan pasukan Inggris memerintahkan konvoi pasukan bergerak melarikan diri meninggalkan kota Berastagi. Di bahagian depan kendaraan truck berjalan lebih dahulu, sementara kendaraan Jeep menyusul di belakang.

Sesuai dengan instruksi yang disampaikan oleh pimpinan BPI, pasukan pemuda telah mengatur kedudukannya di sepanjang tempat ketinggian di sekitar kampung Listrik sampai Peceren, membiarkan truk-truk lewat tanpa gangguan, tapi setelah kendaraan Jeep mulai menuruni jalan Kampung Listrik, mulailah pemuda dari tempat-tempat ketinggian di tepi jalan melancarkan gempurannya dengan lemparan-lemparan granat tangan, granat mortar, tombak dan senjata apa saja yang ada padanya.

Granat tangan dan mortar yang dilemparkan hanya satu dua yang meledak dan itupun hanya sedikit yang mengenai sasarannya karena kurang pengalaman dan latihan. Tepat pada waktu Jeep terakhir yang ditumpangi oleh 6 orang tiba di belokkan lampung Listrik, sebuah granat tangan yang dilemparkan pemuda jatuh dan meledak di depan Jeep, menyebabkan kendaraan tersebut terjungkir ke parit bersama penumpangnya.

Walau mendapat luka-luka, para penumpangnya segera melarikan diri ke arah semak-semak, bersamaan dengan itu Rauf dan Wagiman gugur, karena setelah mereka melemparkan granat tangan, tentara Inggris menembaknya dan mengenai kedua pemuda tersebut. Dengan tidak menghiraukan temannya di belakang, konvoi bergerak terus karena takut diserbu para pemuda.

Suatu peristiwa yang sungguh menggelikan namun patut dicatat sebagai kenang-kenangan dalam peristiwa Berastagi ini, Netap Bukit menceritakan sebagai berikut :

“Sewaktu pertempuran melawan pasukan Sekutu sedang berkecamuk di Berastagi, tiba-tiba diterima telpon dari Medan. Mr. Luat Siregar melalui telpon berkata,

“Supaya Pemuda jangan dulu bertindak terhadap pasukan Sekutu.”

Saya segera memberikan jawaban,”Pertempuran kini sedang berlangsung dengan sengitnya, Bapak!”

Mr. Luat Siregar terdiam sebentar dan kemudian berkata, “Kalau begitu semoga sukses dan berjuanglah!”

Lalu ia meletakkan telponnya,

 

Digempur Terus

Peristiwa tentara Inggris telah digempur dan lari ketakutan keluar dari Berastagi menuju mundur ke arah Medan, telah diberitahukan melalui telpon ke Markas BPI Daulu. Lalu secara beranting diinstruksikan untuk menyampaikannya pula ke Markas BPI di Bandarbaru, Rumah Pilpil, Sibolangit dan seterusnya. Berita kemenangan ini sungguh menaikkan semangat perlawanan bagi pemuda yang mendengarnya.

Di beberapa tempat seperti di Daulu, dekat Bandarbaru, Rumah Pilpil, Sibolangit, Sembahe dan dekat Pancurbatu segera dipasang rintangan-rintangan di jalan dengan menebang pohon-pohonan ke tengah jalan.

Bersambung ke Bahagian ketiga.