Insiden Merah Putih di Berastagi (Bahagian 1)

oleh
Grand Hotel (Hotel Merdeka) Berastagi

Di tengah-tengah menggeloranya semangat kemerdekaan, pada tanggal 10 Oktober 1945 mendaratlah pasukan Sekutu (baca Inggris) di pelabuhan Belawan. Dan pada sore harinya terus memasuki kota Medan di bawah pimpinan Brigjen. T.E.D. Kelly. Sesuai dengan persetujuan “Civil Affairs Agreement” antara pemerintah Inggris dan Belanda tanggal 24 Agustus 1945 di London, yang boleh mendarat hanyalah tentara Inggris, tetapi dapat diperbantukan pegawai-pgawai sipil Belanda sebagai pegawai  Nederlands Indies Civil Affairs  (NICA).

Dengan kedok NICA inilah Belanda berhasil memasukkan orang-orangnya tidak hanya pegawai sipil, tetapi juga banyak anggota militer. Sebelum tentara Sekutu masuk ke kota Medan, bekas serdadu Belanda yang berasal dari KNIL telah dikumpulkan dan diasramakan pada tempat-tempat tertentu. Mereka diberi pakaian seragam, dan dimasukkan dalam Korps Kepolisian,

Saat tentera Sekutu tiba di Medan, mereka mengadakan demonstrasi baris berbaris  di Kesawan dengan kawalan tentara Jepang. Provokasi pihak Belanda ini memunculkan sikap permusuhan.

Pada tanggal 13 Oktober 1945 terjadilah peristiwa Jalan Bali. Pemuda menyerbu Pension Wilhelmina di jalan Bali (sekarang jalan Veteran, Medan) yang dijadikan asarama bagi tentara NICA. Dan tanggal 15 Oktober 1945 menyusul pula peristiwa Siantar Hotel di Pematang Siantar.

Akibat kemarahan dan perlawanan dari rakyat pejuang yang spontan terhadap orang-orang Belanda dan kaki tangannya, maka pada tanggal 18 Oktober 1945, keluarlah Maklumat Brigjen. T.E.D Kelly, Komandan Tentara Sekutu di Medan, yang isinya melarang rakyat memakai senjata dan diharuskan menyerahkannya kepada tentara Sekutu. Maklumat T.E.D Kelly kemudian disusul dengan gerakakan militer untuk melakukan pembersihan terhadap pihak-pihak yang dianggap mereka melakukan pengacauan.

 

Tamparan Keras Netap Bukit pada De Haan

Awal November 1945 dengan berkedok sebagai petugas RAPWI (Rescue of Allied Prisoners of War and Internees), berangkatlah Den Haan ke Berastagi. Walau ia memperkenalkan diri sebagai petugas RAPWI, tapi jelas ia dikenal orang sebagai warga Belanda, karena pernah tinggal di Berastagi sebelum perang Asia Timur Raya pecah.

De Haan datang dari arah Pematang Siantar lalu melewati Kabanjahe dan terus menuju ke Berastagi dengan kawalan tentara Jepang. Sayangnya, pada bahagian depan kendaraan yang ditumpanginya, secara menyolok bendera Belanda  berkibar.

De Haan datang untuk memeriksa keadaan Pathologische Laboratorium yang awalnya berada di Medan, namun di masa kedatangan Jepang, laboratorium ini dipindahkan ke Berastagi. Namun dibalik kedatangannya ini, De Haan ingin menyelidiki keadaan sebenarnya di Berastagi dan Kabanjahe sekitarnya. Di dalam RAPWI memang sudah dipersiapkan orang-orang Belanda dalam rombongan Inggris yang ditugaskan untuk mengurusi para tawanan perang dan interniran.

Mengapa De Haan diturunkan untuk menyelidiki? Komandan Tentara Sekutu di Sumatera telah merencanakan, untuk menduduki penuh Sumatera Timur, maka pasukan Sekutu yang berada di Padang akan dikerahkan ke Sumatera Timur. Sekutu ingin mendemonstrasikan kekuatannya dengan mengarahkan pasukan-pasukannya di kota Padang untuk bergerak melalui jalur darat : Padang Sidempuan, Sibolga, Pematang Siantar, Kabanjahe, Berastagi dan terus ke Medan,

Begitu terdengar kabar ini, Ketua Barisan Pemuda Indonesia (BPI) Cabang Tanah Karo menolak dan mengeluarkan ancaman :

“Jika tentara Sekutu datang ke Tanah Karo, maka pemuda beserta rakyat Karo akan bergerak memberikan perlawanan.”

Ultimatum pemuda Karo ini rupanya mendapat perhatian dari pimpinan tentara Sekutu dan mengurungkan niatnya melintasi Tanah Karo sehingga setelah tiba di Pematang Siantar mereka langsung berberbelok menuju ke Tebing Tinggi dan akhirnya tiba di Medan. Sekutu tak tinggal diam. Hingga akhirnya De Haan  dipergunakan untuk menyelidiki  keadaan Tanah Karo.

Setelah beberapa jam berada di Pathologische Laboratorium, De Haan kembali bergerak menuju  asrama tentara Jepang yang letaknya di Kota Berastagi. Setibanya di kota, kendaraan De Haan diberhentikan oleh sejumlah pemuda.

Netap Bukit menghampirinya dan meminta kepadanya agar segera menggulung bendera si tiga warna yang berkibar di kendaraan itu. Netap Bukit berkata, “bilamana bendera si tiga warna tuan kibarkan terus, maka bukan saja benderanya akan dirobek oleh pemuda, tapi diri De Haan pun akan turut dibinasakan.”

Melihat gerak-gerik pemuda yang berada di belakang pimpinannya itu telah siap sedia untuk bertindak, maka De Haan buru-buru menyuruh supirnya untuk menggulung bendera tersebut dan kemudian ia pun pamit terus menuju ke Medan.

Peristiwa De Haan bagi Belanda adalah suatu tamparan keras, tapi sebaliknya bagi Netap Bukit adalah merupakan suatu promosi yang tentu tak diduga-duga. Kedudukan yang tadinya sebagai Ketua II Cabang BPI Berastagi, kini dinaikkan menjadi Ketua I. Sedangkan Ketua I yang digantikannya, digeser menjadi pembantu pimpinan karena sikapnya dalam menghadapi De Haa kurang tegas.

Perginya De Haan masih menyisakan tanda tanya. Apa yang akan terjadi kemudian?

 

Tentara Sekutu Menduduki Berastagi

Semenjak keluarnya Maklumat T.E.D Kelly pada tanggal 18 Oktober 1945, para pemuda telah merubah siasat. Tidak ada lagi pemuda yang kelihatan secara demonstratif memakai pistol atau menyandang senjata di tengah kota Medan.  Timbul kesan dikalangan tentara Inggris bahwa mereka telah menguasai keadaan kota Medan dan sekitarnya, sehingga merasa perlu memperluas daerah pengawasan selanjutnya.

Dengan kekuatan 1 Detasemen yang diperkuat, tanggal 8 November 1945 tentara Inggris menduduki Berastagi tanpa seijin Pemerintah Republik Indonesia. Pendudukan kota Berastagi dilakukan dengan dalih untuk melucuti senjata tentara Jepang yang berada di Berastagi dan Kabanjahe.

Sebahagian dari pasukan Sekutu yang menduduki Berastagi ditempatkan di bekas Planterschool dan difungsikan sebagai asrama prajuritnya. Pasukan meriamnya ditempatkan di Bungalouw Sultan Deli di puncak Gundaling dan selebihnya menempati Bungalouw DSM yang berada di jalan ke Gundaling. Sementara para perwiranya ditempatkan di Grand Hotel (Hotel Merdeka) Berastagi, yang sekaligus juga dijadikan sebagai Markas Komando.

Pada mulanya hubungan tentara Sekutu dengan rakyat terutama pemuda baik, karena tentara Sekutu benar-benar telah memusnahkan peluru persenjataan Jepang di sekitar lapangan terbang Berastagi.  Selain itu beberapa tentara Sekutu dengan menggunakan kendaraan Jeep datang ke Kabanjahe dan mengajak pemuda untuk menaiki jeepnya untuk bersama-sama keliling kota.

Tapi baru beberapa hari tentara Inggris menduduki kota Berastagi, penduduk telah menyaksikan bahwa dalam rombongan tentara Inggris tersebut tampak beberapa orang Belanda yang dulu bertugas sebagai pegawai dan Polisi Belanda di Tanah Karo, sebelum Belanda bertekuk lutut kepada Jepang.

Sebuah papan nama yang bertuliskan “Tempat Istirahat Tentara Sekutu” di depan Rumah Sakit Dr. Paneth Kabanjahe juga menimbulkan kemarahan. Pemuda bernama Raja Ingat Purba dan Tala Tarigan segera mendatangi Kepala Pemerintahanan Wilayah Karo dan menyampaikan protesnya atas pemancangan papan nama tentara Sekutu tesebut.

Kepala Pemerintahan Wilayah Karo menegaskan kepada kedua pemuda ini supaya papan nama tersebut jangan diganggu karena pemasangannya telah resmi.  Namun kedua pemuda ini tak mau menerima penjelasan itu.

Mereka segera kembali ke Rumah Sakit Dr. Paneth dan mencabut papan nama yang telah dipancangkan tentara Sekutu itu, lalu menyerahkannya ke kantor Pemerintah Wilayah Karo.

Hal lainnya, tentara Sekutu kerap berpatroli dengan kendaraan bermotor di dalam kota baik di Berastagi dan Kabanjahe. Dibeberapa tempat kerap melepaskan tembakan secara membabi buta. Menggeledah pos-pos pemuda dan rumah-rumah penduduk. Kadang berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk antara lain menganggu wanita.

Melihat gerak-gerik tentara Sekutu yang memperlihatkan sikap kurang bersahabat ini, akhirnya kedatangan tentara Inggris disambut rakyat dengan rasa dingin dan penuh kecurigaan.

 

Insiden Merah Putih

Barisan Pemuda Indonesia(BPI) Cabang Tanah Karo menginstruksikan anggota-anggotanya untuk meningkatkan kewaspadaan. Apakah tindakan-tindakan yang sangat menggusarkan hati rakyat tersebut berasal dari tentara Inggris atau dari tentara Belanda yang membonceng dalam pasukan Inggris, bagi pemuda tidak ada lagi waktu untuk menyelidikanya. Yang jelas bahwa yang melakukan provokasi-provokasi tersebut adalah berseragam pakaian Inggris.

Akhirnya tangan-tangan gatal dari tentara Inggris ini pun membuat sebuah peristiwa yang sangat menusuk hati rakyat, yang semangatnya sedang meluap-luap untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negaranya yang baru bilangan bulan diproklamirkan. Pada tanggal 23 November 1945, Sang Merah Putih yang sejak lama telah berkibar di halaman Hotel Merdeka, diturunkan oleh tentara Inggris dan dibiarkan tergerai di tanah.  Kemdian sebagai penggantinya dikibarkan bendera kebangsaannya ‘Union Jack’.

Kabar ini sampai ke telinga para pemuda, dibawa oleh Dairi Siregar. Wakil Manager Hotel Merdeka ini mendatangi Markas BPI Berastagi (Kantor Perusahaan Air Bersih sekarang) dan langsung diterima oleh Malpal Barus yang kebetulan bertugas piket.

Kabar ini pun secepat kilat meluas dan dimana-mana menjadi bahan pembicaraan dan kesemuanya mencela sikap tentara Inggris. Para pemuda mendesak agar tindakan ceroboh tentara Inggris tersebut harus segera diprotes dan kalau perlu suruh mereka angkat kaki dari Berastagi.

 

Pemuda Sampaikan Protes

Sukar dibendung, pada tanggal 24 November 1945, Ketua BPI berastagi, Tama Ginting mengutus Malpal Barus berangkat ke Hotel Merdeka untuk menyampaikan protes dan meminta pertanggung jawaban dari pimpinan Sekutu  yang berada di Hotel Merdeka, Berastagi.

Malpal Barus menceritakan peristiwa ini sebagai berikut :

“Setelah mendapat perintah dari pimpinan BPI, saya terus mengajak Tampil Karo-karo untuk menemani saya dan kemudian Harun Tarigan menjadi juru bahasa. Dengan menggunakan sebuah kendaraan sedan merk Chevrolet 1939 hasil rampasan dari tentara Jepang, kami bertiga menuju Hotel Merdeka. Setiba di hotel tersebut kami segera menemui piket tentara Inggris dan minta agar dipertemukan dengan komandannya. Petugas piket segera menghubungi komandannya dan kemudian menyuruh kami masuk ke ruang tunggu.

Setelah kami dipersilahkan duduk, pimpinan tentara Sekutu tersebut mengajukan pertanyaan :

“Apa maksud tuan datang kemari?”

Melalui juru bahasa Harun Tarigan, saya menjawab, “untuk menyampaikan protes dan meminta pertanggung jawaban tuan terhadap penurunan Sang Merah  Putih di halaman Hotel Merdeka ini.”

Komandan pasukan Inggris itu membalas, “apa yag telah dilakukan tentara Inggris adalah wajar. Karena telah menjadi tradisi internasional bahwa bendera yang menempati suatu gedunglah yang dikibarkan di bagian depannya.”

Saya membalasnya, “bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang kalah perang, dan yang kami protes adalah tindakan tentara Inggris yang tidak menghormati Bendera Kebangsaan tuan rumah, tempat tuan menumpang. Dari itu tuan harus menyampaikan permintaan maaf kepada Pemerintah Republik Indonesia.”

“Hal itu tidak perlu kami lakukan,” potong perwira Inggris tersebut.

Dengan hati yang panas, saya menyampaikan ancaman, “kalau tuan tidak mau minta maaf, keamanan tuan-tuan di sini tidak akan kami jamin.”

Komandan pasukan Sekutu itu membalasnya, “kami sebagai pasukan Sekutu datang ke mari, tidak perlu dijamin keamanan kami oleh anak-anak”

Jawabannya tersebut segera saya potong ………………….

 

Bersambung ke Bahagian Kedua