Ingatan Inoue Tetsuro Tentang Gerakan Aron (Bahagian 5)

oleh
ilustrasi

 

Saya memerintahkan Fuku-bunshucho (Camat) untuk menyelidiki keadaan dari keluarga korban dan untuk berusaha dengan segala cara untuk membantu mereka. Setelah memuji Kepala Polisi, Roti, untuk jasanya, saya kembali ke Medan, meninggalkan para Aron yang berduka.

Sambungan dari Keempat

 

Dalam waktu dua hari setelah kejadian ini, berita tentang peristiwa di Ujung Labuhan telah menyebar ke seluruh Deli Hulu melalui sistem komunikasi unik dari orang-orang Karo, membawa teror nyata ke Aron yang tersisa. Ini adalah alasan langsung untuk menyatakan keruntuhan total dari kelompok masyarakat rahasia, Aron.

 

Sekitar satu minggu telah berlalu sejak peristiwa Ujung Labuhan. Suatu hari saya makan siang dengan Chokan di kediaman resminya, ketika seorang pelayan membawakan kami surat dari Murni yang ditujukan kepada Chokan. Saya berkata kepadanya, “Berikut adalah surat untuk Anda dari istri Iwan. Tertulis dalam bahasa Inggris, haruskah saya membacanya untuk Anda? Surat itu berbunyi kira-kira sebagai berikut:

 

Yang Mulia, Gubernur Sumatera Timur,

Tolong maafkan saya atas tulisan saya kepada Anda seperti ini. Seperti yang Anda tahu lebih baik dari siapa pun, dua bulan telah berlalu sejak suami saya Iwan dipenjara di Medan. ‘Kebutuhan politik’ yang mengharuskan Iwan untuk tetap dipenjara, alasan yang diberikan Keimubucho (Inoue) kepadaku, tampaknya tidak dihilangkan sampai saat ini.

Saya harus mengatakan bahwa, sebagai keluarga tahanan, kami tidak mengalami kesulitan menjaga diri sendiri, berkat perhatian khusus Yang Mulia. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Anda.

Namun saya sekarang punya masalah baru, Yang Mulia. Sepertinya saya adalah tipe wanita yang tidak bisa puas hanya dengan membuat salad, merajut renda, dan merawat kebun. Sejujurnya, saya ingin memiliki pekerjaan yang bermanfaat. Ketika suami saya di rumah, saya biasanya menghabiskan sebagian besar waktu saya sebagai sekretaris atau penasihatnya dari pada sebagai istrinya. Yang Mulia mungkin memahami berapa banyak kehidupan kosong bulan-bulan ini telah menyiksa saya. Tidak ada yang bisa memprediksi bahwa aku tidak akan menjadi uring-uringan jika aku harus terus seperti ini.

Tolong beri saya beberapa pekerjaan yang bermanfaat – untuk pengembangan saya sendiri dan untuk kepentingan orang lain. Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menemukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan baik dengan koran atau Seicho.

Saya menunggu balasan anda,

Murni

 

“Apa pendapatmu tentang itu?” tanya Chokan.

“Bagaimana dengan kantor cabang Domei Toushin (kantor berita Jepang)? Dia tidak bisa dipercaya sama sekali,” aku menjawab.

Chokan berkomentar, “terlebih lagi, saya mendengar bahwa dia adalah wanita yang sangat cantik. Jika dia mendapat masalah pada pekerjaan, kita tidak akan mampu menunjukkan wajah kita untuk Iwan di penjara.”

“Saya setuju dengan Anda. Ketika kami menemukan pekerjaan untuknya, kami sebaiknya mendapatkan izin dari Iwan.”

“Bagaimana kalau mempekerjakan dia untuk sementara waktu, dengan dasar percobaan, di kantor Anda di Departemen Kepolisian? Dia seharusnya tidak memberimu masalah.”

“Dia sepertinya tidak suka ada hubungannya dengan polisi, tapi saya akan membicarakannya dengannya besok,” jawab saya.

 

Lima hari setelah diskusi antara Chokan dan saya, Murni sudah mulai bekerja di kantor Departemen Kepolisian. Dia sangat pandai berbahasa Belanda, bahasa Inggrisnya jelas, dan ketikannya sangat luar biasa. Awalnya saya memintanya untuk mengetikkan ‘daftar riwayat hidup,’ untuk menguji kemampuan mengetiknya supaya lepas dari rasa bosan.

Dia selalu datang ke kantor dengan pakaian yang sederhana berciri khas Indonesia, wangi parfum heliotropenya menyebar ke sekitar ruangan. Dia menambah warna baru bagi kantor, di mana sebelumnya hanya ada gadis pembantu berwajah Eurasia, yaitu Elly.

Saya memperkenalkannya kepada Salmiah, yang bekerja sebagai juru ketik di Departemen Perhubungan, dan saya pikir mungkin akan menjadi teman baik untuk Murni. Mereka sangat luar biasa dalam bekerja sama. Salmiah adalah keturunan bangsawan – seorang putri dari adik bungsu Sultan Deli.

Murni datang ke kantor tepat waktu setiap hari dan tampaknya antusias dalam mengetik. Dalam beberapa hari dia telah menyelesaikan ‘daftar riwayat hidup’ nya.

 

Sejarah Hidup Murni (Garis Besar)

Murni adalah keturunan Eurasia, ayahnya yang dari keturunan Belanda bernama D adalah Wakil Manajer Belanda dari sebuah perkebunan tembakau di dekat Binjai di Langkat Bunshu, dan ibunya seorang wanita Jawa bernama Saniam. Ketika dia berusia sekitar tiga tahun, si D kembali ke Belanda, meninggalkan Saniam. Meskipun D mencoba membawa anak itu bersamanya, Saniam berhasil mencegahnya dengan perlawanan kerasnya.

Akibatnya, Murni ditinggalkan di tangan Saniam. Belakangan seorang pengusaha Belanda bernama H, kebetulan melihat kecantikan dan bakat Murni, dan mengusulkan untuk membesarkannya. Murni kemudian datang untuk dirawat oleh H;  itu adalah saat bahagia. Murni datang untuk mencintai H seolah-olah dia adalah ayah kandungnya. Namun, selama tahun pertamanya di sekolah bagi perempuan di Sekolah MULO, tuan H meninggal mendadak dalam kecelakaan mobil yang tragis. Murni harus kembali ke rumah ibunya di dekat Binjai, tetapi uang untuk pendidikannya hingga sekolah menengah telah dijamin oleh surat wasiat yang dibuat H kepada sanak saudaranya sebelum ajal menjemputnya.

Sementara itu ibunya, Saniam, telah menjalin hubungan intim dengan seorang pria Jawa yang disebut Hassan. Suatu hari si ibu berkata kepada Murni, berharap untuk persetujuannya, “Saya berpikir untuk tinggal bersama Hassan. Bagaimana, apakah kau menyetujuinya?”

Murni pada awalnya menentang rencana itu karena ia sama sekali tidak menyukai pria itu dan karena ia merasa bahwa ia harus menjaga dana pendidikannya. Namun, pada akhirnya, Murni harus setuju, karena simpati terhadap kehidupan Saniam yang sepi, karena dia sudah menjadi janda untuk waktu yang lama. Hassan datang dan tinggal di rumah, seperti yang Murni telah duga, ia tinggal hidup menganggur. Barang-barang yang tersisa milik ibunya dijual satu demi satu.

Karena suasana di rumah tidak menyenangkan, Murni berusaha pulang ke rumah selarut mungkin setiap hari, dan juga mulai menyibukkan diri pada hobi musiknya. Dia memiliki bakat musik dan segera menjadi populer di kalangan teman-teman sekelasnya. Mereka mulai menyebutnya sebagai ‘Nightingale’ atau Burung Nuri, nama panggilan untuknya karena suaranya yang luar biasa indah.

Setelah semua barang-barang milik ibunya dijual, dengan licik Hasan menggelapkan dana pendidikan Murni. Hassan akhirnya melarikan diri. Meskipun ibunya meratapi hal itu, tidak ada yang bisa dilakukan. Saniam terpaksa harus bekerja untuk menghasilkan uang demi menghidupi dirinya sendiri dan putrinya dan juga untuk menyediakan pendidikan terakhir bagi Murni, tetapi penghasilannya jauh dari cukup.

Dengan demikian, Murni kadang-kadang harus bekerja sebagai juru ketik untuk perusahaan Belanda ketika ia punya waktu luang di luar dari jam sekolahnya. Melalui kontak-kontaknya dengan Belanda, banyak hal yang dia saksikan. Murni, sebagai seorang gadis yang sensitif, secara bertahap lama kelamaan bersikap anti terhadap Belanda.

Murni telah berhasil lulus dari Sekolah Perempuan MULO, dan ia kebetulan berkenalan dengan seorang pria muda bernama Iwan Siregar, yang tinggal tak jauh dari dekat tempatnya. Iwan berperawakan tinggi dan tegap, tapi wajahnya kusam. Meskipun ayah Iwan adalah orang terkaya di distriknya, Iwan kemudian hidup sendiri sebagai akibat dari perbedaan pendapat yang tajam antara Iwan dan ayahnya.

Dia sepertinya tidak memilikinya pekerjaan tetap tetapi selalu sibuk belajar, ia dikelilingi tumpukan buku. Setelah mengetahui bahwa Murni dan ibunya hidup dalam kemiskinan, ia mulai memberi mereka dukungan keuangan setiap kali ada kesempatan.

Melalui interaksi dengan Iwan, Murni tertarik kepadanya atas dua dasar. Pertama, Iwan bukan hanya sangat berpengetahuan – terutama dalam politik, sosiologi dan psikologi – tetapi juga sangat perduli dengan hak-hak orang Indonesia dan keadaan nyata Indonesia, menempatkan pertanyaan-pertanyaan ini dalam perspektif yang mengagumkan.

Kedua, dia sangat berbeda dari kebanyakan pria muda yang berharap bantuan gadis-gadis cantik. Dia lebih tua dari Murni hanya lima atau enam tahun, tetapi dia bersikap seolah-olah dia adalah ayah atau gurunya dan memberikan ceramahnya tentang sosiologi praktis.

Persahabatan ini akhirnya menuntun keduanya menuju ke pernikahan. Kabar pernikahan mereka mengejutkan dan sekaligus mengecewakan banyak pria Belanda dan Indonesia yang sejak lama tertarik dengan kecantikan dan bakat Murni. Setelah menikah, Iwan diangkat menjadi ketua partai Gerindo di Pantai Timur Sumatra, dan menjadi kian terlibat dalam kegiatan bawah tanah berupa gerakan anti terhadap Belanda.

Murni, meskipun seorang wanita, mendukung Iwan dengan menjadi pemimpin partai Gerindo cabang Binjai. Imbas dari kegiatan mereka tak terelakkan, mereka berada dalam tekanan tanpa henti dari pihak Belanda dan Sultan. Mereka harus menghadapi kesulitan terus menerus.

Ketika Jepang memulai serangan besar terhadap Singapura pada tahun 1942, Iwan menyadari bahwa pendaratan Jepang di Sumatera akan segera terjadi. Ia mendengarkan siaran radio dari Malaya secara diam-diam. Dia segera mengirim misi ke Penang dan berhasil menghubungi pasukan tentara Jepang, Fujiyama Kikan.

Kemudian ia memulai kegiatan bawah tanah dengan nama ‘Gerakan F’ di seluruh Sumatera Timur, yang bertujuan untuk mendukung pendaratan Jepang seperti yang diharapkan. Setelah pendaratan ini terjadi, ia membantu Kempeitai Jepang di Medan untuk menemukan sisa pasukan Belanda, elemen musuh dan senjata yang tersembunyi. Ia ikut membuat propaganda dan memberikan informasi kepada penduduk. Bagi Murni, ini adalah saat baginya bepergian untuk membuat pertunjukan menyanyi untuk menghibur tentara Jepang.

 

Beberapa hari sejak Murni menyerahkan daftar riwayat hidupnya, dia datang bukan hanya untuk menangani pekerjaan sulit di Departemen Kepolisian, tetapi juga menunjukkan perhatian yang luar biasa ke banyak daerah. Ketika berurusan dengan pengaduan dari orang miskin, dia menunjukkan perhatian yang luar biasa. Dulu dalam interogasi penguasa Belanda, ia memainkan peran sebagai penerjemah yang baik. Analisa atas informasi yang ia dapat sama bagusnya dengan analisa yang ahli/spesialis di bidang ini.

Selain itu, karena ia suka menata bunga, setiap ruangan di Departemen Kepolisian mulai tercium semerbak wangi bunga dari bunga yang diletakkan di sana olehnya. Saya tidak tahu mengapa, tetapi Mawar merah dan bunga Lili putih ditempatkan secara rapi di ruangan saya.

Adapun Iwan, kesehatannya telah membaik sejak ia pertama kali dimasukkan ke dalam penjara. Ia diberi ruangan khusus dengan fasilitas tempat tidur dan meja, ia makan makanan yang disiapkan oleh Murni, dan ia diizinkan untuk berolahraga dan membaca surat kabar dan buku secara bebas. Saya juga tidak lupa untuk mengirim kue dan sebagainya kepadanya melalui seorang pelayan setiap kali kami memiliki beberapa di rumah. Pada awalnya ia murung setiap kali dia melihat saya, tapi sekarang ia telah menjadi cukup ceria.

Suatu Minggu saya pergi dengan menunggangi kuda kesayangan saya, Marco. Kuda itu secara naluri pergi menuju distrik Mangalaan yang damai dan indah. Sebelum saya menyadarinya, saya lewat di depan rumah Murni. Keluarga Murni hidup sederhana di sebuah paviliun yang sebelumnya dimiliki oleh Belanda, dan sekarang disewakan kepada mereka oleh pemerintah Jepang. Seseorang di dalam rumah sepertinya sedang memutar rekaman ‘Serenade of Dorigo’ dan bisa terdengar di luar.

Saya hanya bertanya-tanya dalam hati ketika seorang gadis cantik berusia sekitar lima tahun berlari keluar rumah dengan riang. Saat melihatku, dia melompat kembali ke rumah karena terkejut. Saya bisa mendengar suaranya memanggil, ‘Kakak!’ Setelah beberapa saat, Murni keluar dengan pakaian rumah yang sederhana dan memberi saya sambutan yang hangat.

Murni, gadis itu dan aku mulai mengobrol, duduk di tanah di samping Marco, yang sedang mengunyah rumput. Saya berkata kepada Murni, “Saya pikir gadis ini anak Anda, tetapi sepertinya bukan.”

“Tidak, kami belum punya anak,” dia menjawab dengan nada yang agak sedih. Lalu, tiba-tiba, dia menunjuk ke atap dan bertanya, “Apakah kamu suka merpati? Lihat! Di atas sana. Merpati berciuman dengan lembut.”

Tiba-tiba langit menjadi mengancam, dan awan hitam hitam berarak dengan kecepatan seperti kuda mengamuk. Murni membiarkan angin kencang mengusik rambut hitamnya, dan menatap dengan penuh semangat ke awan-awan yang bergejolak. “Dari semua keajaiban alam, ini adalah momen favorit saya,” dia bergumam dengan ekspresi yang tampak gembira sekaligus juga menitipkan rasa sedih.

 

Satu atau dua minggu sejak peristiwa yang dijelaskan di atas berlalu, suatu hari saya ditegur oleh Chokan setelah makan malam.

“Kau sudah sedikit aneh akhir-akhir ini, benarkan? Terus terang saya ingin bertanya kenapa…… Misalnya, suatu kali ketika saya kembali dari berjalan-jalan dengan Chiro (anjing peliharaan Chokan), saya menemukan Anda dalam pakaian/jubah Cina yang tertidur lelap di halaman rumput, basah oleh embun malam. Ketika saya membangunkan Anda, Anda mengatakan Anda tidak ingat apa yang telah Anda lakukan malam sebelumnya. Ini terjadi lebih dari sekali atau dua kali. Dokter A, tempat saya berkonsultasi, menyatakan bahwa Anda mungkin menderita somnambulism, mungkin dipengaruhi oleh semacam ilusi.”

Pada detik ini, saat Chokan berbicara, saya merenung dan bertanya-tanya dalam hati, “Bagaimana jubah Cina ini bisa mengeluarkan parfum heliotrope?” – sebuah pertanyaan yang belum dapat saya jawab sendiri.

Chokan melanjutkan, “terlepas dari masalah ini, saya menduga bahwa insiden ini terkait dengan tekanan mental dan menguras pemikiran yang tidak masuk akal. Anda telah bekerja secara intensif dari penyelesaian urusan aron ke pembebasan 180.000 hektar lahan perkebunan tembakau. Mengapa Anda tidak beristirahat di Berastagi? Saya percaya, kita tidak kekurangan tangan membantu sekarang di kantor.”

“Biarkan aku memikirkannya sejenak.”

 

Mengikuti saran Chokan, pada akhir November saya memulihkan diri di Berastagi (70 kilometer selatan kota Medan), sebuah resor terkenal di dataran tinggi Karo dengan ketinggian rata-rata 1.500 meter. Terlihat luas hamparan bunga Anyelir, Cannas, bunga Lili, Gladioli, Krisan, bunga Mawar, dan sebagainya. Tempat itu dikelilingi hijau rumput di banyak taman di sekitarnya, dan Gunung Sibayak memberikan pemandangan lain, ia mengeluarkan asap putih turun ke bawah menuju kota.

Suatu Minggu pagi ketika saya masih berada di Berastagi, Murni dan Salmiah, keduanya berpakaian sehari-hari, mengunjungi saya tanpa kabar dari Medan yang jauh. Setelah menyapa saya, mereka menjelaskan bahwa alasan kunjungan mereka adalah karena mereka tidak mendengarkan kabar apa-apa sejak saya meninggalkan Medan.

Kami memilih minum teh di teras rumah dan menyantap kue yang mereka bawa. Tempat menunggang kuda yang indah dari sebuah klub menunggang kuda, bisa dilihat di bawah kami. Seorang lelaki yang menunggang kuda abu-abu terlihat sedang berlari-lari.

Meskipun Murni dan Salmiah sedang bergembira, gembira dengan udara segar dataran tinggi dan bunga-bunga indah, saya menjadi semakin pendiam. Akhirnya kekesalan saya berkembang ke titik di mana saya merasa saya akan mengaum kepada mereka jika situasinya berlanjut terus seperti ini. Saya meminta maaf, saya meninggalkan teras dan berlari menuruni lereng ke tanah berkuda.

Aku melompat ke atas kuda, mencambuknya dengan kuat dan seperti orang gila menuju lapangan rumput yang luas di luar tempat berkuda. Saya naik dari satu ujung lapangan ke ujung yang lain, memaksa kuda melompati setiap parit, bukit kecil dan pagar di jalannya.

Sebuah suara di dalam diriku menangis, “Jika kamu seharusnya menjadi orang gila, mengapa tidak bertindak seperti itu?” Aku mencambuk kuda lagi…..

 

Seseorang memanggil saya. Siapa ini?

Saat itu malam ketika aku terbangun, dan melihat di samping bantalku, ada Murni dan Salmiah yang menatap sedih dan terpaku pada saya.

 

TAMAT.

 

Sumber :

The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942-1945 by Jennifer Brewster, Jean Carruthers, Anthony Reid, Oki Akira

 

Catatan :
Arnhemia adalah Pancur Batu