Goeng Daling, Kentang Hingga Terbukanya Taneh Karo

oleh
Truk pertama di dataran tinggi Karo
Truk pertama di dataran tinggi Karo

 

Koran De Sumatra Post pada tanggal 04 Mei 1938 membahas perkembangan dataran tinggi Karo. Artikel ini menuliskan bagaimana jalannya “penemuan” dataran tinggi Karo ini 30 tahun yang lalu. Untuk mencapainya bukan hal yang gampang dan di tahun 1930an diperkirakan ada 11.000 lebih orang Eropah yang bekerja dan bertempat tinggal di Pantai Timur Sumatra. Dan dataran tinggi Karo adalah pilihan terbaik untuk beristirahat. Berikut tulisannya :

 

Dataran Tinggi (Karo)

 

Siapa pun yang tiba di Pantai Timur untuk pertama kalinya, biasanya segera berkenalan dengan Dataran Tinggi. Area rekreasi Pantai Timur ini telah diketahui selama sekitar tiga puluh tahun bagi para pekerja di dataran rendah. Sebelumnya hanya ada beberapa yang pernah melakukan – perjalanan yang sangat berat – ke daerah di belakang lereng gunung yang tinggi dan ditumbuhi rumput. Sekitar tahun 1908, adalah awal “penemuan” daerah “atas” oleh daerah “bawah.” Pada saat itu setidaknya ada jalan yang baru saja mulai dibangun, tetapi masih memiliki kerumitan, karena sebagian dari jalan menuju pegunungan itu sebenarnya masih benar-benar belum selesai.

 

Ada sebuah bangunan di dekat daerah yang disebut “Dolok Goendaling” tetapi bentuknya masih berbentuk bangunan gudang. Ini adalah kantor orang Eropa pertama di Berastagi, yang dirancang oleh arsitektur dari Deli Maatschappij yang bertanggung jawab pada   Mr J. van Vollenhoven.  Bangunan ini berada di kaki bukit yang dikenal sebagai “Goeng Daling.”

 

Kebetulan, pengawas bagunan ini tidak hadir secara permanen, tetapi pondok itu berulang kali dihuni, setelahnya segera lebih banyak villa dan bungalow di daerah itu dibangun.

 

Gudang ini sebenarnya merupakan bangunan “bersejarah,” namun kini tidak dapat digunakan lagi, dan kini kian terlihat tanda jatuh dalam keruntuhan. Bangunan ini pernah memainkan peranan penting, meskipun tidak terlalu terekam dalam sejarah. Karena dalam gudang ini telah hidup selama beberapa tahun aktifitas pengajaran di bidang pertanian.  Sekolah Pertanian Wageningen awalnya memperkenalkan budidaya tanaman kentang kepada orang-orang Karo.

 

Bapak H. M. Botje adalah orang yang pertama kali  memperkenalkan kepada penduduk dataran tinggi Karo tentang bagaimana menanam kentang pada sekitar tahun 1912.  Ia harus mencari metode pengajaran khusus kepada penduduk Karo yang sangat pendiam dan terlalu waspada terhadap hal-hal yang baru. Seperti melihat kucing yang mengawasi dari atas pohon.

 

Namun, begitu mereka melihat hasilnya, mereka muncul sendiri.  Dan meskipun masih ada kesulitan dalam hal  pengairan dan pemasaran, dapat dikatakan bahwa sekitar tahun 1914 budaya kentang di Dataran Tinggi  berjalan baik. Pada akhir tahun itu, menurut perhitungan oleh pengawas di Kaban Djahe, saat itu penduduk sudah mendapat 16 Milliun per bulan dari kentang saja.

 

 

Budaya pertanian produk sayuran dan lainnya berkembang sejak saat itu. Ini harus disebutkan sebagai fakta yang luar biasa, bahwa kebangkitan ekonomi ini di Dataran Tinggi Karo juga imbas dari berkembangnya perkebunan tembakau di dataran rendah. Mr. Vollenhoven pun membujuk para pemimpin Karo untuk diijinkan memanfaatkan hamparan tanah luas  yang ada di sana yang tidak digunakan untuk segala macam tujuan. Dari diskusi tentang masalah ini, lahir ide untuk menciptakan semacam layanan informasi.

 

Sementara itu jalan lebih lanjut telah disempurnakan, yang tidak berarti bahwa itu segera sempurna.  Sebuah peristiwa yang mengharukan ketika truk pertama mendarat di dataran tinggi setelah melalui perjalanan yang penuh petualangan dan berbahaya..

 

Sampai sekitar tahun 1915, masih banyak orang di daerah dataran rendah itu yang mengalami kesulitan untuk menikmati hawa dingin pegunungan. Satu-satunya cara pada awalnya membuat perjalanan dengan kereta api dari Medan ke Arnhemia, lalu dilanjutkan dengan mobil sewaan – yang kemudian ditukar beberapa kali – dari Arnhemia ke Tongkoh.  Perjalanan bisa menghabiskan waktu satu hari, tetapi kadang tidak tercapai. Pilihan beristirahat bisa di Sibolangit atau di Bandar Baru atau mungkin mencari tempat berlindung untuk bermalam. Biayanya perjalanan ini bisa sampai seratus gulden.

Setelah bertahun-tahun membangun, perkembangan lalu lintas ke dataran tinggi berjalan sangat cepat. Jalan terus ditingkatkan dan semakin banyak mobil yang digunakan, sehingga perjalanan dengan mobil sewaan benar-benar menjadi tidak digunakan. Kemudian pentingnya “Stasiun” Tongkoh juga berkurang, yang sebelumnya merupakan  perhentian yang penting.

Akan tetapi tempat beristirahat bagi para pedagang garam ini (yang terbiasa berjalan dari Dataran Tinggi ke dataran rendah dan sebaliknya) menjadi tempat rekreasi  bagi para wisatawan yang melalui lintasan itu. Bisa mendapatkan minuman air nira/aren. Tempat perhentian ini yang dulunya juga menjadi tempat istirahat kuda, kini beralih fungsi menjadi kantor polisi, di mana orang yang lewat dipantau.

 

Perjalanan Mr.Cremer ke Dataran Tingggi Karo tahun 1907
Perjalanan Mr.Cremer ke Dataran Tingggi Karo tahun 1907

 

Seluruh perkembangan dataran tinggi memang kian menenonjol, juga dari sudut pandang administrasi pemerintahan. Pada tahun 1906 seorang Asisten Residen ditempatkan di Sariboe Dolok, sedangkan pada tahun 1912, Pematang Siantar ditunjuk sebagai tempat kedudukannya. Dan Controlir ditempatkan di Kaban Djahe baru pada Februari 1911, yang kemudian menjadi pusat Karolanden.

Semuanya terlihat begitu stabil. Itu terutama karena pengaruh masuknya orang Eropa, dan Pantai Timur baru berusia tujuh puluh lima tahun kala ini. Pantai Timur telah mencirikan dirinya dalam segala hal dengan pembangunan yang ada dan dataran tinggi termasuk dalam angin perubahan itu.

 

De Sumatra Post, 04-05-1938
De Sumatra Post, 04-05-1938

 

Catatan :

Arnhemia = Pancur Batu