Eggink Melawan Narsar Hingga Meijer ke Berastagi

by

Pada artikel sebelumnya dikabarkan bahwa pecatur dari Serbia datang ke Berastagi untuk mengundang Narsar Karo-karo Purba untuk bermain catur di Kota Medan. Tak hanya Narsar, Mr. Kostich ingin bertanding dengan Toemboek dan  Ngoekoem.

Koran De Sumatra Post pada tanggal 07-10-1925 memberitakan tentang pertandingan yang menarik hati bagi para penggemar catur di Medan. Digambarkan kerumunan penggemar catur cukup banyak datang ke Hotel Medan. Mereka ingin menjadi saksi permainan catur antara Mr. Kostich dengan pemain-pemain catur terkuat yang dihasilkan dari dari Dataran Tinggi Karo.

Sambungan dari Bahagian : Boris Kostic Melawan 3 Pecatur Karo (1925)

Kenangan Eggink pada Permainan Catur Narsar

Koran Bredasche courant  pada tanggal 03-01-1928 menuliskan sebuah kisah dari Mr. Leonard Gerardus Eggink atau dikenal sebagai Mr. L. G. Eggink saat bermain dengan Narsar Karo-karo Purba. Saat itu bulan September tahun 1910, ia menghabiskan sebagian waktunya di salah satu dari perusahaan yang berlokasi di Besuki, dengan teman catur lamanya bernama Lamminga, yang dikenal oleh semua orang yang bermain di klub catur Java Oosthoek.

Leonard Gerardus Eggink

Tiba-tiba datang sebuah telegram, dan mereka berdua diminta sesegera datang ke Kottok, sebuah daerah dekat Djember. Undangan ini berasal dari Mr. Koning, seorang pengusaha tembakau dari Djember. Ia meminta datang untuk pertandingan catur melawan pecatur dari negeri Karo.

Esok sorenya mereka tiba di Kottok. Di sana telah ada pecatur dari Karo itu dan empat orang berkebangsaan Inggris yang juga menjadi tamu pengusaha tembakau itu.

Setelah mandi dan minum teh, mereka menuju ke  aula rumah besar, di mana pertarungan catur telah disiapkan. Papan catur besar (setidaknya ukuran 90 cm kali 90 cm) tampak disiapkan.

Tuan rumah dan orang-orang Inggris itu duduk bersama mereka di kursi-kursi di sekitar papan catur. Dan setelah beberapa kali minum-minuman keras, mereka mendengar nama juara catur dari Karo yaitu Si Narsar, disebut-sebut.

Menurut penjelasan Mr. Koning, Narsar berusia sekitar 20 tahun, dan dia dibawanya ke Jawa untuk menetap selama setengah tahun,  selain sebagai  guru catur, mungkin juga untuk membawanya bermain dengan pemain Eropa lainnya.

Narsar ditemani oleh orang Karo juga bernama Si Tamsa. Dia juga bisa bermain catur, meskipun tidak sehebat Narsar. Sekitar jam 5 sore, keduanya datang ke ruangan.

Sepertinya mereka sudah bersiap untuk bermain. Digambarkan, mata kedua pemuda ini terlihat cemas, dan mereka meremas-meremas tangan.

Kemudian Mr. Koning memberi tahu bahwa Tamsa adalah penerjemah, karena Narsar pada waktu itu belum mengenal bahasa Melayu, tetapi hanya bahasa Karo.  Pertandingan dimulai. Narsar ternyata bisa bermain menurut aturan catur Eropah.

Mr. Eggink akhirnya kandas pada  bagian pertama dalam waktu setengah jam. Ia kagum pada permainan yang sangat luar biasa yang ditampilkan oleh Narsar.

Pada papan catur kedua, Narsar membuka dengan cara yang cukup modren. Mr. Eggink sempat mendapatkan posisi yang sangat baik, tetapi lambat laun orang Sumatera ini justru mengejar kemenangannya.

Kesalahan kecil di pihak Mr. Eggink  justru membantu kemenangan Narsar. Dan babak kedua ini berlangsung sekitar satu setengah jam.

Dengan penuh perhatian, tuan rumah yang telah mengikuti permainan, menyiratkan wajah kepuasan ketika Mr. Eggink meletakkan rajanya untuk kedua kalinya.

Keempat orang Inggris itu menjadi penonton yang bersemangat. Sesekali keluar dari mulutnya ucapan “Yes.” Dan tampaknya mereka tak tahu bahasa yang dipakai dalam bermain catur.

Berangsur-angsur kian malam. Dan percakapan di meja makan dirasa Mr. Eggink lebih baik dari pada di papan catur.

Keesokan paginya jam 8 pagi, mereka telah kembali berkumpul di papan catur. Kali ini tanpa orang-orang Inggris itu, yang menurut Mr. Koning mereka sedang ada  “bisnis.”

Mr. Eggink berharap melakukan yang terbaik. Dan permainan terasa  sangat lambat. Sesekali  Mr. Eggink  membagi perhatian antara permainan dan menatap peci dan dahi bundar Narsar.

Dan setelah lebih dari 3 jam bermain, Mr. Eggink baru berhasil mengalahkan orang Sumatera ini. Pertandingan ini dirasanya lebih baik dari malam sebelumnya.

Setelah tidur siang, mandi dan minum teh, mereka melanjutkan obrolan.  Mr. Eggink meminta diberi kesempatan sekali lagi untuk bermain.  Dan dimenangkan oleh Narsar.

Memang direncanakan hanya untuk 3 hari saja. Keesokan paginya jam setengah enam mereka berpisah, setelah berkali-kali mengucapkan terima kasih atas undangan ini dan atas pertandingan ini. Dengan kendaraan bendi keduanya menuju Djember. Setelah beberapa jam naik Kereta Api, mereka akhirnya tiba di “Tanah Manis.” ( sebuah perkebunan milik Mr. Lamminga).

Ini adalah sebuah kenangan khusus bagi Mr. Eggink. Kenangan yang akan terus menjadi bagian dari kehidupan caturnya sepanjang hidupnya.

 

Henrik DB Meijer Datang ke Berastagi

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 04-06-1931 mengabarkan bahwa pecatur dari Batavia bernama Henrik DB Meijer datang ke Berastagi. Beliau adalah wakil dewan Chess Club Batavia dan editor catur dari koran Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indië.

Saat Narsar tur ke pulau Jawa untuk bermain catur, di Batavia Narsar sempat bermain dengan Meijer di awal Januari 1914. Dan Meijer dapat dikalahkan.

Dari kunjungan singkat ke Berastagi ini, Mr. Meijer bermain lagi dengan lawan lamanya Narsar Karo-karo Purba. Kejadian itu terjadi pada tanggal 23 Mei 1931.

Di pertandingan pertama dimenangkan oleh Mr. Meijer. Dan pada pertandingan berikutnya hasilnya imbang.

Hasil-hasil Pertandingan Catur Narsar

Laman Cheesgames.com mengumpulkan hasil-hasil pertandingan yang dilakukan Narsar Karo-karo Purba dengan master-master catur Eropah yang berada di Hindia Belanda maupun khusus datang ke Hindia Belanda dari tahun 1910 sampai 1931 :