Di Restoran Brahmana, Pesta Menyambut Berita Proklamasi

by
ilustrasi

Berita Proklamasi ke Daerah Tanah Karo.

oleh Kolonel Inf (Purn) Nahud Bangun.

 

Di dalam buku “Medan Area Mengisi Proklamasi” halaman 97 oleh Haji Mhd. Said ditulis : “Hari Raya Idul Fitri tahun 1945 jatuh pada hari Sabtu tanggal 8 September 1945.” Dengan demikian berita “Proklamasi Kemerdekaan bangsa” tiba dan diterima di daerah Karo : hari Jumat dan tanggalnya pada 7 September 1945, waktunya jam 7.00 malam hari.

Dikatakan demikian, bila diikuti alur cerita seperti dijelaskan di bawah ini :

Hari itu sejak jam 5.00 sore, kota Kabanjahe telah disiram hujan gerimis. Mega September yang menyertai hujan dan menyelimuti kota, bergerak berpindah-pindah mengikuti hembusan angin yang bertiup cukup kencang.

Suhu udara dingin menggigit. Jalan-jalan di kota kelihatan lenggang walaupun larangan memakai penerangan jalan tidak berlaku lagi.

Berboncengan mengendarai sepeda motor merek “Ariel,” abang Koran Karo-karo dan saya berangkat dari stasiun bus “Maspersada” dekat Rex (tempat tontonan satu-satunya di kota Kabanjahe). Tujuan kami adalah Kantor Telepon Kota yang berjarak 1 Km dari tempat Sang. Sang adalah seorang dari kelompok Kempetai yang selama ini bertugas di Kota Kabanjahe. Pangkatnya Hei Co atau Kopral. Rendah memang pangkatnya, tapi kuasanya ………….. aduuh maaak! Rasakan sendiri.

Selama bertugas di Kabanjahe, Kopral ini mengambil kendaraan Bang Koran. Kendaraan kecil merk “Opel” jenis “Cader”. Istilah yang dipergunakan Kopral ini, pinjam pakai sampai saat perang berakhir. Kendaraan yang dipinjam tidak kunjung dikembalikan, malahan turut diboyong pergi entah ke mana. Bang Koran mendapat berita bahwa Kopral ini berada atau ditempatkan di Marihat, menunggu saat dipulangkan ke tanah airnya.

Tidak lebih dari 10 menit, menembus udara dingin, kami tiba ditempat yang dituju. Disambut ramah oleh Kepala Kantor yaitu saudara Janguda Sebayang. Bang Koran segera menyampaikan maksud dan tujuan kami. Kami disuruh bersabar dan menunggu sebentar, karena beliau sedang menerima berita (telegram) dari luar kota.

Selesai menerima berita, oleh saudara Sebayang telegram dibaca. Berhenti sebentar, lalu dibaca ulang. Kemudian dengan wajah agak bertanya-tanya, telegram ditunjukkan dan disuruh dibaca oleh kami berdua. Isi berita lebih kurang sebagai berikut :

“Pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh Sukarno dan Hatta telah diproklamirkan Kemerdekaan bangsa Indonesia. Sehubungan dengan itu, dalam menyambut hari Raya Idul Fitri besok supaya penduduk mengibarkan bendera merah putih.”

Cukup lama juga kami bertiga berdiam diri, saling menatap wajah satu sama lain. Kemudian kami bertiga sepakat untuk menyebarkan berita tersebut dengan menyampaikan kepada teman-teman. Sudah lupa akan tujuan semula. Bang Koran dan saya segera berangkat meninggalkan saudara Sebayang dengan Kantor Teleponnya. Kami menuju pusat kota.

Di tengah perjalanan kami berhenti. Kami menyampaikan berita yang diterima saudara Sebayang kepada Bapak Ngerajai Meliala. Pak Ngerajai Meliala dikenal dan bertindak sebagai pengganti Tuan Fukuchi dan oleh karena itu menjadi Kepala Pemerintahan di daerah Karo.

Duduk bersantai di ruangan tamu, kami diterima. Berita yang disampaikan diterima dengan wajah cerah. Dengan bersemangat, kami disuruh segera menyebarkan berita seluas-luasnya.

Kami tinggalkan Pak Ngerajai Meliala dan perjalanan selanjutnya menuju Restoran Nangkasi Brahmana. Restoran ini didirikan untuk keperluan tentara Jepang dan kami beri nama Restoran Kerbau. Kenapa nama itu, saya sendiri kurang tahu.

Kami dapati beberapa teman sedang duduk menikmati makanan dan minuman pesanannya. Memang setelah perang berakhir, restoran ini dapat juga dipergunakan untuk umum.

Mendengar berita yang kami sampaikan, mereka menyambut dengan gembira dan penuh semangat. Hingga jam 11 malam, restoran  itu telah dipenuhi oleh teman-teman yang berdatangan dari berbagai penjuru kota, sorak sorai tanda gembira memenuhi ruangan restoran. Pemilik restoran sendiri (saudara Nangkasi Brahmana) berkenan menyediakan makanan dan minuman dengan cuma-cuma, dan juga turut bergembira manyambut berita.

Dari ratusan teman yang hadir, terlihat ada dari kepolisian seperti : Lumban Ginting dan Aris Sihombing. Dari teman sekerja di perusahaan Maspersada terlihat Kampong Sebayang, Salam, Kongsi Sebayang. Hadir juga saudara Iwan Kuasa dan Momin si pemain gitar.

Pesta kecil ini berjalan sampai pagi dini hari, jam 02.00 pagi. Satu-satu mulai berangkat pulang ke rumah masing-masing. Banyak diantaranya pulang dalam keadaan sedang teler. Hasil dari minuman yang dihadiahkan pemilik restoran.

Diliputi oleh bermacam-macam perasaan, saya tiba di tempat mondok pada jam 03.00 pagi. Di dalam hati masih bertanya-tanya makna berita Proklamasi. Pengertian yang sebenarnya masih kabur memang.

Dibebani dengan pikiran ini, dikeheningan pagi itu, saya rebahkan diri di tempat tidur, untuk menanti hari esok. Hari esok dengan segala kemungkinannya. Apakah tidak mungkin berita yang diterima tidak disusul oleh berita yang lebih menggetarkan hati. Serba mungkin dan serba kebetulan.

 

Sumber :  

Semangat Juang 45 Sumatera Utara – Kumpulan Tulisan Perjuangan Para Pejuang Sumatera Utara (Seri ke VII)