Brastagi dan Medan di Koran Sin Po (1938)

by

Koran Sin Po adalah koran Tionghoa-Melayu (peranakan) berbahasa Melayu yang terbit di Hindia Belanda sejak tahun 1 Oktober 1910. Pertama kali diterbitkan sebagai surat kabar mingguan. Lalu Sin Po berubah menjadi surat kabar harian pada tahun 1912 demi memenuhi permintaan yang meningkat. Dan tak berapa lama kemudian menjadi salah satu surat kabar berbahasa Melayu terbesar di Hindia Belanda.

Harian Sin Po adalah harian pertama yang memuat teks lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya, dan turut mempelopori penggunaan nama “Indonesia” untuk menggantikan “Hindia Belanda” sejak mulai Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Sin Po sempat berhenti terbit saat Jepang menduduki Indonesia di tahun 1942. Dan kembali terbit pada tahun 1946.

Pada tahun 1962, koran ini berganti nama menjadi Warta Bhakti. Dan akhirnya tutup setelah dibredel pemerintah pada tahun 1965.

Pada tahun 1938 Sin Po menaikkan artikel perjalanan dari Sumatera Barat ke Sumatera Timur (Sumatera Utara saat ini). Pada tulisan bahagian IV sampailah mereka di Tanah Karo. Keadaan Kabanjahe dan Berastagi dapat dibaca pada bahagian ini. Ini tentu tulisan berdasar pandangan sang penulis yang kadang menuliskan dengan jenaka. Sesudahnya mereka melanjutkan perjalanan ke Medan

Selengkapnya dapat kita baca dalam tulisan berikut ini:

Koran Sin Po tanggal 23 Juli 1938

Dari Sumatra Barat ka Sumatra Timoer.

Koran Sin Po, 23 Juli 1938

Pada tanggal 17 Juni kita brangkat dengen auto dari Prapat ka Pematang Siantar dengen kombali liwatin banjak bagian-bagian dengan pemandangan alam jang tida bisa membosenken.

Pematang Siantar ada satoe kota rame dengen banjak pendoedoek Tionghoa, jalah lebih dari 30% dari pendoedoek ini kota ada bangsa kita.

Dari sini orang bisa naek kreta api Delispoor teroes ka Medan tapi kita ambil djalan auto, sebab ingin koendjoengin Brastagi doeloe.

Sabelonnja sampe di Brastagi kita liwatin Kebandjahe, satoe kota dingin jang jaoe lebih besar dan rapi dari kita bermoela doega. Kaloe suda deket Brastagi orang bisa liat dari djaoe goenoeng Sibajak jang somplak atasnja dan semingkin deket Brastagi, keadahan semingkin dingin.

Ini tempat ada lebih tinggi letaknja dari Kebandjahe dan mempoenjai banjak tempat menginep, antara mana Grand Hotel Brastagi jang paling djempol.

Boekan sadja boeat Sumatra, tapi poen boeat saloeroe Indonesia, ini hotel ada sala-satoe jang paling rapi dan baek dirawatnja, lebih rapi oepama dari hotel De Boer di Medan jang sering disohorin.

Selaen dari ini, pekarangan ini hotel dengen banjak poehoen-poehoen tjemara ada loeas dan sapoetarnja ada banjak tempat-tempat jang berharga dikoendjoengin dengen djalan kaki atawa berkandaraan.

Djaonja Brastagi dari Sioehan masi 100 K.M. lebih, hingga kita sampe di ini tempat waktoe tengah hari.

Waktu sore kita naek auto boeat liat-liat keadahan dalem kota Brastagi ada mirip dengen Kalioerang, tapi lebih rame dan penoe dengen villa-villa dari kongsi-kongsi besar boeat vacantie. Djoega ada sekola dengen internaat besar.

Dari Goendalingweg jang tinggi orang bisa dapet liat panorama jang loeas sekali dan antara laen-laen lapangan terbang dari Brastagi kaliatan dari djaoe.

Waktoe menggerip kita koendjoengin kampoeng Karo jang terkenal sebagi “kampoeng Keling”.

Ini boeat pertama kali kita lontjat dalem kampong Karo aseli, sebab kampong Karo semoea dikeroeng rapet oleh sematjem pager kajoe pendek boeat djaga babi, soepaja djangan lari! Sebab orang Karo dojan betoel babi dan soeka piara babi jang mengglandangan di bawah roemah dan di djalanan dengen merdika.

Dengen teroes terang moesti dibilang pemandangan kampong Karo tak tida menarik; roemah-roemahnja item, orangnja item, babinja item, pakeannja poen gelap, hingga seperti djoega antero kampoeng baroe abis kasirem tinta!

Bangsa Karo poenja dojan babi poen ternjata dari apa jang Zentgraaff perna toetoerken: satoe kaoem Christen, jalah kaoem Adventist, satoe waktoe bikin propaganda boeat ini tjabang igama, tapi koetika abis vergadering, orang Karo pada kaloear menggroetoe :

“Ini boekan igama boeat kita orang, sebab haloe djadi Adventist haga boleh makan babi!”

Kita sendiri liat saorang Karo di pasar Brastagi jang lagi makan tauwgee dan minjak babi pada waroengnja saorang Tionghoa totok.

Selaennja babi, djoega daging andjing masi dimakan di negri Karo dan masi ada pasar dimana orang bisa dapet beli daging andjing.

Besokannja kita bikin perdjalanan ka Lau Deboek jang djaoenja tjoema bebrapa belas kilometer dari Brastagi di djalanan ka Medan.

Sabelonnja bisa sampe ka ini telaga moengil dengen aer welirang, orang moesti djalan kaki doeloe kira-kira 10 minuut dalem oetan sepi, hingga kaloe katemoe matjan di sini (jang menoeroet kabar di ini minggoe “djalan-djalan” di Brastagi!) tentoe beres! Bermoela kita liat kali ketjil dengen aer poeti sebagi tadjin dan baoeken welirang; dari antara papoehoenan orang bisa intip itoe telaga dari tempat djaoe (liat fotonja di ini nummer poenja Holl. Supplement) dan blakangan kita baroe sampe di itoe telaga sendiri dimana orang bisa mandi.

Gids bangsa Karo  jang anter kita djalan toetoerken bahoea djoega Sultan Djohor telah koendjoengin ini telaga aer welirang dan roepanja ia kira kita poen ada prins dari Negri Sembilan atawa Selangor sedikitnja, sebab ia tida brentinja bahasaken kita dengen “Toean koe”.

Blakangan kita koendjoengin kampoeng Karo Brastagi, jang letaknja antara Brastagi dan Kebandjahe. Ini kampoeng Karo ada lebih besar dari kampoeng Keling, tapi dalem hal itemnja dan kotornja ada setali tiga oewang.

Djoega di sini jang samboet te tamoe paling doeloe ada …… babi jang seliwiran.

Pada tanggal 20 dengen autobus dari Delispoor kita brangkat ka Medan jang 68 K.M. djaoenja; bus dari ini kongsi ada rapi dan bajaran poen pantes, jalah tjoema ƒ2.-

Dengen liwatin Tongko, Sibolangit dan Arnhemia kita sampe di Medan sasoedanja, naek bus kira-kira 2 djam lamanja.

Kota Medan ada kota baroe hingga rapi dan djalanan-djalan ada lebar dan bersi. Kaloe djalanan sempit di Pasar Baroe di kota Betawi dibandingken dengen oepama djalanan di Medan poenja “Pasar Baroe,” jalah Kesawan, Betawi moesti maloe.

Di Kesawan poen ada roemah lama model Tionghoa jang indah dari majoor Tjiong A Fie almarhoem.

Pendoedoek Medan lebih dari separo terdiri dari orang Tionghoa; waktoe djalan-djalan kita liat satoe djalanan jang bernama “Japansche straat”.  Kita doega di sini tentoe tinggal orang Djepang tapi sabetoelnja jang tinggalin semoea orang Tionghoa. Tida ada satoe Djepang jang kaliatan mata idoengnja.

Koetika melongok di “Arabische straat,” poen jang kaliatan tjoema Tionghoa; di station kreta api jang djadi koeli spoor orang Tionghoa dan di Centrale Pasar, jalah pasar paling besar dan modern jang ada di  Indonesia, poen bangsa kita iang bergroemoetan seperti semoet.

Di antara loods besar di tengah djalan ada toekang boeboer, bahmi, tjaptjay, berderek-derek, bilang poeloe, hingga keadahan tida kalah ramenja dengen di Pantjoran dan di Glodok di Batavia.

Di Kwanteebiostraat orang bisa liat gedong modern jang mentereng dari Hokkian Hweekoan, tida djaoe dari goedang …  madat goepermen.

Di Batavia biar opiumfabriek sendiri tida pake nama, barangkali sebab rada maloe, tapi di sini goedang pake merk sabesar tetampa boeat kasi doenia taoe di sitoe ada tempat ratjoen doenia ……

Dari Medan orang bisa naek spoor jang disamboeng dengen Atjehtram teroes ka Atjeh; kreta api Delispoor ada tjoekoep baek dan selaennja kreta api biasa poen ada dipake kreta api motor pendek jang djalan dengen minjak.

Papan kreta api jang oendjoek ka djoeresan mana kreta aken brangkat selaennja pake hoeroef Latyn poen pake hoeroef Tionghoa, satoe boekti di itoe daerah djoemblah orang Tionghoa sanget pentingnja.

Di Gloegoer di djalanan ka pelaboean Belawan ada kebon binatang ketjil dan Medan poen mempoenjai  mesigit besar jang boleh djadi paling bagoes boeat Indonesia. Di deket ini mesigit ada astana Sultan dan djoega empang aer dari gementee jang belon begitoe lama dibikin.

Wijk-wijk Tionghoa dari Medan dengen jang di Singapore dan nama-namanja poen nama-nama Tionghoa. Begitoelah seperti djoega Singapore, Medan mempoenjai Hongkoong straat, dan kaloe di Medan ada Swatow straat di Singapore ada timpalannja: Nanking street.

Kreta rickshaw jang ditarik manoesia soeda ampir abis di Medan seperti djoega di Palembang.

Boeat pergi ka Belawan orang bisa goenaken auto atawa autobus atawa naek kreta api jang djalan teroes dari station Belawan ka 4 stopplaats lebih djaoe, boeat apa penoempang tida oesa bajar extra; jalah stopplaats Belawan pasar, Oceaanhaven 1, Oceaanhaven 2 dan 3.

Kapal-kapal besar dari K. P. M berlaboe di stopplaats Oceaanhaven 3.

Djoega kota Belawan mempoenjai banjak sekali pendoedoek Tionghoa, seperti banjak kota di Sumatra Timoer dan dampingnja Bindjei deket Medan oepama pendoedoek Tionghoanja ada 42,03%, Tandjong Balei 46,34%, Tandjong Pinang 68,57% tapi jang pegang record ada Bagan Si Api-api dengen ampir 80% pendoedoek Tionghoa.

Tida poen heran civiel geneesheer di sana, jalah Dr. Pratomo ada sala-satoe orang jang paling banjak perhatiken cultuur Tionghoa di kalangan Indonesiërs.

Pada tanggal 22 Juni sore dengen kapal “Plancius” kita brangkat dari Belawan ka Singapore, dimana pada 24 Juni pagi-pagi kapal soeda sampe.