Bis Bertingkat di Medan (1981)

by
Peresmian Operasional Bis Bertingkat di Medan (sumber foto : Awansan.com)

 

Dimulai pengoperasian bis bertingkat di Medan, sesudah Jakarta & Surabaya. Minat penumpang besar, tapi belum cocok untuk Medan. Semarang akan mengoperasikan 10 bis bertingkat Nopember depan

 

Berebut Jalan Dengan Bis Bertingkat

 

Majalah Tempo
(31 Januari 1981)

 

Tidak kurang dari 12 bis bertingkat kini ikut meramaikan lalu lintas Kota Medan. Sejak dioperasikan pertama kali pekan lalu, warga kota berebut naik kendaraan itu untuk mendapat tempat duduk di tingkat atas.

“Pemandangan luas, enak, tapi lambat,” ujar Pardi, seorang penjual es, menceritakan pengalamannya. Tapi ia segera menambahkan, “terasa enak, mungkin karena masih baru.”

Penumpang bis bertingkat di kota itu memang melimpah di luar dugaan — setidak-tidaknya begitu pemandangan di hari-hari pertama. Sehingga Darwis Hasibuan, Ketua Organda Sum-Ut dalam suratnya kepada Walikota Medan menyatakan kecemasannya. “Kehidupan anggota kami terancam.”

Yang dia maksud, tentu saja perusahaan anggota Organda. Seorang sopir bis mini, salah satu angkutan kota selama ini, mengeluh, karena sejak ada bis bertingkat penumpangnya berkurang dua sampai tiga orang tiap rit.

Daya tampung bis bertingkat maksimum sekitar 100 orang. Ini beberapa kali lipat daya tampung bis-mini yang cuma bisa mengangkut tujuh penumpang. Jadi, pihak yang langsung terpukul karena kehadiran bis bertingkat di Medan tak lain adalah pemilik bis mini yang sekarang terdaftar lebih dari 2000 buah.

“Jumlah penumpang mereka berkurang,” kata Mayor CPM S. Hutagalung, Kepala Unit Pelaksana Lalulintas dan Angkutan Pemda Medan. Pengoperasian bis bertingkat di Medan memang tampak lancar.

“Tiap bis rata-rata mengangkut 70 orang, “ kata seorang petugas DAMRI, perusahaan yang mengelola bis tersebut di kota ini.

Tanpa terminal khusus, bis-bis bertingkat itu menghubungkan beberapa lin gemuk dari pusat kota ke tiga arah yang terpencar. Dua lin menjurus arah luar kota, Binjai dan Belawan yang lain melayani beberapa jalan penting dalam kota.

Mengapa tidak untuk trayek pinggiran kota yang selama ini belum cukup terlayani?

“Kondisi jalan di pinggir kota belum cukup baik untuk bis bertingkat,” begitu penjelasan Poltak Panggabean SH, Sekwilda Kodya Medan. Minus penumpang berat satu bis bertingkat adalah 9 ton.

Karena itu ada rencana mengalihkan sebagian bis swasta ke rute-rute kosong, “terutama yang berada di kawasan pinggiran kota,” tambah Mayor Hutagalung.

Mengingat besar dan bobotnya, bis bertingkat memang harus diperlakukan khusus. Sebulan sebelum turun ke jalan, petugas Kodya Medan sibuk memangkas cabang pohon yang menjorok ke jalan. Kabel listrik dan telepon ditinggikan, agar tidak tersenggol tubuh bis.

Hal yang sama juga berlangsung di Surabaya dan Semarang. Di Surabaya bahkan lebih repot. Enam jembatan penyeberangan yang semula tingginya 4,5 meter, terpaksa dinaikkan 1 meter lagi.

Tiang lampu lalu lintas juga ditinggikan, sedangkan tiang papan-papan reklame yang menjorok ke jalan dibongkar atau ditinggikan. Masih ada kerepotan lain. Entah bagaimana, di Surabaya belum lama ini tersebar isu seolah-olah ada bis bertingkat terguling, di dekat Tugu Pahlawan. Disebutkan 21 korban tewas, tidak termasuk yang luka-luka.

Popularitas bis tompok, begitu warga Surabaya menamakannya, kontan merosot, padahal sejak dioperasikan akhir Juli silam, kendaraan itu tidak pernah sepi penumpang. Tapi adanya kecelakaan itu segera dibantah–dan bis tompok kembali dijejali penumpang.

Sampai kini, dengan tambahan lima buah akhir Oktober lalu, Surabaya dilayani 15 bis bertingkat. Direncanakan akan ada tambahan 10 bis tompok lagi agar bisa melayani tidak hanya rute Wonokromo –lewat pusat kota– terus ke Tugu Pahlawan, seperti sekarang, tapi juga jalan-jalan di pinggir kota.

Mengunggulkan Duit

Semarang akan mengoperasikan 10 bis bertingkat, tepat pada 10 November 1981. Untuk itu tiga jembatan penyeberangan ditinggikan, kabel listrik dan telepon dinaikkan, dahan pohon dipotongi. Lebih khas dari itu, dua bis bertingkat telah dipamerkan di pekarangan depan gedung Balaikota Semarang – delapan buah lainnya nongkrong di pangkalan DAMRI.

Bermanfaatkah bis bertingkat? Menurut sebuah sumber di Lantasdak II Sum-Ut, yang tidak bersedia disebutkan namanya, bis berlantai dua itu “tidak efisien.”

Karena itu, katanya pula, penggunaan bis bertingkat belum cocok di Medan –begitu pula untuk masa sekarang. Mengapa?

“Kalau bis itu berjalan lambat, kendaraan lain di belakangnya akan antre berjalan lambat pula –karena bis bertingkat memang tak bisa berjalan cepat,” sumber itu menegaskan.

Di Semarang yang kendaraan angkutan kotanya dianggap sudah jenuh, kehadiran bis bertingkat diramalkan akan menambah lesu angkutan kota non bis.

Tasrif, Jubir Kodya Semarang membantah hal ini. “Itu tidak benar,” katanya. Alasannya, rute bis bertingkat tertentu dan tidak mengurangi rute angkutan non bis.

Mulyono, Kepala Bagian Niaga dan Angkutan DAMRI lebih cenderung pada pendapat bahwa kehadiran bis bertingkat hanya sebagai pelengkap.

“Di kota-kota provinsi lain ada bis bertingkat, mengapa Semarang tidak minta,” ucapnya dengan ringan.

Kehadiran bis bertingkat di Medan memang belum tampak mempengaruhi lalu lintas kota itu yang sejak lama sudah semrawut. Meskipun sejak beberapa tahun berselang Medan sebagai ibukota Sum-Ut juga resmi sebagai pusat pengembangan wilayah pembangunan A (mencakup Riau, Sum-Ut dan Aceh), sarana jalan yang ada belum menggembirakan.

Baru pada tahun 80/81 dibuatkan jalan kelas satu untuk kota itu sepanjang 8.808 m. Selebihnya tercatat 56,5 km jalan kelas II, 130 km jalan kelas III, 292,75 km jalan kelas IV dan 42 km jalan kelas V.

Jalan kurang bermutu ini tiap hari dipadati oleh 200.000 kendaraan bermotor umum, di luar sepeda motor dan mobil pribadi. Pertambahan jumlah kendaraan tercatat 4 kali lebih tinggi dari pertambahan panjang jalan.

Di ibukota Provinsi Sum-Ut ini jalan raya digunakan sekaligus oleh pelbagai tipe kendaraan : becak, sepeda motor sepeda, mobil, truk, bis. Di samping itu tidak jelas benar perbedaan jalan raya dan trotoar, hingga tempat parkir tak karuan.

Lebih parah lagi, kota sebesar Medan yang berpenduduk 1,5 juta jiwa itu, sampai kini belum memiliki terminal bis yang resmi dan memenuhi syarat. Memang ada pusat bis di Jalan Sambu.

Semua lin bertumpuk di situ, mengesankan suasana acak-acakan yang memprihatinkan. Sedangkan terminal bis antar provinsi, entah bagaimana, dibiarkan saja mengambil tempat di pekarangan rumah dan tentu saja terpencar-pencar.

 

Sumber foto : Awansan.com