Bintang Karo : Indonesia Raya adalah Cita-cita Kita (1931)

by
Bintang Karo, "Merdekakan Indonesia. Indonesia Raja adalah cita-cita kita, siang dan malam!"

Bintang Karo : “Indonesia Raya adalah cita-cita kita, siang dan malam!”

 

Bintang Karo No.5, 1 Desember 1930.

Di bawah judul artikel “Kisah H.A. Salim,” selain cerdas dan tampan, H.A. Salim adalah orang terkemuka di masyarakat. Siapa saja merasa bangga, karena dia adalah seorang rekan sebangsa. Banyak kisah-kisah luar biasa menarik dan mempesona yang diceritakan orang-orang tentangnya.

Bintang Karo

Mr. Salim menarik perhatian semua orang ketika dia, dalam sebuah ceramah di Medan, sehubungan dengan pertanyaan tentang poligami dan imoralitas di Den Haag. Di bagian artikel tentang perempuan, salah satu penulis yakni Tengkoe Ramsiah, seorang wanita yang telah menulis di majalah-majalah di Medan, menulis artikel tentang kemajuan wanita, ia mengambil sebagai slogan “Ya, pria itu kepala, tapi apa itu kepala tanpa leher, dan apa itu leher tanpa kepala.”

Penulis senang dengan kenyataan saat ini bahwa begitu banyak teman-temannya telah terjun ke dalam jurnalisme, menyaksikan kembali munculnya nama Sitti Hasnah dari Tapa Tuan sebagai pemimpin bagian wanita di majalah ini. Dan dalam penjelasan lebih lanjut tentang slogan yang digunakan olehnya, dia kemudian menyatakan, bahwa pria dan wanita tidak dapat melewatkan satu sama lain di masyarakat;  para wanita tidak hanya perlu menjadi “putri dapur,” tetapi mereka juga harus diberi kesempatan untuk menjadi mahir dalam segala hal. Tetapi di atas segalanya, hidup berdampingan damai diperlukan demi keselamatan rumah tangga dan pendidikan anak-anak.

Seorang kontributor menyampaikan keluhannya tentang pajak penyembelihan hewan yang terlalu berat, di Tanah Karo masih ada pajak adat untuk penyembelihan hewan saat penggunaan dalam acara adat. Pajak penyembelihan f 6 dirasa mahal, walau pajak penyembelihan kuda di Pangoeroeran  dipatok f 15.

Yang lebih berat lagi adalah pada pesta adat, setelah dikenakan pajak penyembelihan f 6, yang mana harus dibayar ketika menyembelih seekor kerbau atau sapi, masih datang lagi apa yang disebut pajak “loeloe” untuk pimpinan adat. Bukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk potongan besar daging bagian terbaik. Potongan “loeloe” ditaksir juga bernilai sekitar f 6. Selain itu, pimpinan pada pesta itu sendiri mendapat 1/3 atau 1/5 dari daging sebagai bagiannya.

Jika ada perkawinan antara orang-orang dari daerah yang berbeda, maka ada dua pimpinan adat yang mendapat bagian itu. Dan jika ingin menghindari pajak penyembelihan maka daging dibeli saja di pasar. Namun pajak “loeloe” masih terutang.

Untuk ternak hidup, pemilik ternak sudah bertanggung jawab untuk membayar pajak nasional dan saaat penyembelihan dikenakan lagi pajak penyembelihan dan ditambah pajak loeloe! Penulis meminta pihak yang berwenang untuk menghapus salah satu dari dua jenis pajak ini, pajak penyembelihan atau pajak adat yang disebutkan di atas.

Editorial menyatakan bahwa adat tersebut pernah terjadi di hampir semua wilayah Pantai Timur Sumatera, tetapi sudah lama tidak terdengar lagi dan berharap artikel ini akan mendapat perhatian dari pihak berwenang.

 

Bintang Karo No.1, 1 Januari 1931.

Di bawah judul: “Seperti di zaman kuno” ditulis tentang mentalitas seorang pejabat senior di pemerintahan, yang digambarkan sebagai seorang pejabat yang rajin, aktif dan ketat, tetapi konservatif. Berpendidikan namun dan kolot dalam memerintah, sangat suka dalam mencari kesalahan pada mereka yang tidak mendukungnya.

Dia bersambisi untuk mencapai jabatan yang lebih tinggi.  Ia menggunakan layanan mata-mata untuk mematai siapa saja.

Di bawah judul “Masa-masa baru, simbol-simbol baru!” Sitti Aminah menjelaskan “Apa yang tidak dapat dicurigai, dapat  terjadi pada saat tertentu.”

 

Bintang Karo

Bintang Karo No.2, Febuari 1931.

Dalam artikel utama Bintang Karo dikatakan, politik yang sehat, yang tidak bertentangan dengan hukum dan adat daerah, dapat menyatukan “Indonesia Raya.” Orang-orang Indonesia memiliki kebebasan penuh untuk terlibat dalam politik, asalkan mereka mematuhi batasan ketentuan hukum dan adat. Pemberontakan sama sekali tidak perlu.

Kebebasan ada di tangan kita. Pemerintah sendiri akan memberi kita kesempatan untuk memperoleh kebebasan, tidak akan membiarkan rakyatnya selalu berada di bawah bendera mereka

Setelah pendahuluan ini penulis mengatakan, saat ini politik selalu didorong ke depan, namun perekonomian dan pendidikan adalah pelopor untuk mencapai Indonesia Raya. Kemajuan politik harus berjalan sejajar dengan ekonomi dan pendidikan.

Namun, bila kita melihat sekeliling, kita melihat bahwa sebagian besar rekan kita adalah kelas pekerja; orang-orang muda saat ini tidak mau lagi bertani, pergi ke sawah dan mendapatkan lumpur di kaki mereka. Sawah mereka kini terletak di ujung pena!

Setelah menunjukkan keuntungan akan pertanian, penulis mengakhiri dengan seruan : “Merdekakan Indonesia. Indonesia Raya adalah cita-cita  kita, siang dan malam!”

 

Sumber bacaan :

Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers, 1931, no 3, 15-01-1931

Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers, 1931, no 5, 29-01-1931

Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers, 1931, no 8, 19-02-1931