Bintang Karo Bersuara Keras (1929)

by
Bintang Karo

Salah satu media cetak yang keras melawan Kolonial Belanda yang terbit tahun 1929 adalah bernama Bintang Karo. Penanggung jawab majalah Bintang Karo adalah Mahat Singarimboen.  Susunan selanjutnya, sebagai  editor adalah  Zabedah Sjarif dan  co-editor adalah Paulina Siregar.

Sebagai pemimpin redaksi Marah Oedin Harahap dan sebagai adminstrasi adalah Pelin Tamboen (di Berastagi). Para penyandang dana adalah Sampoeran Manik, Moelbang Tiga Nderket, Kho Theam Long dan A Corner Lie.

 

Bintang Karo  No.2, Terbitan 1 September 1929

Bintang Karo terbitan kali ini mengangkat  serangan para kuli-kuli terhadap perusahaan-perusahaan asing di Pantai Timur Sumatera.  Beberapa media cetak tidak lagi mengangkat tulisan ini dengan sangat keras, terutama media cetak milik orang-orang Eropah. Menurut penulis, inilah perbedaan antara pers Eropa dan Pribumi.

Ada juga media hanya langsung memusatkan pembicaraan pada kebrutalan yang terjadi, sementara tanpa kekasaran dan kesewenang-wenangan, serangan-serangan ini tidak akan mungkin timbul. Kesadaran para kuli telah timbul dari sikap pasif alami sebagai orang Timur selama ini.

Tetapi pers orang-orang kulit putih tak mendengarkan itu, tetap  tuli. Dan mereka terus berbicara dengan usulan  yang sama, bersikeras mempersenjatai para Asisten (pegawai perkebunan). Pemerintah, bagaimanapun tidak berpikir bodoh.

Bila Asisten punya tempramen kasar dan tidak menganggap kuli sebagai manusia, maka akan dapat memberinya kesempatan berubah menjadi lebih kasar lagi dengan tanpa batas karena senjata api ada di tangannya. Dan justru hasilnya akan membuat kuli kian menjadi semakin merasa terintimidasi.

Itu konyol, apalagi pers Eropa juga mengajurkan larangan membawa apa yang disebut piso belati bagi para pribumi. Justru ini bukan satu-satunya alat untuk melakukan pembunuhan.

Hanya ada satu cara efektif untuk menyelesaikannya dengan tepat,  perlakuan yang baik terhadap kuli membuat mereka jinak, ini hal yang mudah dilakukan. Orang-orang dapat menilai perusahaan mana yang bagus dengan melihat pada sikap mereka pada para pekerja-pekerja perkebunan, apakah bersikap baik dan penuh rasa kemanusiaan. Mayoritas media pers orang-orang kulit putih itu pasti paham, sifat ramah ciri orang-orang Timur itu ada, tapi mereka berat untuk menuliskannya!

Dalam bagian terpisah, petisi dilakukan pada Controller dari Karolanden di Kaban Djahe.  Petisi yang panjang disampaikan oleh pengacara Marah Oedin Harahap (juga pemimpin redaksi majalah ini) karena persoalan tanah.  Sengketa tanah antara petani bernama si Diam dan si Neloeh adalah akibat yang mengurusi pertanahan tidak melakukan tugasnya dengan baik.

Di kolom jenaka “Ola Tawa,” ditampilkan  sebuah kedai kopi dengan pelayan wanita. Ini sebagai respons terhadap  iklan di majalah Deli,  juga di banyak majalah lain, yang meminta “penampilan” bagus. Hal seperti itu dengan layanan wanita disebut “Kopi Senggol” di Tanah Karo (Karolanden). Potongan ini disertai dengan gambar seorang Cina dengan tampilan gemuk.

Di kolom Saran, disampaikan bagaimana derita dan kesulitan seorang wanita yang  ditinggal suaminya karena “bertapa” di Digoel selama lebih dari satu tahun.  Politikus dari Karo ini dibuang oleh Belanda ke Digul (Papua) karena aktifitas politiknya melawan kolonial Belanda.

Penulis juga menguraikan tentang penghapusan keputusan pengasingan empat orang Batak, yang dikirim ke Batavia, mereka adalah anak-anak dari almarhum Singamangaradja. Pengasingan terjadi pada 1916, karena pemerintah Hindia Belanda kala itu khawatir bahwa mereka akan memprovokasi dan memberi gangguan.

Pemerintah Hindia Belanda beralasan untuk melakukannya karena keempat orang itu begitu berpengaruh sehingga kata-kata mereka adalah hukum bagi penduduk. Sekarang pemerintah melihat bahwa nama mereka tidak lagi begitu berpengaruh, sehingga rasanya tidak perlu menyimpannya di Jawa lagi.

Sehubungan dengan laporan Hillen,  para editor berharap bahwa yang dibuang  ke Digul agar diizinkan untuk kembali.

 

(Tentang hal ini, dapat dibaca di artikel Karosiadi :  Nolong Ginting Suka Diasingkan ke Digul).

 

Majalah Bintang Karo  juga menuliskan balasan atas beberapa ejekan dari Majalah Sinar Deli.  Sinar Deli menuliskan, bahwa pada edisi pertama Bintang Karo, pemimpin redaksi Bintang Karo masih menuliskan Hindia dan Hindia Belanda bukan Indonesia.

Bintang Karo membalas kritikan dengan ejekan bahwa “orang Indonesia” dari Sinar Deli seharusnya sesuai dengan prinsip mereka dan adat Indonesia tidak diperbolehkan menari dengan wanita muda Eropa, akan tetapi  M. Ihoetan sering terlihat di tempat-tempat tari di Southampton. Bintang Karo juga menyebut Pemimpin Redaksi Sinar Deli, Hasan Noel Arifin, sebagai “Mr. Sinjo Deli.”

Editor Bintang Karo, Zabedah Sharif, bercerita tentang sebuah mimpi, di mana dia berbicara tentang pertemuan putra dan putri Indonesia dan memberi ilustrasi spanduk atau simbol Bintang Karo. Simbol ini, yang diartikan sebagai semangat Bintang Karo yang diberikan oleh Jong Sumatranen (Pemuda Sumatra) di akhir pertemuan  Liga Muda Sumatra untuk diberikan kepada badan Persatuan Indonesia Moeda.

Tulisan lain berjudul “Entjik Puteh” (yang berarti “Uang”) yang isinya peringatan pada orang Karo untuk tidak bermimpi besar pergi ke Deli yang besar dan indah. Karena begitu banyak rekan-rekannya yang sudah kecewa dengan harapan mereka di negeri dolar, di tanah konsensi Deli.

Di Tanah Karo , penduduk asli memiliki setidaknya beberapa hak atas tanah mereka. Sebuah peringatan untuk berhati-hati menjaga tanahnya diberikan dengan mengambil sebuah contoh cerita. Ada dikisahkan seorang wanita muda yang tergoda oleh uang seorang Arab kaya dan kemudian ditinggalkan olehnya.

Kisah ini diilustrasikan dengan gambar yang mewakili penjual kain Arab, yang membayar uang untuk seorang ibu muda dengan anak. Dianjurkan untuk berhati-hati meminjam uang pada mereka atau tanah akan melayang.

Di sebuah artikel utama di bagian depan yang berjudul “Janda,”artikel satu-satunya berbahasa Karo ini menuliskan bahwa sekarang perang yang tiada henti itu telah berakhir di Tanah Karo. Dan mereka sekarang berjuang dengan senjata pendidikan. Gadis-gadis juga ikut bergabung. Namun, pendidikan masih tertinggal di belakang dibandingkan Jawa dan Sumatera Barat.

Cerita serial “Djeumpa Karo,” mengisahkan percintaan seorang Nona berkebangsaan Eropah dengan seorang pemuda Karo. Cerita itu ditulis sebagai kisah yang satire.  Wanita itu meminta pemuda itu untuk mencabut giginya dan memberikan kepadanya sebagai janji cinta. Seketika pria muda itu panik dan galau,  dia menggonggong seperti anjing sambil mengenakan rok.

 

Bintang Karo

Bintang Karo, No. 3. Oktober 1929

Pada artikel berjudul “Rahasia yang Panjang,” Bintang Karo mengangkat berita tentang pengawas Saulus yang tidak jujur dalam memilih 2 gadis dari Sekolah Perempuan di Kaban Djahe yang memenuhi syarat untuk pendidikan lebih lanjut di Sekolah Umum Perempuan di Padang Pandjang.

Sebelumnya, pada tanggal 11 Januari 1929, pengawas sekolah ini datang ke sekolah perempuan ini untuk mengikuti ujian. Tetapi sebelum ini dimulai dia bertanya tentang gadis-gadis Majoer dan Minta. Dan akhirnya ia berkesimpulan bahwa kedua orang ini dipilih karena mereka mendapat nilai tertinggi.

Para guru heran, karena keduanya adalah orang yang paling bodoh di kelas. Dan setelah kepergian pengawas, mereka  ditanyakan apakah mereka adalah kenalan dari sang pengawas.  Awalnya mereka tak mengaku dan mengatakan bahwa mereka berlatih matematika di rumah. Para guru merasa ada sesuatu yang tak wajar terjadi.

Surat dikirim ke Medan mempertanyakan keputusan ini. Tetapi tanpa tanpa hasil. Juga telah dikirim 2 surat ke Batavia. Dan tak juga ada balasan.  Para guru meminta seorang gadis Karo ikut dikirim dalam pendidikan lanjutan untuk Sekolah Umum Perempuan di Padang Panjang. Majoer dan Minta bukan perempuan dari suku Karo.

Bintang Karo menyatakan bahwa media cetak ini adalah dibentuk dari kumpulan “Pemoeda Karo“, “Pemoeda Aceh” atau “Pemoeda Soematera” yang berkumpul untuk memberi kontribusinya terhadap perluasan pengetahuan para pemuda. Disamping bergabung untuk  mengembangkan cinta kasih dan rasa persatuan.

Sebuah artikel oleh Sitti Hasnah tentang pernikahan uang mengambil judul “Perbedaan Antara Pribumi dan Kulit Putih.” Berurusan dengan orang kulit putih sangat menambah kesulitan.

Beberapa pencurahan puitis  dari “Arie” dengan puisi berjudul “A flower with thorns. ” Lalu puisi dari Dora berjudul “Geroeda Indonesia Moeda,” yang terbang menjulang tinggi dan sangat membanggakan bagi semua kalangan masyarakat.

Sumber bacaan : Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers.