Benarkah Jules Claine Orang Pertama Eropah yang Mengunjungi Karo? (Bahagian 1)

by
Pria Karo. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.
Pria Karo. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.

Pada tanggal 3 September 1891, Jules Claine mengaku di depan Kongres Internasional Orientalis di London, bahwa dirinya adalah orang Eropah pertama yang menginjakkan kaki ke dataran tinggi Tanah Karo. Sementara di tahun 1891, dataran tinggi Tanah Karo adalah wilayah merdeka atau independen yang belum bisa ditaklukkan oleh Kolonial Hindia Belanda.

C.J. Westenberg di bulan Desember 1891, membantah pernyataan itu. Diketahui, bahwa sejak awal Maret 1891 Westenberg sedang mempersiapkan untuk melaksanakan proyek rencana lama kunjungan ke negeri independen (merdeka) di dataran tinggi, dengan tujuan menjadi misi pengintaian di wilayah ini dan juga memetakan “pass Tjingkem”. 

Pada saat itu, dataran tinggi Karo belum bisa ditaklukan oleh Kolonial Belanda. Pada kesempatan inilah Claine datang kepadanya dengan surat rekomendasi residen untuk berpartisipasi dalam ekspedisi.

Buku Le Monde Illustré pada tanggal 07 November 1891 memuat perjalanan M.Jules Claine ke Sumatra dan selanjutnya memasuki dataran tinggi Tanah Karo. Tulisan ini dilengkapi oleh ilustrasi gambar yang dibuat oleh G. Scott dan Fill

Tentu pernyataannya ini adalah sebuah informasi yang memukau ditambah dengan banyaknya gambar dan barang-barang milik orang Karo yang Claine tampilkan. Benarkah Claine adalah orang Eropah pertama yang menginjakkan kakinya di dataran tinggi Karo?

Tulisan ini akan dibagi menjadi dua tulisan. Dibagian pertama akan dituliskan tentang catatan-catatan perjalanan Claine. Sementara di bagian kedua adalah bantahan C.J. Westenberg beserta koreksinya pada keterangan Claine yang dianggapnya tidak tepat seperti lokasi perkampungan dekat sungai, sistem pemerintahan masyarakat Karo dan lainnya.

C.J Westenberg membantahnya karena Westenberg lebih mengetahui keadaan dataran tinggi Tanah Karo. Dan kelak Westenberg diangkat menjadi Controleur Simalungun en Karolanden ketika dataran tinggi Tanah Karo mengalami kekalahan setelah pertempuran 23 tahun lamanya (Perang Sunggal dilanjutkan Perang Tandok Benua dan Perang dipimpin Kiras Bangun) melawan tentara Kolonial Belanda.

M. Jules Claine
M. Jules Claine

 

Jules Claine ke Sumatera

Dalam buku Le Monde Illustré yang terbit tanggal 07 November 1891 memuat perjalanan M.J. Claine ke Sumatra. Berikut dapat dibaca gambaran ringkas perjalanan Claine menuju ke Sumatera dan Tanah Karo, dimulai dengan kata pengantar :

Di antara para penjelajah yang baru saja kembali ke Prancis, kita harus menyebutkan terutama nama M. Jules Claine, yang baru-baru ini mengunjungi pulau Sumatera dan melintasi semenanjung Malaka, dimana dia membawa kembali koleksi berharga etnografis yang bernilai tinggi. Dari perjalanan-perjalanan ini, dua penghargaan tertinggi diberikan oleh Kongres Internasional Orientalis yang baru saja diadakan di London, dia menerima medali emas untuk perjalanannya, dan surat penghargaan untuk penemuan ilmiahnya.

Kami berharap pemerintah Prancis akan mengambil kesempatan ini untuk memberi hadiah kepada rekan senegaranya, yang keberhasilannya di Inggris sama dengan kehormatan negara kami.

Mr. J. Claine telah menulis kepada kami ringkasan perjalanannya, yang kami terbitkan kali ini sebagian dengan menyertakan foto-foto yang telah ia berikan kepada kami.

 

Sumatera

Perjalanan M. J. Claine.

Meninggalkan Paris pada Mei 1890, saya mendarat sebulan kemudian di Singapura. Dari sini saya selanjutnya berencana pergi ke barat laut Pulau Sumatra, untuk mengunjungi negeri Karo yang merdeka yang secara khusus telah memikat perhatian saya; itu sebabnya saya memutuskan untuk mengunjungi negeri mereka. Saya singgah di Penang dan mendarat dua hari kemudian di Labouan (Labuhan), pelabuhan Deli, di barat laut pulau itu, titik awal penjelajahan saya ke negeri Karo.

Saya tidak akan mengambil waktu pembaca saya dengan penjelasan tanggal dan rencana perjalanan yang tidak memiliki manfaat lain selain memperpanjang artikel ini secara tak terukur. Perhatian pertama saya adalah menghubungkan diri saya dengan pihak berwenang Belanda yang menunjukkan minat pada rencana besar saya, dan membantu saya dengan semua kekuatan mereka untuk melaksanakan tugas yang akan saya lakukan. Saya di sini memberikan penghormatan kepada Residen Deli, Kolonel Van de Pol, dan terutama Tuan Werstenbergh, Controleur Batak, yang bantuannya telah menjadi penyebab keberhasilan perjalanan saya.

Saya meninggalkan Medan, ibu kota daerah ini, untuk naik kereta api ke perkebunan di dekat negeri Karo. Lalu kami menggunakan mobil lokal kecil untuk membawa kami dalam waktu tempuh 2,5 jam menuju ke Deli-Touah (Deli Tua), ujung jalan. Di tempat ini, kami menunggu selusin penduduk asli yang akan mejadi pengangkut yang bertugas membawa barang bawaan dan persediaan kami ke desa Pertoembokem (Pertumbuken), persinggahan pertama di sebuah negeri yang masih kurang dikenal, meskipun para penghuninya telah terhubung dengan Sultan Deli, dan diikuti oleh Belanda.

Pertumbuken. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.

Karena pemerintah Belanda harus membayar kepada para Kepala Suku pribumi ini bagian yang jatuh pada mereka atas hibah tanah yang diberikan kepada orang-orang Eropa untuk penanaman tembakau. Controleur memanggil Kepala-kepala Suku Karo di kampung ini dan menyerahkan apa yang harus dibayar kepada mereka. Keadaan ini adalah kesempatan baik bagi saya untuk melihat semua pemimpin ini bersama-sama dan mempelajari karakter mereka yang paling menonjol.

Kepala kampung telah menempatkan kami di rumahnya sendiri, kami berencana tidak lama menetap di sana, sementara anak laki-laki menyiapkan makan malam kami, dimana beras menjadi santapan utama. Sehari setelah kami tiba, semua pemimpin belum juga seluruhnya tiba, saya mengambil kesempatan untuk melihat-lihat orang-orang di kampung ini dan hal-hal lain.

Kepala suku ini di kampung ini perawakannya kecil, pria yang sangat kurus dan berpenampilan lain. Kostum dari laki-laki ini terasa terlalu Melayu dibanding dengan pakaian orang-orang Eropa yang datang. Adapun para wanita muda, mereka terlihat cukup menyenangkan; sementara wanita tua mengenakan pakaian yang terdiri dari kain yang tebal berwarna gelap, dan dibalut  di sekitar tubuh dan diikat ke pinggang. Kemudian sebuah syal dipakai untuk menutupi bagian dada dan setengah bagian belakang, menyisakan bagian bahu dan lengan terbuka.

Di malam hari mereka melindungi tubuh mereka dengan menutupi diri mereka dengan syal ringan yang terbuat dari katun biru tua; dan penutup rambut mereka terdiri dari selembar kain dilipat. Dan anting-anting perak dikenakan oleh hampir semua wanita Karo dewasa.

Para Perempuan Karo. Menumbuk padi. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.
Para Perempuan Karo. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.

Akhirnya, pada hari ketiga, seorang kurir membawa pedang dari Kepala Kampung Boulou-Hauwer (Buluh Awar), yang telah melampirkan surat yang tertulis pada bambu, yang mengizinkan saya untuk menyeberang, dibawah arahan seorang kepala muda yang ia kirim ditemani oleh beberapa kuli barang bawaan.

Saya berbicara dengan orang-orang ini, yang tipenya terlalu campuran namun tetap berusaha mempertahankan karakter khas ras. Membuat saya berniat kuat untuk mempelajari mereka yang tetap mandiri, tidak dapat diubah melalui kontak dengan orang-orang di sekitar mereka.

Sekitar lima puluh pemimpin dari kampung-kampung hadir untuk menjawab panggilan dari Controleur yang  membuatnya menetap dalam beberapa hari untuk berurusan dengan orang-orang ini. Selanjutnya kami berangkat ke desa Djinkem (Cingkem), yang merupakan akses menuju ke dataran tinggi atau negeri Karo independen.

Terlepas dari urusan di desa ini, saya harus tetap di sana selama beberapa hari untuk menunggu kembalinya utusan yang dikirim oleh Controleur  ke kepala negeri independen, untuk mendapatkan dari mereka otorisasi bagi saya untuk memasuki negeri mereka, dan juga perlindungan mereka.

Sementara itu, berita yang mengkhawatirkan tiba dari dataran tinggi. Sebuah kelompok perampok Atchinese (Aceh) dan Gayoux (Gayo) memasuki daerah itu untuk menuju Danau Tobah (Toba) dengan menembus dataran tinggi, untuk menjarah atau menetap di sana. Berita ini membingungkan saya, karena orang Karo yang merdeka tampaknya terbagi oleh rasa takut diserang oleh orang Atchinese. Karena Belanda adalah musuh mereka, dan mereka akan melakukan apapun untuk rasa tidak senang mereka pada orang Belanda.

Saya berangkat ditemani oleh penerjemah dan dua puluh penduduk asli yang telah berbagi bagasi dalam paket sekecil mungkin untuk dipanggul karena gunung sangat terjal dan tertutup oleh hutan perawan yang menawarkan kesulitan besar untuk pendakian. Kadang kala batang pohon yang besar memiliki akar yang menjerat dan meningkatkan kelelahan di perjalanan. Setelah lebih dari enam jam berjalan, kami mencapai puncak gunung, lalu mulai turun di tengah-tengah labirin yang berbahaya, sering lewat di bawah batang pohon besar, di mana jalan membentuk lorong-lorong sempit hingga hanya orang yang tangguh mungkin bisa melewatinya.

Di sebuah tikungan, pemandu yang mengarahkan perjalanan menunjukkan kepada saya tempat di mana orang-orang Karo biasa bersembunyi ketika mereka ingin mencegah penyusup masuk dan katanya, lebih dari 150 orang para penyusup sudah terbunuh. Saya akui, bahwa saya tidak dapat mencegah memikirkan nasib buruk saya jika tiba-tiba saya menemukan pengkhianat dari para pemandu saya, dan secara refleks  saya memeluk senjata karabin  saya dengan erat.

Pendakian berbukit ini berlangsung dua jam, setelahnya tanah mendatar. Hutan menggantikan hutan, untuk menuju jalan ke dataran tinggi Karo yang independen, tujuan dari keinginan saya.

Dengan penuh kepuasan, saya melihat di depan saya dataran luas yang terletak di ketinggian 3.000 meter dari permukaan. Daerah ini dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan tinggi, yang melindungi para penghuni yang bahagia, yang lebih baik daripada semua benteng milik kita. Alam hebat yang membuat mereka dapat terlindungi, ini kami rasakan pada setiap langkah yang melelahkan yang kami yang lalui.

Di sebelah kanan dan kiri tampak di mana-mana puncak-puncak tinggi mendominasi, ini seperti begitu banyaknya penjaga yang tidak akan berpindah. Gunung berapi Pisoeh-Pisoeh dan Singgelang tampak seperti menara pelindung bagi orang-orang ini yang tanahnya hampir tidak dikenal orang Eropa! Banyak batang-batang pohon di sana-sini, menunjukkan  keberadaan desa-desa mereka dilindungi dari mata-mata yang mengintip, rumah-rumah mereka tersembunyi di bawah dedaunan abadi tropis.

Kami beristirahat di bawah tempat berteduh yang merupakan setengah perjalanan menuju desa. Yang memungkinkan kepala kampung Djava datang menemui kami untuk memimpin kami ke ladangnya.

Tidak mudah untuk masuk ke Dataran Tinggi Karo, tetapi akses ke desa mereka bahkan lebih sulit. Semua ini diciptakan dengan bantuan alam, untuk membuat akses hampir tidak mungkin tanpa pemandu yang ahli. Mereka dibangun di atas pulau-pulau di sungai dan hari ini hampir kering,  membentuk parit-parit yang sangat dalam di sekitar desa-desa, di mana kita hanya bisa menembus dengan jalur yang dialihkan.

Kadang-kadang tenggelam di bawah terowongan gelap yang berakhir di sebuah labirin yang ditutup oleh bambu-bambu runcing, berderet dengan pintu-pintu yang berakhir dengan duri-duri bambu yang tajam. Dengan bantuan pemandu, kami melewati semua penghalang ini, dan saya tiba di kampung, di tempat berkumpulnya semua penduduk yang ingin melihat orang asing hadir.

Tikar diatur di lantai dan tersedia semacam kursi dari kayu kasar yang aku duduki, sementara para pemimpin berjongkok di tikar. Setelah pujian biasa atas keberhasilan melewati perjalanan yang sulit, membuat saya sadar bahwa saya datang bukan sebagai pegawai orang Belanda atau perwira, bahwa tujuan saya adalah mengunjungi negeri mereka dengan semangat ilmiah dan ramah, untuk membuat negeri mereka dikenal di negara saya.

Kepala desa memberi saya ayam putih dan dua telur bersama beras sebagai tanda persahabatan dan selamat datang. Lalu tuak dalam kendi bambu berhiaskan semacam lingkaran tanduk kerbau dan tutup kayu dengan bentuk cukup elegan. Memiliki lubang untuk aliran keluar cairan.

Saya menghabiskan beberapa hari di desa ini, bertempat di rumah yang biasanya berfungsi sebagai penjara bagi para penduduk pribumi yang memasuki dataran tinggi tanpa izin. Agar tawanan tidak dapat melarikan diri, dipakai garpu kayu keras yang terpaku di sekitar pergelangan kaki-kaki. Penahanan ini dilakukan sampai pembayaran tebusan datang.

Terlepas dari keramahan penerimaan, saya harus menunggu kembalinya seorang kurir yang dikirim ke Sibrayac (Sibayak), atau kepala agung dataran tinggi, untuk dapat kembali melanjutkan perjalanan saya. Akhirnya pada suatu malam berikutnya saya mengetahui kedatangannya, yang diberi tanggung jawab untuk membimbing saya ke kampungnya di ujung dataran tinggi dekat Danau Tobah (Toba), yang saya usulkan selanjutnya menyeberang untuk mengunjungi Batak-Tobah (Toba) dan mencapai laut di Padang.

Di semua desa saya diterima dengan baik, meskipun ketidak percayaan itu sering dirasakan oleh banyak kepala desa yang sangat bangga pada kemerdekaan mereka. Di posisi ini, mewajibkan saya untuk menjaga kehati-hatian di malam hari, sementara rumah dan pintu keluar desa dijaga oleh para pemimpin yang bersenjatakan senapan, untuk menghindari serangan tiba-tiba.

Akhirnya saya mencapai Sirbaya (Seberaya), kampung utama di dataran tinggi dan bertemu Sibrayac (Sibayak) atau pemimpin besar dari penduduk berkisar 7.000 jiwa; daerah ini dibagi menjadi beberapa kampung, dipisahkan oleh pagar bambu, dan diperintah oleh kepala mereka masing-masing.

Seberaya. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.
Seberaya. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.

Rumah-rumah dibangun berpanggung, terbuat dari kayu; dinding-dindingnya condong ke luar, tinggi panggungnya sekitar enam kaki: atapnya sangat tinggi, ditutupi atap-atap; kedua ujung atap sangat runcing atau diakhiri oleh kepala hewan. Beberapa di bagian atas di tengah atap terdapat puncak yang menggunakan kepala binatang di setiap sudut. Patung-patung juga sering dihiasi di dinding luar rumah-rumah, untuk memasuki rumah dipakai tangga bambu dan sebuah panggung membentuk teras yang berfungsi sebagai tempat kerja bagi perempuan, dan terlihat mereka sering berdiri di sana.

Tidak jarang melihat sejumlah keluarga menempati satu ruangan rumah, masing-masing memiliki tempat yang pasti dan perapian yang berbeda di depan tempat bagian mereka. Lantai yang kokoh menutupi ruangan, dipisahkan oleh saluran yang berfungsi sebagai jalur dari satu ujung ke ujung lainnya.

Lumbung padi sebagian besar berbentuk bujur sangkar, terkadang berbentuk silinder. Ditempatkan di tempat yang paling nyaman untuk penggunaan umum.

Orang Karo terbagi Karo patuh (terhubung dengan Belanda maksudnya, red.) dan Karo independen atau Dataran Tinggi. Dari semua orang pedalaman, orang Karo adalah satu-satunya yang menolak kanibalisme selama lebih dari 200 tahun; mereka tentu yang paling beradab dan paling cantik.

Kulitnya cokelat, terkadang cukup jernih; rambutnya hitam dan kasar; matanya berwarna cokelat; tulang pipi yang menonjol dan hidung ada yang bengkok. Pakaian laki-laki terdiri dari kain dengan bahan kain katun biru, membalut badan hingga ke bawah; sebuah sabuk mengikat di pinggang; mengenakan jaket kecil dengan lengan yang sempit, dan sering kali dikenakan syal katun di dada, juga dikenakan seperti selendang, dan surban di kepala melengkapi penampilan mereka. Pedang dan pisau selalu ada di pinggang terselip di sabuk; sementara persenjataan lain adalah dua tombak untuk berjaga-jaga saat perang.

Gadis-gadisnya memakai kain yang lebih gelap dan lebih tebal; syal berada di pundak dan lainnya digunakan di kepala untuk melindungi mereka dari sinar matahari dan untuk menopang anting-anting perak mereka. Berat anting-antingnya hampir dua pon, yang diberikan untuk mereka pada usia pubertas.

Ada kejadian di tempat umum yang membuat saya sangat ingin tahu. Seorang gadis itu diikat ke tiang kayu yang sangat kuat dan letaknya di tengah alun-alun desa. Tukang pandai perak akan membuat lubang di telinga bagian atas. Ditandai untuk ditusuk untuk membuat lubang. Ini adalah tempat salah satu bagian dari perhiasan berbentuk spiral (padung maksudnya, red.).

Menghiasi perempuan. Menumbuk padi. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.
Menghiasi perempuan. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.

Kemudian titik yang sama dicat di tiang, dan gadis itu berbalik membantu menyatu dengan tiang dan titik yang ditandai dipalu. Hiasan ini hanya bisa dihapus setelah kematian wanita dengan memotong telinganya.

Ibu-ibu terlihat berbeda karena mereka tidak menganggap perlu untuk menutupi payudara mereka. Gadis-gadis yang akan menikah mengenakan kalung emas dan perak yang mereka kenakan pada pernikahan mereka. Pada persetujuan pernikahan, pihak calon suami membayar jumlah yang bervariasi antara 50 dan 300 dolar.

Anak laki-laki sampai sebelum pernikahan mereka, mereka biasa tinggal di sebuah tempat yang diperuntukkan bagi anak-anak lajang yang sebagian besar terletak di pusat kampung. Kadang bangunan ini memiliki dua lantai, tetapi tidak pernah memiliki teras seperti kita lihat di depan semua rumah. Teras itu merupakan hak istimewa anak perempuan atau orang yang sudah menikah.

Poligami meskipun sering ada, tidak bersifat umum. Wanita yang sudah menikah memiliki posisi yang sama dengan wanita yang ada di Eropa, dan gadis-gadis muda menikmati banyak kebebasan.

Ketika seseorang meninggal, biasanya diletakkan di sisi sebuah bangunan. Sebatang kayu besar dilubangi dan dibentuk seperti bentuk perahu yang dihiasi di bagian depan dan di belakang dengan patung-patung. Bagian tengah perahu ini ditusuk di dasar lubang yang dihubungkan ke tanah oleh bambu berlubang, yang digunakan untuk mengalirkan cairan yang dihasilkan dari mayat yang ditempatkan di sana.

Dari waktu ke waktu, keluarga melihat bagaimana keadaannya, dan ketika hanya tinggal kerangka, tengkorak diangkat. Dan ditempatkan dalam kotak khusus kecil, sehingga dapat digantung di langit-langit rumah keluarga. Kadang-kadang juga, terutama bagi para kepala suku, bibir almarhum yang tersisa digunakan untuk membuat gelang bagi prajurit, yang membuat mereka, kata mereka, tak terkalahkan.

Orang Karo ahli dalam mengerjakan besi. Mereka membuat senjata dengan sangat baik. Dan dengan  bahan logam mulia, mereka membuat gelang emas untuk pria, kalung dan anting-anting untuk wanita, serta gelang perak yang mereka pakai menghiasi senjata mereka.

Karya sastra mereka cukup maju: mereka memiliki karakter tulisan sendiri, tulisan yang teratur dan rapi; mereka mengolah puisi, memiliki catatan sejarah yang dituliskan pada buku-buku yang terbuat dari kulit kayu atau kertas buatan mereka. Tetapi sangat jarang mereka terlibat dalam ilmu sihir. Buku-buku mereka berlimpah tentang obat-obatan yang mereka kembangkan dengan baik. Selama beberapa abad mereka telah mengetahui asal parasit penyakit epidemi, seperti yang ditunjukkan oleh ilustrasi yang terkandung dalam naskah yang saya miliki.

Para wanita menenun semua barang yang mereka pakai dan menghabiskan sebagian dari hidup mereka menumbuk beras di batang pohon yang dilubangi hingga berongga yang menjadikannya seperti mortir dan di sini mereka dapat bekerja bersama. Alat menumbuk padi ditemukan di setiap desa, tiang-tiang panjang digunakan sebagai alu.

Menumbuk padi. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.
Menumbuk padi. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.

Agama terbatas pada kepercayaan yang samar-samar tentang keabadian jiwa dan beberapa praktik takhayul, tetapi tanpa fanatisme apa pun. Organisasi politik hampir komunal; keluarga diperintah oleh kepala keluarga, kepala desa adalah kepala yang dipilih para kepala keluarga, dan kepala dataran tinggi dipilih oleh kepala desa yang mewakili populasi dua puluh ribu jiwa. Kepala dataran tinggi, atau ketua agung, disebut Sibrayac (Sibayak).

Hukuman mati tidak ada di daerah ini, terlebih lagi kesempatan untuk berbuat salah jarang terjadi. Karena tidak ada yang menderita atau sengsara dan tidak ada keserakahan yang diinginkan oleh orang lain.

Perpecahan akibat beda pendapat politik atau agama tidak ada atau nyaris tidak ada. Komunitas jarang bermasalah antar keluarga.

Kuda poni dibesarkan di negeri ini, yang bentuknya meskipun kecil namun sangat kuat. Beberapa orang Karo meminum susu. Kerbau untuk pekerjaan lapangan, terdapat jenis babi hitam dan dilengkapi ayam yang hidup di pekarangan. Begitu juga terdapat kambing. Makanan utamanya adalah beras, yang juga dimakan semua orang di Malaysia.

Saya akhirnya sangat menyesal karena menyerah akan rencana saya untuk mencapai dan menyeberangi Danau Tobah (Toba), karena terhalang keberadaan orang Atchinese (Aceh) dan Gayoux (Gayo) yang bermusuhan dan geram karena dihantam oleh orang Batak. Dan saya harus kembali dengan rute yang sama.

Dan saya membawa dari negeri ini koleksi etnografi yang bagus, terdiri dari senjata, naskah, alat musik, perhiasan, jimat, barang, dan lain-lain. Serta tak lupa tongkat yang indah dihiasi dengan emas dan perak, surat-surat bambu dan deklarasi perang, termasuk kendi aren.

Senang telah mengunjungi negeri ini. Saya kembali ke Pinang (Penang), untuk pergi lagi mengunjungi negara Orangs-Oeloes di Sumatra Selatan.

(Claine.)

 

Misi Claine ke Dataran Tinggi Karo

Dalam buku Seaman Missions Downs Work Ship Batak-Karo Men Women Village oleh Jules Claine halaman 335 yang diterbitkan pada tanggal 12 September 1891 juga ada diceritakan sekilas perjalanan Jules Claine ke daerah Tanah Karo.

Kala itu Jules Claine masih berumur 35 tahun. Tulisan berikut ini menjadi merupakan gambaran keadaan masyarakat Karo saat itu dari pengamatan Claine :

Julies Claine meninggalkan Paris di bulan Mei 1890, dan tiba di Singapura sebulan kemudian. Lalu ia menuju Pulo Penang dan mengurus perjalanan untuk menuju Sumatra. Ia tiba di Deli. Lalu ia menghubungi penguasa Belanda kala itu untuk mendapatkan gambaran kehidupan masyarakat lokal dan memutuskan memasuki dataran tinggi Tanah Karo.

Mula-mula ia menuju Djinkem (Cingkem). Ia menunggu beberapa hari sampai kurir yang telah berangkat kembali. Ia menanti ijin memasuki dataran tinggi Karo, dan tentunya adanya jaminan keselamatan selama berada di wilayahnya.

Pembawa pesan akhirnya kembali bersama beberapa orang yang akan menjadi pembawa barang. Ada beberapa berita yang mengkhawatirkan dari dataran tinggi akan adanya sebuah gerombolan dari Aceh dan Gayo yang sedang menuju ke arah Danau Toba.

“Sementara itu kami mendapat kabar yang mengkhawatirkan dari dataran tinggi bahwa sekelompok perampok, orang-orang Achene dan Gayioux, berusaha untuk memaksa memasuki celah di seberang negeri Karo, ke arah Danau Toba, untuk penjarahan atau penaklukan. Orang-orang Achene, yang menjadi musuh Belanda, akan membalas dendam pada orang Batak atas hubungan persahabatan mereka dengan Belanda, dari siapa mereka membeli senjata api dan amunisi”

Pada hari ketiga mereka tiba di Buluh Awar dan dengan sebuah ijin yang tertulis di sebuah bambu mereka dipersilahkan masuk. Pagi harinya mereka memulai perjalanan yang lebih berat, menembus hutan belantara dan terjalnya tebing pegunungan. Selama 6 jam mereka harus bekerja keras dan berhati-hati.

Pendakian itu sangat sulit dan melelahkan, jalan yang curam dibebani dengan batu-batu besar di beberapa tempat, dengan hutan lebat dan pohon-pohon dengan ukuran sangat besar, yang akar-akarnya saling berkaitan, serta tanaman-tanaman merambat yang kusut, merupakan rintangan yang menyusahkan; dan dengan  air dari tanah yang basah.

Kepala yang memberi panduan menunjukkan tempat di mana orang Karo akan melakukan penyergapan untuk menghentikan musuh, dan di mana, katanya, lebih dari seratus lima puluh orang telah tewas. Saya merasa bahwa saya harus memiliki sedikit kesempatan untuk melarikan diri hidup-hidup.

Perjalanan selanjutnya menghabiskan dua jam: kemudian hutan digantikan oleh hutan yang lebih terbuka dan segera saya berada di dataran tinggi yang sangat saya inginkan untuk dijangkau.

Tetapi akhirnya, saya masuk ke dalam kampung dan dikelilingi oleh seluruh penduduk yang ingin melihat orang asing itu. Tikar tersebar di tanah, dan kursi pendek kasar ditempatkan untuk tempat duduk saya, sementara penduduk asli berjongkok di atas tikar. Kepala kampung memberi saya sambutan, dan saya merasa nyaman dengan sebagai tamu.

Saya tinggal sampai Sibrayac (Sibayak),  kepala penguasa besar negara itu mengizinkan saya untuk melangkah lebih jauh. Dia datang secara pribadi untuk membawa saya ke kampungnya yang terletak di ujung lain dataran tinggi, dekat Danau Toba.

Di setiap desa, saya diperlakukan dengan baik, tetapi banyak orang Karo tampaknya tidak mempercayai saya. Saya diam dan berhati-hati, sambil menjaga serangan tiba-tiba. Di mana pun aku tidur, senjataku yang dimuat tergeletak di sampingku, dan rumah itu selalu dijaga oleh para kepala desa dengan senapan di tangan mereka.

Jadi saya tiba di Sirbaya (Seberaya), ibu kota kepala desa, atau kota, dengan populasi sekitar 7.000, kediaman Sibrayac (Sibayak), atau grand chief. Di sini saya membuat studi lengkap tentang kebudayaan asli Karo.

Di depan rumah panggung ada teras dan menaikinya dengan tangga bambu. Interiornya adalah satu ruangan besar, dengan langit-langit papan yang kokoh, dan dengan parit di tengah-tengah lantai, berfungsi sebagai lorong dari ujung ke ujung. Tempat tinggal ini ditempati oleh kepala keluarga, dengan putra dan putri yang sudah menikah dan anak-anak mereka, masing-masing cabang keluarga memiliki tempat yang ditentukan.

Mereka melewatkan sebagian besar hari di teras luar bangunan, dan kadang-kadang tidur di sana pada malam hari. Selusin pasangan menikah, mungkin menghuni satu tempat tinggal seperti itu.

Lumbung padi, atau tempat menyimpan beras, baik berbentuk kotak atau silinder, ada di sana-sini. Tidak ada pencurian yang ditakuti, dan tampaknya tidak ada kemiskinan.

Rumah tangga yang banyak berada di bawah kekuasaan patriarki. Para pria muda yang belum menikah tinggal bersama di rumah besar, kadang-kadang terdiri dari dua lantai, yang khusus untuk mereka.

Poligami tidak biasa, tetapi sering terjadi. Istri memiliki kebebasan yang dapat ditoleransi, dan anak perempuan menikah hanya dengan persetujuan mereka sendiri.

Orang-orang dari ras ini memiliki perawakan dan bentuk yang baik, dengan kulit coklat jernih, panjang hitam, dan hidungnya sering bengkok — secara keseluruhan, setuju baik terlihat. Pakaian pria itu adalah kain atau sarung berwarna biru gelap, diikat dengan sabuk. Sebuah rompi kecil dengan lengan yang ketat, selendang biru, dan sorban. Pedang dan pisau tersangkut di ikat pinggangnya.

Wanita yang sudah menikah tidak menutupi dada mereka; gadis atau wanita yang belum menikah menutupnya, dan dibedakan juga dengan mengenakan hiasan emas dan perak, yang mereka kenakan ketika menikah.

Konstitusi politik Karo adalah republik, seperti halnya kepala keluarga memilih kepala desa, dan kepala desa memilih Sibraync (Sibayak), atau kepala agung yang memerintah negeri, yang jumlahnya lebih dari dua puluh ribu jiwa. Kejahatan jarang terjadi di antara mereka, dan hukuman mati tidak ada.

Kitab pengobatan. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.

Orang Karo kaya akan sastra, memiliki buku-buku naskah yang ditulis di atas bambu, atau di kulit kayu, di kulit domba, dan pada bahan-bahan lainnya. Setiap kepala desa menulis kronik atau catatan peristiwa sosial penting, yang akan diberikan kepada penggantinya.

Perang atas penyakit epidemi secara alami menjadi tempat yang besar dalam sejarah lokal ini. Saya dihadapkan dengan sebuah buku kuno yang saya bawa ke Eropa, berisi kisah wabah, dan buku ini diilustrasikan oleh gambar-gambar yang sangat aneh, yang terlihat menunjukkan bahwa dokter Karo sejak dua abad yang lalu, telah mengantisipasi teori modren tentang kuman dan parasit.

Bersambung ke bahagian kedua