Ajakan Beru Bangun Bagi Kemajuan Perempuan (1931)

by
ilustrasi : Gadis Karo (Foto oleh Schmid)
ilustrasi : Gadis Karo (Foto oleh Schmid)

Perempuan-perempuan di Koran Bintang Karo.

Surat kabar  Bintang Karo  tidak saja menjadi media bagi masyarakat Karo tapi juga media perjuangan di Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara). Dari susunan redaktur, para jurnalis serta kontributornya tidak semua posisi ini diisi oleh orang Karo saja. Ada Marah Oedin Harahap sebagai pemimpin redaksi Bintang Karo.

Begitu juga ada banyak perempuan  menduduki posisi di koran ini seperti  Zabedah Sjarif  sebagai editor dan Paulina Siregar  sebagai co-editor. Ada  Tengkoe Ramsiah  yang merupakan seorang penulis perempuan yang telah banyak menulis di koran-koran di Medan. Juga ada  Sitti Hasnah,  P. Beroe Bangoen  dan lain-lain.

Koran Bintang Karo menyatakan bahwa media cetak ini dibentuk dari kumpulan “Pemoeda Karo,“ “Pemoeda Aceh,” atau “Pemoeda Soematera” yang berkumpul untuk memberi kontribusinya terhadap perluasan pengetahuan bagi para pemuda/i. Disamping bergabung untuk mengembangkan cinta kasih dan rasa persatuan.

Di bawah penanggung jawab  Mahat Singarimboen, Bintang Karo memberikan kesempatan kepada kemajuan bagi perempuan. Banyak tulisan-tulisan dalam Bintang Karo yang mengangkat permasalahan  pendidikan bagi perempuan. Seperti koran  Bintang Karo no. 3  terbitan Oktober 1929 yang menyoroti ketentuan di  Sekolah Perempuan Kaban Djahe  untuk penentuan melanjutkan sekolah ke Sekolah Umum Perempuan di Padang Pandjang.

Sementara koran  Bintang Karo no.11  yang terbit pada bulan November tahun 1929 mengangkat wawancara dengan  Sibayak Lingga.  Salah satu topik wawancara adalah tentang  sekolah tenun Karo  di Lingga. Karena sekolah tenun Karo ini didirikan untuk memberikan pelatihan kejuruan yang tepat untuk para  perempuan. Hasilnya tidak sia-sia, karena istri pendeta  Van den Berg  dari Kaban Djahe ikut juga sibuk melatih ibu-ibu rumah tangga dan lain-lain.

Kolom sastra seperti  puisi  juga menjadi daya tarik para perempuan di Sumatera Timur untuk menuliskan gagasannya. Keberanian  perempuan dalam menulis ini tentu karena koran Bintang Karo memberi ruang lebar bagi bangkitnya partisipasi perempuan dalam memajukan bangsanya.

 

Puisi “Adjakan.”

Dalam jurnal penelitian yang berjudul “Perempuan dan Pendidikan : Gerakan Perempuan dalam Puisi “Tjemboean” (1919) dan “Adjakan” (1931)” yang ditulis oleh  Sartika Sari, Aquarini Priyatna, dan  Teddi Muhtadin  dari Program  Pascasarjana Sastra  Kontemporer, Fakultas  Ilmu Budaya Universitas  Padjadjaran didapatkan pemahaman bahwa  puisi “Adjakan”  yang dimuat oleh koran  Bintang Karo  menjadikan  pendidikan sebagai siasat  dan  alat bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya. Koran ini terbit di bulan  Maret 1931.

Pada  kurun waktu  1919-1940-an, ada juga beberapa puisi perempuan yang dimuat di antaranya di surat  kabar  Matahari Indonesia  (1929),  Poestaha  (1929),  Soeara  Dairi  (1930),  Kompas  (1925),  Medan Rakyat  (1916),  Tjermin Karo  (1924),  Pandji  Kita  (1938),  Pedoman Masyarakat  (1939),  Boroe  Tapanoeli  (1940),  Bintang Oemoem  (1941) dan lain-lain. Namun  sebagian besar  puisi-puisi tersebut membicarakan percintaan, persahabatan, dan rasa rindu pada kampung halaman.

Sementara ide puisi yang mengangkat perlunya memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, paling kuat dimunculkan dalam puisi  “Tjoemboean” yang terbit di surat kabar Perempoean Bergerak  pada edisi  6 Juli 1919 dan “Adjakan” yang terbit di surat kabar Bintang Karo edisi Maret 1931.

Tentu ada perbedaan mencolok dari surat kabar  Perempoean Bergerak  yang tentu mengkhususkan diri mengangkat pemberitaan tentang perempuan dibandingkan dengan surat kabar  Bintang Karo  yang tak saja membicarakan perempuan namun juga berbicara tentang kebangsaan, adat, gender, ekonomi dan lain-lain. Dan dalam edisi yang sama di bulan Maret itu juga, puisi “Adjakan” bukan hanya sebuah ajakan  Beroe Bangun  sendiri namun juga disertai dengan beberapa artikel yang kuat pada persoalan futuristik. Masing-masing tulisan menyertakan hasil analisis kritis terhadap situasi yang ada masa pada itu. Bersamaan dengan  pemikiran-pemikiran itu juga disampaikan sejumlah pandangan tentang masa depan. Bahkan koran Bintang Karo no.2    yang terbit bulan Febuari 1931 telah menyatakan kemerdekaan  “Indonesia adalah cita-cita siang dan malam.”

Berastagi di tahun 1977
Berastagi di tahun 1977

Puisi “Adjakan” yang ditulis oleh P. Beroe Bangoen  adalah kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi kaum ibu khususnya, pendidikan tidak  hanya dijadikan kebutuhan tersier tetapi menjadi kebutuhan primer untuk mencapai kesejahteraan hidup. Puisi tersebut  menjadikan pendidikan sebagai alat bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya,  termasuk agar memiliki ruang gerak di luar ruang domestik.

 

Adjakan (Doenia Istri)

Oleh P. Beroe Bangoen

 

Awal moelanja soerat direka

Diambil kertas tempat berkata

Dengan pena tinta beserta

Tiga jari poela memegangnja

 

Sebeloemnja maksoed hamba oeraikan

Kehadapan sahabat handai dan taoelan

Lebih dahoeloe kita seroekan

Barang jang salah minta maafkan

 

Kehadirat Allah beta katakan

Limpah karoenia Ia toeroenkan

Bagi kita Ia berikan

 

Soepaja selamat kita semoea

Tidak koerang soeatu apa

Moerah rezeki dekat bahagia

Hidoep senang atas doenia

 

Koeoeraikan poela apa hadjatkoe

Kepada toean, teman sekoetoe

Djangan ketinggalan kita kaoem iboe

Boeat menoentoet pengadjaran ilmoe

 

Ilmoe itoe harta jang kekal

Tentoelah ia djangan tertinggal

Walaoe di darat ataoe di kapal

Itu boleh mendjadi bekal

 

Sebab kaoem iboe zaman sekarang

Menoentoetlah ilmoe amatlah djarang

Hingga pengetahoean amatlah koerang

Ambilah tjermin ke tanah Seberang

 

Tapi kalaoe kita rajin beladjar

Segala ilmoe dapat dikedjar

Sehingga boleh djadi pengadjar

Kalaoe kita soedahlah pintar

 

Kalaoe kita soedahlah pandai

Segala maksoed moedah tertjapai

Dapat naik sebagai toepai

Baoenja poen haroem bak boenga teratai

 

Dari sebab itu wahai kawankoe

Mari kita satoe persatoe

Dengan segera rentjana ilmoe

Soepaja madjoe kita kaoem iboe

 

Sebab kita lihat kaoem laki-laki

Sangat soenggoeh keras di hati

Menoentoet ilmoe berhati-hati

Sesoedah dapat baroe berhenti

 

Sebeloem dapat moendoer tak soeka

Toentoetlah ia sehabis tenaga

Djangan lekas berpoetoes asa

Sebab ilmoe itoe pangkal bahagia

 

Ilmoe itoe sangat berharga

Mahal dari emas soeasa

Ataoepoen dari intan moetiara

Pengetahoean itoe lebih bergoena

 

Kalaoe ilmoe ada di dada

Serta manis toetoer bahasa

Moerah dapat perak tembaga

Didapat dengan djalan moelia

 

Di sini rentjanakoe habislah soedah

Kepada sahabat akoe bermadah

Toean membatja djanganlah goendah

Sebab karangan banjak jang salah

 

Salahnja itoe minta ampoeni

Djangan goesar di dalam hati

Sebab kita sama mengetahoei

Pikiran datang dari hati soeci

 

Samboetlah salam dari pada beta

Wahai pembaca oesoel djoega poeta

Beserta kawan semoea rata

Besar, kecil, toea dan moeda

 

*Tot Ziens

(P. Beroe Bangoen)

Koran Bintang Karo

(edisi Maret 1931, halaman 3)

Puisi “Adjakan” adalah sebuah ajakan kepada para ibu-ibu agar tidak  berhenti dalam menuntut ilmu. Ada rasa sungkan di bait-bait awal puisi seperti bentuk keragu-raguan yang dirasakan penyair ketika menulis. Dilengkapi dengan permohonan  maaf kepada para pembaca jika ada terdapat  kesalahan yang ditemukan dalam tulisan puisinya. Selanjutnya  ucapan syukur  atas limpahan rahmat yang telah diberikan oleh penguasa alam dan doa bagi penyair dan para pembaca. Ini seperti umumnya  mantra-mantra  ataupun pesan pembuka yang selalu diucapkan dalam masyarakat adat di Sumatera Timur.

Barulah setelahnya ide tentang pendidikan disampaikan secara lugas dengan menititikberatkan perlunya pendidikan bagi kaum ibu agar para ibu tidak ketinggalan. Karena ilmu adalah harta yang abadi. Pengajaran yang baik akan membuat pengetahuan  bertambah. Bahkan perlu mengejar ketertinggalan dari negeri seberang.

Beru Bangun  mengajak para ibu-ibu untuk bersatu agar semua kaum ibu bisa maju. Tetap menuntut ilmu walau tubuh kian renta karena mengejar ilmu adalah pangkal bahagia. Bahkan pengetahuan lebih mahal dari emas permata.

Karena kalau para ibu sudah berilmu, ia bisa menjadi  pengajar yang baik. Tidak saja mengajar bagi orang lain tapi juga mengajar bagi anak-anaknya agar rajin dan pandai. Sehingga cita-cita akan tercapai dengan pengetahuan dan semangat mencari ilmu yang ditularkan oleh para ibu-ibu kepada anaknya. Sehingga murah dapat “perak dan tembaga” di jalan yang mulia.

Puisi “Adjakan”  menyampaikan kesadaran bahwa perempuan yang telah menjadi ibu tidak hanya berhenti posisinya sebagai ibu. Namun ia juga dapat memberi kontribusi bagi kemajuan keluarga dan sekelilingnya juga bangsa.

Puisi “Adjakan” telah dapat  memprovokasi para ibu-ibu agar maju  dalam pengetahuan agar maksud dan tujuan hidup dapat tercapai. Sehingga bila sudah pandai para ibu yang bersatu dapat maju seperti kaum laki-laki lainnya.

Dapat Naik Sebagai Toepai.

Puisi “Tjoemboean”sedikit berbeda dengan puisi “Adjakan” walau sama berbicara tentang perlunya pendidikan bagi perempuan. Dalam puisi “Tjoemboean” yang menjadi subjek adalah para  perempuan yang belum menikah atau masih bersekolah. Puisi “Tjoemboean” mengedepankan sejumlah kritikan terhadap perilaku perempuan yang memilih  putus sekolah hanya karena ingin menikah.

Sementara puisi “Adjakan” menggunakan perempuan yang sudah menikah atau telah menjadi seorang  ibu sebagai subjek. Puisi “Adjakan” menekankan ajakan pada kaum ibu agar tidak berhenti menuntut ilmu.

Kedua puisi ini pernah hadir menjadi penyemangat dan suluh penerang dalam  memajukan para perempuan di jamannya.

Kalaoe kita soedahlah pandai

Segala maksoed moedah tertjapai

Dapat naik sebagai toepai

Baoenja poen haroem bak boenga teratai.

Pada akhirnya kini kita rasakan,  puisi “Adjakan”  telah berhasil menjadikan  pendidikan sebagai siasat  sekaligus  alat bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya. Naik dan melompat sebagai ToepaiSungguh  PBeroe Bangoen telah berpikir lebih maju pada jamannya.

 

Catatan : *Tot Ziens – sampai bertemu lagi.

 

Sumber bacaan :

Koran Bintang Karo

“Perempuan dan Pendidikan : Gerakan Perempuan dalam Puisi “Tjemboean” (1919) dan “Adjakan” (1931)” oleh  Sartika Sari, Aquarini Priyatna, dan  Teddi Muhtadin, Program  Pascasarjana Sastra  Kontemporer, Fakultas  Ilmu Budaya Universitas  Padjadjaran.