Dari Menang Jadi Monang Sinulingga

by
Menang atau Monang Sinulingga (kanan)

Menang Sinulingga lahir tahun 1946 di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Memulai prestasinya sebagai pecatur lokal di beberapa turnamen yang diselenggarakan di Kabupaten Karo. Prestasi sebagai pemenang di Kabupaten Karo membawa Menang Sinulingga ke kancah percaturan tingkat Propinsi Sumatera Utara.

Secara perlahan-lahan gelar Menang Sinulingga menjadi salah satu nama yang diperhitungkan di tingkat Sumatera Utara karena beberapa kali memenangkan turnamen catur tingkat Sumatera Utara. Sehingga nama Menang Sinulingga terdaftar sebagai pemain nasional, karena telah berhasil mengalahkan beberapa pemain catur tingkat nasional.

Sejak kemunculannya pertama kali di gelanggang catur nasional pada tahun 1972, Menang Sinulingga langsung merebut perhatian para pengamat catur. Sebagai pemain alam, pergerakan buah caturnya sering membuat lawan-lawannya merasa terkejut. Antara lain pengorbanan buah catur yang sudah menjadi ciri permainan Catur Karo. Buah catur “tidak begitu berharga” sehingga langkah pengorbanan (erbuang) merupakan bagian dari taktik.

“Pemain Alam”

Tentang istilah “pemain alam” ini tidak saja disematkan pada Menang Sinulingga tapi juga pada pecatur Karo lainnya mulai dari Narsar Karo-karo, Si Toemboek, Si Ngoekoem, Si Merlep Ginting dan lainnya.

Bahkan tidak sah bagi pecatur dunia di masa Kolonial Belanda kalau belum melawan pecatur-pecatur alam ini. Seperti Narsar Karo-karo yang diundang bermain di Batavia tanggal 6-7 Januari 1914. Lanjut bermain di Semarang, Magelang hingga Surabaya. Semuanya kebanyakan dimenangkan oleh Narsar. Termasuk menang atas Henrik DB. Meijer (wakil presiden dari Chess Club Batavia). Terkecuali imbang dengan Mr. G. Barth.

Bahkan rasa penasaran itu terus ada hingga Henrik DB Meijer menemui Narsar di Berastagi awal tahun 1923. Hasil pertandingan imbang (1-1). Meijer melaporkan, Narsar saat itu jarang sekali bertanding catur selama beberapa tahun. Ia sibuk bekerja di kebunnya. Tapi Meijer mengakui meskipun kini Narsar kurang banyak berlatih, tapi ia tetap lawan berbahaya.

Bukan saja Meijer yang datang ke Taneh Karo tapi juga Boris Kostic. Bersama pemandu seorang Belanda, hari Minggu 4 Oktober 1925, Kostic tiba di Berastagi.

Menurut Koran De Sumatera Post bertanggal 5 Oktober 1925, pecatur Serbia ini dikalahkan telak oleh Narsar. Ia kalah dua kali.
Dan dalam kesempatan kunjungan ini, Kostic juga menantang pecatur Karo lainnya yakni Si Toemboek dan Si Ngoekoem di Medan pada tanggal 7 Oktober 1925.

Prof. Dr. Max Euwe juga datang ke Medan pada Agustus 1930. Dalam turnya di Jawa ia bisa menang. Tapi ia bermain draw dengan Si Toemboek.

Teman senegara Euwe bernama Lodewijk Prins (Belanda) datang ke Indonesia Desember 1955. Master Internasional Lodewijk Prins ini selama 2,5 bulan ia melakukan kunjungan ke Indonesia.

Di Jakarta ia bermain simultan dengan 60 pemain dari jam 18.00 hingga jam 6 pagi. Tiap pemain yang melawannya diharuskan membayar uang pendaftaran.

Biaya Prins selama di Indonesia ditanggung oleh ‘Stichting Culturele Samenwerking’ Indonesia-Belanda, yang sebahagian besar ditanggung oleh pihak Belanda. PB Percasi hanya menanggung ongkos sewa ruang main dan itu didapat dari penonton dan uang pendaftaran.

Prins bermain di Jakarta, Bogor, Bandung dan Semarang. Namun yang tetap jadi pertanyaan, “apakah pemain-pemain alam Karo masih kuat?” PB Percasi menawarkan main lawan jago dari Karo.

Tentu Prins bersedia. Gengsi dong bila menolak. Apalagi Euwe pernah bertanding dengan pemain alam dari Karo.

Merlep (kiri) melawan Prins.

Merlep Ginting didatangkan. Sama halnya dengan Euwe, maka Prins tak berhasil menang : 1-1 juga. Pada partai pertama Prins menang. Yang kedua, Merlep menang. Rupanya Merlep sudah lebih kenal ciri-ciri permainan Prins.

Nama Menang jadi Monang

Tahun 1972 menampilkan 3 Master Nasional baru diantaranya pemain alam Menang Sinulingga. Tahun 1974, Menang Sinulingga berhadapan dengan Grand Master Rusia Paul Keres yang kebetulan datang ke Indonesia untuk melakukan “demonstrasi simultan.”

Sewaktu Paul Keres memulai pertandingan, Sinulingga tidak mengenal dan belum pernah melihat cara pembukaan seperti itu. Boleh jadi perasaan inilah yang membuat dia menjadi gugup. Alhasil dalam perandingan “demonstrasi simultan itu” ini Menang Sinulingga menjatuhkan rajanya.

Keberhasilan Menang Sinulingga di pentas catur nasional membawa nama Indonesia ke panggung Olimpiade pada tahun 1974 di Perancis dan Olimpiade 1984 di Yunani. Selain kedua negara tersebut Menang Sinulingga juga telah membawa nama Indonesia ke beberapa negara seperti Hongkong, Banglades dan Malaysia.

Di Banglades, Menang Sinulingga akhirnya dianugrahkan gelar IM (International Master). Dan nama yang dikenal sejak 1972 adalah Monang Sinulingga. Mengapa berubah?

Dalam buku “Sejarah Catur Indonesia” yang ditulis oleh Ds. F.K.N. Harahap pada halaman 182 dan 183, F.K.N Harahap mengakui bahwa sejak tahun 1972, nama Menang telah dikenal menjadi Monang Sinulingga melalui tulisan-tulisannya. Keterangannya adalah sebagai berikut :

“Si Pemain Alam” sementara masih “Cresecendo” demikian judul dalam sebuah tulisan di Koran Suara Karya (16 Juni 1972), yang waktu itu saya buat mengenai sebuah partai dari Monang Sinulingga, yang untuk pertama kali muncul di Jakarta. “Pemain alam” hingga kini menjadi julukan lazim terhadap Monang Sinulingga.

Orang-orang Karo pada Kejurnas 1984 di Jakarta mengingatkan kepada saya bahwa tadinya nama Monang adalah Menang, tetapi karena saya terus menerus menulis dalam harian-harian “Monang,” maka kini namanya di Sumut sudah lazim menjadi Monang!

Ds. F.K.N Harahap kelahiran 5 Maret 1917 di Depok (Jawa Barat). Tahun 1955 terpilih menjadi Ketua Umum PB Percasi. Menulis di berbagai media. Lebih 1.000 tulisannya dalam 28 harian dan majalah dalam negeri dan 5 majalah di luar negeri. Menulis buku-buku catur sejak 1958.

IM Monang Sinulingga, pada 11 Juni 2008 meninggal dunia dalam usia 62 tahun setelah menderita diabetes basah yang mengerogoti tubuhnya lebih dari sepuluh tahun lamanya. Dia dimakamkan di desa kelahirannya, Lingga. Monang Sinulingga meninggalkan seorang isteri, Piah Malem br Ginting dan 3 putri dan satu putra.

Tulisan lainnya tentang Monang Sinulingga dapat dibaca pada link berikut : klik